ESAI SASTRA

Model Penilaian dalam Kritik Sastra (1)

1 April 2017 - 22.51 WIB > Dibaca 2147 kali | Komentar
 
Oleh: Maman S Mahayana

HAKIKAT  kritik sastra yang bersifat praktis adalah penilaian. Ia memulai dan mengakhiri kegiatannya dengan menilai. Meskipun landasan filosofi penilaian itu tidak lain adalah apresiasi—sebagai bentuk penghargaan atas karya (sastra) apa pun—dalam praktiknya sering kali penilaian itu tidak sama atau relatif berlainan bergantung pada sudut pandang dan sikap kritikusnya. Oleh karena itu, M. Saleh Saad dan M.S. Hutagalung, tokoh-tokoh kritik sastra Indonesia yang kemudian disebut sebagai kritikus aliran Rawamangun, membuat semacam kategori model penilaian dalam kritik sastra yang terjadi di Indonesia. Adapun model penilaian dalam kritik sastra Indonesia dibagi atas tiga macam penilaian, yaitu penilaian relatif, penilaian absolut, dan penilaian perspektif.

Pembagian model penilaian itu sendiri berangkat dari jenis kritik sastra yang dapat kita cermati dari media massa yang memuatnya, wilayah atau lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya model penilaian itu, dan sasaran pembacanya.

***

Pertama, kritik sastra dengan model penilaian relatif. Jenis kritik sastra ini lazimnya terjadi di media massa, seperti surat kabar dan majalah, atau media massa lain yang sasaran pembacanya masyarakat umum. Kebanyakan jenis kritik sastra ini dilakukan oleh sastrawan atau penulis biasa yang analisisnya dilakukan bukan lantaran pemahaman pada kerangka teori, melainkan pada pengalamannya dalam membaca karya sastra.

Meskipun kritik sastra yang dilakukannya tidak berangkat dari pemahamannya tentang teori atau pengetahuan tentang sastra dan kesastraan, termasuk di dalamnya, tentang pendekatan yang dapat digunakan dalam kritik sastra, sangat mungkin juga ia mengetahui serba sedikit teori sastra. Meskipun demikina, model kritiknya cenderung subjektif, sebab ia melandasi analisis atau kajiannya berangkat dari pengalamannya dalam menggauli karya sastra. Mengingat penekanan kritik sastra yang dilakukannya atas dasar kesan atau impresi pada karya sastra yang dibacanya, maka model kritik sastra seperti itu disebut sebagai kritik impresionistik.

Problem utama jenis kritik sastra ini adalah, selain tidak adanya keseragaman dalam menggunakan alat analisis, juga tidak ada patokan atau kriteria yang tetap sebagai alat untuk melakukan penilaian. Bahkan, ada semacam anggapan, bahwa kritik sastra jenis ini bergantung pada impresi pembaca. Oleh karena itu, setiap pembaca akan menghasilkan penilaian yang berbeda dengan pembaca lainnya. Mengingat setiap pembaca punya pengalaman, kesan, dan perspektif yang berbeda satu sama lain, maka hasil penilaiannya juga berbeda-beda. Sepuluh pembaca akan menghasilkan sepuluh penilaian, demikian anggapan yang ditimpakan pada jenis kritik ini. Itulah dasar pemikiran penyebutan kritik sastra dengan penilaian relatif.

Contoh kritik sastra dengan penilaian relatif dapat kita temukan dalam majalah Pujangga Baru, No. 6, Th. VIII, 1940 sebagai edisi khusus yang memuat berbagai tanggapan terhadap novel Belenggu karya Armijn Pane. Menyusul kemudian tulisan S. Danilah dan Sutan Takdir Alisjahbana yang dimuat dalam Pujangga Baru No. 7, Th. IX, Januari 1941. Kritik terhadap novel Belenggu pada saat itu sangat beragam. Ada yang memuji dan menganggap sebagai novel yang membawa kebaruan, baik dari segi isi (tema), maupun dari segi pemakaian bahasa dan cara penceritaannya. Tetapi, ada pula yang mengecam, dan menganggap novel itu sangat buruk dan berbahaya, karena menggambarkan pergaulan yang tidak senonoh. Sutan Takdir Alisjahbana sendiri menilai, bahwa novel itu sebagai lectuur defaitistis, yaitu bacaan yang dapat melemahkan semangat, novel yang ditulis dengan semangat pecundang.

Pertanyaannya, mengapa kehadiran novel Belenggu menimbulkan kontroversi yang masing-masing penilaian terhadapnya seperti bertolak belakang? Itulah kritik sastra dengan penilaian relatif, sebab dasar pembaca melakukan penilaian semata-mata karena impresi atas isi novel itu. Penialaiannya berdasarkan kesan mereka yang menganalisis karya itu dari sudut pandang masing-masing. Ada yang melihatnya dari aspek moral, etika, tema, model penokohan yang berbeda dari novel sebelumnya, bahasa Indonesia yang digunakan, dan seterusnya.

Dari sudut bahasa, misalnya, adanya kata-kata kerosi, recept, aphotheek, atau patient, serta beberapa kesalahan ketik, di satu pihak dianggap sebagai novel yang buruk, dan di pihak lain, sebagai novel yang memperlihatkan kebaruan, karena, meski ada beberapa kesalahan ketik, pengucapan atau cara penceritaannya dianggap berbeda dengan novel-novel sebelumnya terbitan Balai Pustaka. Bahkan, belakangan, novel Belenggu dianggap sebagai novel pertama dalam sastra Indonesia yang menggunakan teknik arus kesadaran (stream of consciousness) yang semarak pada tahu 1970-an dengan munculnya novel-novel Putu Wijaya, Iwan Simatupang, Kuntowijoyo dan cerpen-cerpen Danarto.

Begitulah, kritik sastra dengan penilaian relatif, ditentukan oleh cara pandang pembaca atas dasar pengalamannya dalam memahami teks sastra. Di sana, ada pembaca yang menilai teks itu tanpa pemahaman teori sama sekali, tetapi ada pula yang menggunakan teori menurut pemahaman dan kepentingannya sendiri. Penilaiannya sangat subjektif. Akibatnya, setiap kepala bisa menghasilkan penilaian yang berbeda dengan penilaian yang lainnya.

Sebagai kritik sastra yang landasan filosofinya apresiatif dan menekankan pada objektivitas, kritik sastra dengan penilaian relatif sebaiknya dihindarkan. Tujuannya, agar publik pembaca tidak dibuat bingung. Paling tidak, ketika pembaca melakukan kritik sastra, mereka punya rujukan yang tidak membingungkan. Bagaimanapun juga, salah satu fungsi kritik sastra adalah memberi semacam panduan, jalan terang yang dapat digunakan pembaca untuk ikut mengapresiasi langsung karya sastra yang bersangkutan, dan bukan untuk menjauhkan karya itu dari masyarakat pembaca, akibat terjadinya simpang-siur penilaian.

***

Kedua, kritik sastra dengan penilaian absolut. Model penilaian absolut ini awalnya dipengaruhi oleh cara berpikir deterministik. Teks sastra diperlakukan sebagai teks sosiologi, biografi, filsafat atau sejarah. Pengaruh kuat rasionalisme telah ikut mengubah cara penilaian dalam kritik sastra. Maka, sebelum melakukan praktik kritik sastra, seseorang mesti melandasi operasionalisasinya dengan teori, ilmu pengetahuan tertentu atau kriteria yang sudah ditentukan. Jika karya sastra itu tidak sesuai dengan teori yang digunakan, atau dianggap ‘menyimpang’ dari ilmu tertentu, atau tidak sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan, karya itu dianggap gagal. Kritik sastra dengan penilaian absolut cenderung menghasilkan penilaian atas dasar benar—salah. Jika sesuai teori, berarti berhasil; jika tidak, berarti salah alias gagal.

Begitulah, kritik sastra dengan penilaian absolut, biasanya berangkat dari satu teori atau ilmu pengetahuan atau kriteria tertentu. Ketika realisme mencapai puncaknya, karya-karya yang mengungkapkan peristiwa nonrealis atau berada dalam tataran metarealitas, dianggap sebagai karya yang gagal, karena dianggap peristiwa di sana tidak logis, tidak rasional, tidak ada hubungan sebab-akibat. Realisme menuntut adanya kesesuaian antara fakta dalam teks sastra. Rangkaian peristia dibangun berdasarkan prinsip logika formal yang menuntut adanya hubungan sebab-akibat, kelogisan, dan keruntutan. Jika tidak menggambarkan hal tersebut dianggap sebagai karya yang gagal.

Meskipun kritik dengan penilaian absolut mendasari penilaiannya dengan berpegang pada teori, ilmu pengetahuan atau kriteria tertentu, sayangnya landasan atau pegangan itu diperlakukan sebagai satu-satunya kebenaran. Maka, karya yang tidak sesuai dengan ketiga hal itu, jika tidak dikatakan karya yang buruk, dianggap sebagai karya yang gagal. Dalam hal ini, kritikus menggunakan teori itu dengan terlebih dahulu memakai kacamata kuda. Segalanya jadi hitam-putih, benar-salah, berhasil atau gagal.

Di Indonesia, model kritik sastra dengan penilaian absolut pernah terjadi semarak pada awal tahun 1960-an ketika ada dua kubu yang mengusung realisme-proletar (realisme-sosialis) yang didukung oleh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan golongan yang menolak pandangan itu yang lalu menyebut diri sebagai penganut paham humanisme universal (kemanusiaan sejagat). Konflik itu membelah para sastrawan Indonesia ke dalam dua kubu dengan filosofi yang bertentangan, yaitu seni untuk rakyat dan seni untuk seni.

Seni untuk rakyat yang menjadi alat perjuangan realisme-proletar mendasari penilaiannya sejalan dengan doktrin komunis. Karya sastra mesti menjadi alat perjuangan rakyat. Oleh karena itu, mesti dipahami rakyat dan menggambarkan kemenangan rakyat. Novel, cerpen, puisi, atau drama, bahkan juga karya seni lainnya, mesti mengangkat konflik yang tegas antara rakyat—birokrat, buruh—pemilik modal, petani—tuan tanah, miskin—kaya, dan seterusnya. Di dalam konflik itu, pihak rakyat, buruh, petani, atau orang miskin, harus menjadi pemenang, dan lawannya harus menjadi pecundang.

Di samping itu, karena karya sastra wajib memberi semangat perjuangan bagi wong cilik, rakyat jelata, dan saudara-saudaranya, maka karya sastra yang berhasil adalah karya sastra yang dapat dipahami rakyat. Karya-karya propaganda pada zaman Jepang dan karya-karya yang dihasilkan seniman Lekra menempatkan seni sebagai alat perjuangan. Itulah salah satu alasan, mengapa Chairil Anwar dikatakan sudah lampus dan kemerdekaan 1945 dianggap gagal. Golongan lekra juga menganggap revolusi (Indonesia) sesungguhnya belum selesai. Pemerintah Jepang (seni untuk masyarakat) dan seniman Lekra (seni untuk rakyat) menerapkan konsepsi itu secara absolut. Itulah alasan mereka beranggapan, bahwa karya-karya Idrus, Chairil Anwar, dan seterusnya, sebagai tidak revolusioner yang dapat melemahkan perjuangan rakyat.

Sekadar contoh, sebuah naskah drama yang berjudul “Pandu Pertiwi” karya Merayu Sukma, terpilih sebagai juara pertama lomba penulisan naskah drama. Tetapi karena nama tokoh-tokohnya tidak sejalan dengan kebijaksanaan politik Jepang, maka diubahlah nama-namanya menjadi: Pandu Pertiwi (Tokoh Utama), Dainip Jaya (Temannya Pandu), Priyaiwati (perempuan feodal yang pro-Belanda), Nadarlan (Orang Jahat). Perhatikan nama Dainip Jaya (Dainipon Jaya) dan Nadarlan (Nederland). Dari nama-namanya saja kita sudah dapat menduga, ke arah mana tema ceritanya ditujukan.

Sebuah cerpen karya Pramoedya Ananta Toer, berjudul “Paman Martil”, terbit dalam rangka menyambut hari ulang tahun PKI. Cerpen ini sangat jelas bermuatan pesan ideologi sebagaimana yang diusung Lekra. Dari judulnya saja, “Paman Martil” ‘Paman Palu’ cerpen itu mengindikasikan pesan tertentu. Ceritanya sendiri menggambarkan semangat Paman Martil, yang dalam kesusahan dan kemiskinannya, tetap mengutamakan perjuangan melawan kaum borjuis. Dalam cerpen itu, kita menemukan banyak sekali pesan yang sejalan dengan konsepsi seni untuk rakyat.

Pada akhir tahun 1970-an sampai akhir 1980-an, di berbagai perguruan tinggi di Indonesia ketika itu, pengaruh pendekatan struktural dalam kajian sastra dianggap sebagai penelitian yang memperlihatkan keilmiahannya. Maka, pengkajian novel, cerpen, drama atau puisi, cenderung menggunakan pendekatan intrinsik, satu pendekatan yang dianggap objektif. Apa yang terjadi kemudian dalam banyak skripsi mahasiswa fakultas sastra di perguruan tinggi kita di seluruh Indonesia? Sebagian skripsi analisisnya berkutat pada unsur intrinsik. Ketika ada mahasiswa yang hendak melakukan analisis sosiologis atau psikologis, misalnya, si dosen (pembimbing) akan menganjurkannya untuk kembali ke pendekatan intrinsik. Tanpa sadar, si dosen (pembimbing) sudah menerapkan model penilaian absolut, sebab pendekatan di luar itu dianggap tidak cocok atau karena alasan-alasan lain.

Kecenderungan yang juga terjadi sekarang adalah kritik sastra yang berangkat dari pemahaman teori. Seorang peneliti atau kritikus mengawali kritiknya dengan membawa teori lebih dahulu. Dengan teori itu, ia mencari karya sastra yang dianggap cocok dianalisis dengan teori itu. Lalu, bagaimana jika kemudian teori itu tidak cocok? Karya itu dianggap buruk atau gagal sama sekali. Itulah kritik sastra dengan penilaian absolut.

Novel-novel Iwan Simatupang, misalnya, pada awal kemunculannya, juga diperlakukan dengan penilaian absolut. Sebutlah misalnya, konsep alur yang menekankan pada hubungan kausalitas. Nah, ketika dalam novel Ziarah karya Iwan Simatupang itu—atau novel Telegram, PutuWijaya, peristiwa-peristiwa yang terjadi di sana seperti tumpang-tindih, tidak menunjukkan hubungan kausalitas, maka dikatakanlah novel Ziarah dan Telegram sebagai novel yang gagal. Cerpen-cerpen Danarto yang judulnya aneh, tokoh-tokohnya bisa apa saja—batu, rumput, alfatihah, dan seterusnya—juga dianggap sebagai cerpen yang gagal, sebab melanggar konvensi. Itulah model penilaian absolut dalam kritik sastra. Pokoknya, teorinya begitu, karyanya juga harus begitu. Jika tidak, karya itu jelek dan gagal.***

Maman S Mahayana lahir di Cirebon 18 Agustus 1957. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi, prosa, artikel, dan buku-buku pelajaran bagi sekolah. Selain mengajar di perguruan tinggi, Maman juga seorang peneliti dan kritikus sastra Indonesia. Dia merupakan salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005).
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 21:07 wib

Gerindra Masih Penjajakan Siapa Calon Capres dan Wapres

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:38 wib

Podomoro City Deli Medan Hibur Tamu Hadirkan Rossa

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:03 wib

Libatkan Perempuan dan Anak-anak pada Aksi Terorisme Perbuatan Keji

Minggu, 20 Mei 2018 - 19:30 wib

Korban Aksi Teroris Akan Dapat Kompensasi

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:25 wib

Bank Riau Kepri Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:08 wib

DPRD Siak Dapat Kunjungan dari DPRD Kampar

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:03 wib

Anggota DPRD Siak Ikuti Bimtek dan Peningkatan Kapasitas

Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Follow Us