CERPEN MUSA ISMAIL

Terbang dalam Keterasingan

1 April 2017 - 23.17 WIB > Dibaca 2545 kali | Komentar
 
Terbang dalam Keterasingan
RIBUAN mata manusia bagai mata pisau di bandara itu. Pandangan aneh dan tajam laksana hendak menikam-nikam keyakinan manusia lain. Di mata itu, masih saja tersimpan kedengkian yang merajalela. Sepertinya, kedengkian itu mereka simpan dengan sengaja untuk membunuh keyakinan manusia lain. Karena setiap mata manusia memandang aneh dan tajam itulah, manusia lain itu menjadi terasing. Selalu termarginalkan! Tatapan aneh itu juga selalu menyimpan kebencian sehingga mata mereka semakin tajam. Mata itu laksana hendak menikam-nikam kebenaran yang ada dan sempurna pada keterasingan manusia lain yang menjadi terasing itu.

Suara perempuan manja bagian informasi di bandara tak mampu menghadang pisau di mata orang-orang itu. Suara langkah kaki dan gaya calon penumpang lain pun menjadi seperti terluka dan timpang. Anehnya lagi, mata mereka juga menyudutkan beberapa manusia yang santai di ruang tunggu bandara. Tampaknya, mereka yang menjadi sasaran mata pisau itu satu keluarga besar. Mereka baru tiba beberapa menit yang lalu dan disambut gerimis hujan yang berkah. Namun, di ruang tunggu ini, mereka ditikam oleh mata pisau-mata pisau sehingga seperti tersudut dan terasing.

”Kita menjadi sasaran,” tiba-tiba perempuan berjilbab dan bercadar hitam bicara.

”Aku juga merasakannya. Tenang saja. Sejak awal kita memang terasing. Suatu saat, kita juga akan pulang dalam keterasingan,” lelaki berjanggut sekepal tangan dan berbaju koko, mungkin suami perempuan berjilbab dan bercadar hitam, menanggapi dengan sangat santai.

”Itu artinya mereka perhatian pada kita, ’kan?” Mereka acuh pada kita walaupun dalam keanehannya,” timpal perempuan cantik berjilbab panjang sambil melemparkan senyuman ikhlas.

”Pandangan penuh perhatian bukan aneh dan tajam begitu. Mata yang perhatian selalu menciptakan kenyamanan. Ini seperti kita berbuat kesalahan. Coba lihat petugas bandara tadi. Kita dianggap seperti teroris saja. Berapa lama kita ditahan untuk diperiksa tadi? Sementara itu, orang lain diperiksa lebih-kurang saja,” perempuan berjilbab dan bercadar hitam itu sangat kesal tampaknya.

Kekecewaan perempuan berjilbab dan bercadar hitam itu bermula ketika di pintu pemeriksaan keimigrasian. Ini juga dirasakan oleh anggota keluarganya yang lain. Mereka diperiksa habis-habisan. Mata petugas bandara itu seperti lebih tajam daripada x-ray. Tidak puas lolos dari x-ray, petugas itu memeriksa bagasinya secara manual. Darah keluarga besar ini tentu saja mendidih juga karena dicurigai seperti teroris. Mereka bukan takut karena mereka tidak berbuat salah. Untung saja mulut mereka selalu basah dengan ayat-ayat Allah Taala. Sambil sedikit jengkel memerhatikan tingkah petugas, hampir semua mulut anggota keluarga yang dipandang terasing itu, beristighfar. Bagi mereka semuanya dari Allah Taala dan hanya Allah Taala juga yang memberikan pertolongan melalui kedekatan lahir-batin.

Tentu saja mata-mata tajam calon penumpang dari berbagai maskapai penerbangan ketika itu juga bagai menguliti mereka. Mulai dari pakaian hingga sikap dan perilaku keluarga terasing itu mereka singkap dengan pandangan sinis. Sepertinya mereka sangat kejam dengan menghunuskan dua bilah pisau dari matanya yang lambut dan syahdu itu.

”Aneh. Semuanya tertutup,” celetuk dari mulut perempuan setengah baya yang seksi. Pelan sekali, nyaris tidak terdengar. Di bandara, perempuan seksi sangat banyak, dari anak-anak, para dara, ibu-ibu, bahkan sampai yang sudah bergelar nenek pun, ada yang berpakaian seksi. Ada perempuan yang cuma bercelana pendek, berbaju ketat, tipis, dan tidak berjilbab. Kalau pun berjilbab, mereka masih saja mempertontonkan gelombang-gelombang syahwat di tubuhnya. Ketika itu, tubuh mereka bagaikan kapas-kapas beterbangan ditiup angin.
Perhiasan-perhiasan yang mereka kenakan sama sekali tidak berarti, selain cuma menjadi pandangan-pandangan musuh kita yang paling nyata. Mereka bagaikan kera yang diberikan bunga.

”Pak, maaf, mengapa kami diperiksa seperti pesalah?” Kami ’kan hanya penumpang biasa,” lelaki bersorban dan berjubah itu merasa tak sedap hati. Dari wajahnya yang bersih itu, suaranya terdengar sangat lembut.

Petugas itu diam dan terus saja memeriksa.

”Kami harus teliti dengan orang-orang yang dicurigai. Penampilan Bapak sekeluarga mengundang kecurigaan kami. Jadi, kami harus ekstra hati-hati,” bersuara juga petugas itu setelah diam cukup lama sambil membuka kunci tas dan menyoroti isinya dengan mata melebihi sinar x-ray.

”Suuzon itu berdosa, Pak. Kami orang baik-baik. Jangan perlakukan kami seperti pesalah,” lelaki berjanggut dan berbaju koko menimpali dengan sopan dan sedikit senyum.
”Bapak melawab petugas?” petugas itu mulai naik pitam.

”Bukan begitu. Bapak pikir mereka yang tidak berpenampilan seperti kami ini orang baik-baik dan bisa lolos dengan mudah dari pemeriksaan? Bagasi mereka mengapa tidak diperiksa seperti kami?”

”Bapak tenang saja. Sebentar lagi juga selesai jika tidak ada barang yang dicurigai,” muka petugas itu laksana jeruk purut.

”Sudahlah, Bang. Bersabar itu lebih baik,” perempuan berjilbab labuh menenangkan suaminya.

”Mereka sepertinya dengan sengaja ingin memarginalkan keyakinan kita. Mereka ingin merobek-robek kebenaran,” suaminya kemudian beristighfar tanpa henti. ”Lebih baik,” imbuhnya.

Informasi keberangkatan sudah disampaikan. Seperti biasa, suara informan di bandara selalu gurih di telinga kita. Kami berbaris teratur dengan yang lain. Tetap saja mata-mata pisau di wajah mereka itu menyayat kami sekeluarga. Entah siapa sebenarnya yang aneh dan seperti keledai? Kelengkapan penumpang seperti tiket, boarding pas, dan airportave diperiksa lagi satu per satu. Kali ini, petugas perempuan dan petugas lelaki yang memeriksa kelengkapan itu pula ditikam mata-mata pisau dari calon penumpang. Petugas perempuan itu berpenampilan seperti kami. Kami hanya senyum sambil menghadiahkan Assalamualaikum. Alhamdulillah, mereka juga senyum sambil membalas Waalaikumsalam.

Ketika melewati pintu keluar menuju pesawat terbang yang parkir, kami bagai memetik kemerdekaan. Plong! Tidak ada lagi pemeriksaan. Perempuan berjilbab dan bercadar hitam serta suaminya yang berjanggut dan perempuan yang berjilbab labuh serta suaminya yang berjubah itu berlenggang gembira. Namun anehnya, mereka masih terasing. Tatapan mata pisau masih saja menusuk-nusuk dari setiap sudut bandara. Calon penumpang yang sama berangkat dengan mereka pun masih menatap dengan jelingan asing.

Hari belum pukul 09.00. Mereka sekeluarga akan segera terbang ke Indonesia. Sudah lama sekali mereka tidak menjenguk keluarga di negara yang besar dan kaya itu. Di luar negara seperti ini, orang-orang seperti mereka masih sangat terasing. Di negara kita sekali pun, mereka masih terasing. Kini, mereka dan penumpang lain seperti ditelan paus, sudah berada di dalam pesawat terbang. Seperti biasanya sebelum lepas landas, pramugari memperagakan cara menggunakan berbagai alat keselamatan di dalam pesawat. Para pelayan tamu pesawat terbang yang molek itu selalu ramah, tersenyum, dan seperti tak ada sedikit pun perasaan kecut.

”Mari kita berdoa. Hidup dan mati, kita serahkan kepada yang Maha Abadi,” mereka berdoa sekeluarga, dalam hati. Mereka tahu benar bahwa kehidupan dan kematian bagaikan dua sisi telapak tangan yang bisa dibolak-balikkan kapan saja oleh Yang Maha Memiliki. Siap atau pun tidak, kita harus tetap menghadapinya. Pesawat mulai bersuara. Suaranya halus dan lembut sehingga agak meringankan beban kegamangan. Kegamangan merupakan suasana kejiwaan yang lazim ketika berada dalam penerbangan seperti ini. Keadaan jiwa ini terjadi karena adanya peralihan dari hal yang biasa kepada hal yang jarang kita lakukan. Namun, keluarga ini sungguh istimewa. Mereka tahu betul bahwa hanya dengan mengingat Allah Taala jiwa akan menjadi tenteram. Semua gemuruh di dalam dada akan lenyap ketika kita menghadirkan-Nya di dalam diri. Kondisi penghadiran-Nya inilah yang senantiasa dilakukan oleh keluarga ini. Mereka selalu tersenyum ketika terbang meskipun dalam keterasingan.
Hari-hari yang mereka lalui memang hari-hari yang terasing. Keterasingan mereka karena sesuatu yang dahsyat, yaitu keyakinan. Pada awalnya, keyakinan mereka muncul dalam keterasingan. Pada akhirnya, keyakinan mereka pun akan berada dalam keterasingan. Mereka tahu benar bahwa keterasingan itulah yang menempa mereka hingga berada dalam kesempurnaan. Saat ini pun, ketika mereka hendak terbang, mereka pun terbang dalam keterasingan. Mereka terbang dengan pakaian yang asing di tengah orang-orang yang berpakaian serba minim. Padahal, kalau kita berpikir—bukankah Allah Taala menyuruh kita berpikir—makanan yang dibungkus rapi itu akan menjadi lebih berharga daripada makanan tanpa bungkus jika tergeletak di lantai.

Setengah jam sudah berlalu burung mesin yang mereka tumpangi lepas landas.  Mereka masih terasing di dalam perut burung mesin itu. Mata-mata aneh masih memandang mereka dengan aneh. Sebagian penumpang ada yang mendengkur. Sebagian penumpang lain sibuk dengan lamunan. Ada pula penumpang yang asyik berbual dan membaca novel atau buku. Sebagaimana mestinya, mereka sekeluarga duduk dengan santai sambil membaca Alquran. Burung mesin itu mendarat dengan selamat setelah terbang sekitar dua jam.

”Diam di tempat! Merapat ke dinding! Jongkok!” pihak berwajib berpakaian dan bersenjata lengkap memborgol perempuan berjilbab dan bercadar, lelaki berjenggot berbaju koko, perempuan berjilbab labuh, dan lelaki berjubah. Penyergapan itu dilakukan di pintu masuk kedatangan.

”Apa salah kami, Pak?” lelaki berjubah penasaran.

”Ya. Mengapa kami diperlakukan seperti ini?” perempuan berjilbab dan bercadar menimpali.

”Yang jelas, Bapak dan Ibu semua ikut kami ke kantor. Nanti akan kami interogasi,”
komandan pihak berwajib itu tegas dan kekar sekali.

Sebelumnya. Tiga puluh menit ketika burung mesin lepas landas.

Ketika para penumpang sibuk dengan kegiatan masing-masing di dalam burung mesin itu, bom menghancurkan sudut bandara yang ditinggalkan. Meskipun tidak ada yang tewas, tetapi belasan orang terluka. Tentu saja kebakaran tidak dapat dielakkan. Kepulan asap menjulang. Orang-orang di bandara itu berlari lintang-pukang. Semuanya panik.

Karena bom meledak itulah, mereka diciduk. Dua pasang suami-isteri itu diinterogasi habis-habisan di kantor pihak berwajib. Berbagai cara dilakukan agar suami-isteri itu mengakui perbuatannya.

”Bukan kami, Pak. Ini pasti ada kesalahpahaman.”

”Tidak. Hasil penyelidikan di bandara mengarah kepada Saudara pelakunya.”

”Ini fitnah. Kami difitnah.”

”Jangan mengelak. Akui saja bahwa kalian pelakunya.”

”Kami tidak akan mengakui perbuatan yang tidak kami lakukan, Pak. Bukan kami pelakunya.”

”Pembohong!”

”Agama kami tidak membenarkan perbuatan keji seperti itu. Mana mungkin kami pelakunya.”

Di ruang pengap itu, pertanyaan-pertanyaan bagai peluru yang dimuntahkan dari moncong senjata api. Lalu, pertanyaan-pertanyaan bagai peluru itu menghantam sekujur tubuh mereka secara bertubi-tubi. Untung saja mereka kuat. Lebih kurang dua jam mereka diperiksa dan diinterogasi. Para petugas tidak memperoleh apa pun bukti bahwa mereka pelakunya.
”Siap! Siap! Siap!” komandan pihak berwajib menjawab panggilan dari seberang.

”Bapak dan Ibu, kami mohon maaf. Ada kesalahan informasi. Sekarang Bapak-Ibu kami bebaskan,” ada bayangan malu pada air muka komandan itu.

”Alhamdulillah,” mereka sujud syukur. ”Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?”

”Pelaku sebenarnya sudah tertangkap di bandara sana. Mereka dua pasang suami-isteri berpakaian seperti Bapak-Ibu. Namun, di KTP mereka tertera bahwa mereka tidak seiman dan tidak sekeyakinan seperti Bapak-Ibu. Sekali lagi, kami mohon maaf.”

Setelah pihak berwajib menyalami, mereka pun berlenggang meninggalkan bandara. Di tujuan terakhir penerbangan ini, mata-mata aneh masih saja memandang mereka dengan terasing. Lalu-lalang manusia di bandara yang sibuk tak tentu arah itu masih saja menyempatkan diri memandang heran kepada mereka sekeluarga. Mereka ibarat kebenaran yang  berada di dalam kerumunan kesalahan. Mereka juga bagaikan kejujuran yang terjebak di dalam jerat ketidakbenaran. Mata-mata terus saja memandang mereka dengan jelingan terasing. Mereka tak peduli dan terus berjalan pada jalan kebenaran.***

Musa Ismail lahir di Pulau Buru Karimun, 14 Maret 1971. Setakat ini, dia baru menghasilkan 4 buku kumpulan cerpen, 2 novel, dan 1 esai sastra-budaya. Dia berprofesi sebagai Cikgu di SMAN 3 Bengkalis dan dosen di STAIN dan Politeknik Negeri Bengkalis. Pernah meraih Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan (2010) dengan judul Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut.




KOMENTAR

Follow Us