OLEH BAYU PRATAMA

Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru

23 April 2017 - 01.34 WIB > Dibaca 2441 kali | Komentar
 
Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru
Benjor hanya punya satu peluru. Pistolnya yang diselipkan di celana bagian belakang membuatnya tak nyaman duduk sedari tadi. Seorang wanita duduk di sebelahnya, bertubuh besar dan tercium seperti bumbu dapur –membuatnya mual. Seorang pengamen bernyanyi di depan. Bus melaju, membawa orang-orang ke tempat tujuannya masing-masing. Kecuali Benjor, yang masih belum tahu ingin pergi ke mana. Benjor terus berhitung, “satu, cuma satu.”

Di dalam bus, Benjor tetap tak bisa diam karena sela pantatnya terasa dingin-dingin geli oleh moncong pistolnya. Wanita berbau bumbu dapur di sebelahnya tertidur sejak melewati daerah B, tubuhnya bergoyang setiap kali bus berbelok. “bagaimana kalau ibu ini saja?” tanya benjor dalam hati. “Satu, cuma satu,” tukasnya kemudian pada pertanyaannya itu. Benjor melihat ke luar jendela bus, banyak orang di luar. “Bagaimana jika mereka?” tanyanya lagi.

Hari ini Benjor bangun dari tidurnya karena alasan yang tak menyenangkan. Setelah sepuluh hari terkena serangan insomnia, di hari ke sebelas tidurnya yang tak terlalu nyenyak juga diganggu oleh suara dua ekor kucing yang bertengkar saling sahut di gang belakang apartemen. Di telinga Benjor, kucing-kucing itu mengeong macam suara meja digebrak. Menggiring Benjor pada satu mimpi buruk tentang sebutir peluru yang ditembakkan, berputar perlahan menuju batok kepalanya dan kemudian menembusnya. Mata Benjor tiba-tiba terbuka, dan setiap Benjor membuka mata tiba-tiba seperti itu, dia mendengar suara kaca pecah. Tubuhnya lemas, tentu saja. Sepuluh hari tidak tidur membuat dirinya merasa tak jelas sudah mati atau hidup. Kalau bukan amarahnya yang memuncak karena pertengkaran kucing-kucing itu, mungkin Benjor tak akan bisa bangun dari pembaringannya.

Dengan pasti, diangkatnya kursi duduk yang ada di kamarnya. Dibukanya jendela, kucing-kucing itu masih mengeong. Benjor melempar kursinya sekuat tenaga. Tapi karena tenaganya entah hilang ke mana, jangankan mengenai kucing-kucing itu, kursi yang dilempar Benjor malah lebih mirip terlepas begitu saja dari tangannya, tanpa usaha untuk melempar. Kursi itu jatuh menimpa besi penutup tempat sampah, menimbulkan suara yang lebih keras dari suara pertengkaran kucing-kuncing itu. Benjor hanya melongo, kepalanya tak bisa berpikir lagi. Matanya mengerjap-ngerjap. Suara kursinya yang jatuh menimpa besi penutup tempat sampah membuat kepalanya berdengung. Dilihatnya lampu-lampu di lantai bawah, apartemen depan dan juga jendela-jendela sekitarnya mulai menyala. Orang-orang mulai berteriak dan menyumpah-nyumpah. Saat itulah, satu tembakan, dan satu desingan peluru memecahkan kaca jendela Benjor. Benjor mundur ke belakang.

“Siapa yang menembak?” Benjor bertanya. Tubuhnya lemas. Tapi kalau bukan karena adrenalinnya yang terpicu oleh tembakan itu, mungkin Benjor tidak akan bisa bergerak. Cepat Benjor tiarap, kemudian merangkak ke sudut kamar, bersembunyi di bawah tempat tidur. Dia khawatir ada tembakan lagi. Sepuluh menit, Benjor menduga-duga. Keringatnya deras, napasnya terengah-engah. Menit ke sebelas, tidak terjadi apa-apa. Benjor mengintip.

Kepalanya mencuat dari bawah tempat tidur. Tidak terjadi apa-apa. Benjor merangkak mendekati jendela. Kepala Benjor mencuat lagi, perlahan dan tidak pasti. Matanya berusaha memperhatikan sekeliling. Lampu-lampu di lantai bawah, apartemen depan dan juga jendela-jendela sekitarnya telah padam. “Siapa yang menembak?” Benjor mengeluarkan kepalanya dari jendela, berusaha melihat sesuatu. Matanya memicing, tapi dia tahu, sebenarnya dia tidak melihat apa-apa. Karena badannya terlalu condong, Benjor terjatuh dari jendela, tubuhnya membentur besi penutup tempat sampah dan tiba-tiba Benjor membuka mata.

Setelah sepuluh hari terkena serangan insomnia, di hari ke sebelas tidurnya yang tak terlalu nyenyak juga diganggu oleh suara dua ekor kucing yang bertengkar saling sahut di gang belakang apartemen. Tubuhnya sudah lemas dan terasa melayang. Kalau bukan karena amarahnya yang naik karena kucing-kucing itu, mungkin Benjor tak akan bisa bangun dari pembaringannya. Dengan pasti diambilnya lampu tidur di sampingnya. Berjalan ke jendela, dan membukanya. Dengan sekuat tenaga Benjor melempar lampu tidur itu ke arah kucing-kucing yang bertengkar. Satu ekor kucing berhasil melarikan diri, yang satu lagi tak seberuntung kawannya. Benjor berlari ke luar apartemen, menuju gang belakang. Tak ditemukannya mayat kucing itu, padahal pisaunya telah siap dan berkilat-kilat. Dia ingin memotong-motong kucing itu, dia merasa pasti harus melakukannya. Lampu jalan di atasnya byar-pet. Benjor mendongak. Kaca di salah satu jendela pecah tiba-tiba. Benjor merasa jatuh dan membuka mata.

Benjor bangun dari tidurnya karena alasan yang tak menyenangkan. Setelah sepuluh hari terkena serangan insomnia, di hari ke sebelas tidurnya yang tak terlalu nyenyak juga diganggu oleh suara dua ekor kucing yang bertengkar saling sahut di gang belakang apartemen. Mata Benjor terbuka. Dengan pasti, Benjor berjalan ke jendela. Dibukanya jendela itu, kemudian dia mulai mengeluarkan sumpah serapah yang telah dihapalnya. Maki-makian yang diniatkan pada kucing-kucing itu tak banyak membuahkan hasil kecuali menyalanya lampu-lampu kamar lantai bawah, apartemen depan dan jendela-jendela sekitarnya. Lampu jalan yang berdiri tegak tepat di depan kamar Benjor byar-pet. Di bawah lampu itu Benjor melihat seseorang berdiri, membawa pisau yang berkilat-kilat. Sibuk memperhatikan orang itu, tiba-tiba Benjor mendengar suara kaca pecah. Sigap, Benjor mundur satu langkah. Dari kamar ujung di lantai tiga apartemen depan, Benjor melihat seorang wanita bertubuh gemuk membidiknya dengan senapan. Dorr!! Benjor terperanjat dan jatuh ke belakang. Matanya dipejamkan lekat-lekat, pikirannya mencari-cari rasa sakit di seluruh bagian tubuhnya. Tangannya sibuk mencari darah hangat yang mengalir. Lama, Benjor tidak menemukan apa-apa –rasa sakit ataupun tembakan selanjutnya. Saat kesadarannya mulai kembali, benjor memberanikan diri membuka mata.

Setelah sepuluh hari terkena serangan insomnia, di hari ke sebelas tidurnya yang tak terlalu nyenyak juga Benjor gemetar karena seseorang baru saja membidik dan berusaha menembaknya. Di luar, dua ekor kucing bertengkar. Di telinga Benjor, kucing-kucing itu mengeong macam suara meja digebrak. Menggiring Benjor pada ingatan tentang satu mimpi buruk di mana sebutir peluru menembus batok kepalanya. Benjor merasa sudah sangat lama tidak membuka matanya. Ketika tadi akhirnya dia membuka matanya lagi, suaranya seperti kaca pecah. Tubuhnya lemas, tentu saja.

Sepuluh hari tidak tidur membuat dirinya merasa tak jelas sudah mati atau masih hidup. Kalau bukan rasa takutnya yang memuncak karena mimpi buruknya itu, mungkin Benjor tak akan bisa bangun dari pembaringannya. Benjor menatap kosong langit-langit kamar. Dia merasa usianya lebih panjang dan terbentang di depan matanya seperti kabel-kabel listrik. Entah berapa jam  lamanya dia  melakukan itu. Jendela terbuka, tirai dikibarkan angin yang terasa asing. Seekor burung hitam hinggap di kabel listrik di luar jendela. Terasa lama sekali semua kejadian ini. Saat Benjor akhirnya memutuskan keluar, dia menaiki bus pertama yang ditemuinya.

Seorang pengamen bernyanyi di depan, suaranya melengking seperti kaca pecah. Benjor duduk dengan gelisah. Dia melihat semua orang yang ada dalam bus dengan tatapan curiga. “Mereka yang menembak,” pikirnya. Seorang ibu bertubuh besar duduk di sampingnya, baunya seperti bumbu dapur. Benjor menatap ibu itu lekat-lekat. Tubuhnya yang besar bergoyang ke sana ke mari setiap bus berbelok. Saat ibu itu terbangun dari tidurnya, dia menatap Benjor yang menatapnya. “Apa?” tanya ibu itu.

“Kucing sialan!” Benjor berteriak. Dia tiba-tiba bangun dari duduknya, “Kucing sialan!!” Benjor berteriak lagi. Dengan cara yang membuat semua penumpang bus tertegun, Benjor melompat keluar bus dan berlari ke sebuah gedung apartemen. “Pelurunya cuma satu! Pelurunya cuma satu!” Teriaknya. Benjor mengeluarkan tangannya yang diselipkannya di bagian belakang celananya. Jempol dan telunjuknya membentuk pistol. Benjor berteriak, sampai membuat dua ekor kucing yang bersembumyi di semak-semak berlari lintang-pukang. Benjor terus berteriak, diambilnya semua batu yang dapat dijangkaunya dan mulai melempari kaca-kaca jendela. Suara kaca pecah di mana-mana. Benjor berlari kemudian tiba-tiba terjatuh.***

2016

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram. Cerpen-cerpennya terbit di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Solo Pos, Banjarmasin Pos, Batam Pos, Suara NTB, Fajar Sumatra, Radar Surabaya.

KOMENTAR

Follow Us