CERPEN MUNA MASYARI

Pelukis Pasir Jumiyang

25 Maret 2017 - 22.15 WIB > Dibaca 1859 kali | Komentar
 
Pelukis Pasir Jumiyang
Seharusnya  Anda tahu, seseorang yang meyakini mitos kadang sama yakinnya akan keberadaan Tuhan!

“Pantai terkutuk!”

Dengan umpatan penuh nada tekanan perempuan itu menggores-goreskan ranting kering di tangannya. Gerakannya semrawut hingga dua goresan berbentuk lingkaran sebesar kepala bayi di permukaan pasir putih itu tertindih garis-garis lidi yang malang-melintang berserabutan.
Langit merah bersulam awan putih -serupa sisik ikan- di langit barat. Matahari seperti bola raksasa terpanggang; merah membara, dan menukik perlahan. Debur ombak berebutan mengecup tepian pantai, menyisakan buih-buih dan sampah yang semula terombang-ambing riang di permukaan laut. Burung-burung kecil berseliweran di angkasa serupa orang panik yang tengah melerai petaka.

Perempuan itu terus saja meggoreskan ranting keringnya ke pasir. Setiap goresan seolah mengandung curamnya kebencian, penyesalan atau entah. Dari mulutnya berloncatan umpatan-umpatan geram; “pantai terkutuk!”

Embusam angin memain-mainkan rambutnya yang dibiarkan tergerai sepunggung.

***

Senja membias kemerahan di langit barat. Angin berembus basah. Anda tahu? Sebelum Anda datang, saya memang sering melihat perempuan itu ada di sana, duduk menekuk punggung di atas pasir . Seperti kemarin. Kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Ah, entah sudah berapa lama ia rajin ke pantai Jumiyang ini.

Bagi kami, ia perempuan aneh yang datang dari entah. Tidak ada yang mengenalinya di sini. Barangkali berasal dari desa tetangga dekat atau dari sebuah tempat nan jauh di sana. Saya dan warga di sini sama sekali tidak berani menanyakannya. Tidak berani mengusiknya. Kami hanya menganggapnya sebagai perempuan aneh.

Sejak tiga pekan lalu, lima pekan  lalu, atau dua bulan lalu –saya tidak ingat dengan pasti- setiap senja menapak saya melihatnya di sana dengan ranting kering di tangannya; khusuk melukis pasir. Baju yang dikenakan tidak pernah berganti; baju merah bermotif bunga-bunga. Rambutnya dibiarkan tergerai dan diacak-acak angin. Ia baru beranjak pulang setelah azan magrib berkumandang di kejauhan. Pernah, setelah berpaling pulang, diam-diam saya mendatangi bekas tempatnya. Di sana, samar-samar terlihat dua goresan berbentuk lingkaran yang tertindih garis-garis lidi berserabutan.

Beragam dugaan tercetus di antara kami, sesama petani rumput laut.

“Mungkin anaknya meninggal akibat tenggelam saat berwisata ke pantai ini,”

“Barangkali ia perempuan tidak waras yang kesasar. Lihat rambutnya yang dibiarkan begitu saja! Persis orang gila!”

“Kukira ia perawan tua yang stres menunggu kekasihnya pulang dari tanah rantau!” sela Muraksah seraya melirik perempuan yang sedang khusyuk mencorat-coret pasir dengan ranting, agak jauh dari tempat kami mengikat rumput laut.

Tentu Anda tahu, perempuan mana yang tidak risau menyandang status perawan tua?
“Kenapa tidak menikah dengan lelaki lain saja kalau memang demikian?” timpal saya.
“Mana aku tahu,” Muraksah mengangkat bahu, mementahkan praduganya sendiri. Sementara tangannya mengikat rumput-rumput laut dengan cermat dan cekatan.

Diam-diam saya melirik Marsiyem. “dengan saya misalnya,” batin saya, tertawa geli. Tentu saja tidak saya suarakan. Alamat kiamat kalau sampai terdengar di telinga Marsiyem!
Hampir dua puluh tahun usia pernikahan saya dengan Marsiyem tanpa dikaruniai anak membuat Marsiyem mudah tersinggung. Jika mendengar ada lelaki beristri dua, mulut Marsiyem langsung nyinyir seperti kambing berperut kempis.

Tahukah Anda, seberapa risau jika seorang istri tidak kunjung memiliki keturunan? Sepertinya sekian kali lebih berlipat dari kerisauan seorang suami. Boleh jadi kerisauannya melebihi ketakutan pada kematian.

“Barangkali ia ingin melukis wajah dirinya dan lelaki itu di sana,” tebak saya.

“Mungkin juga! Sepertinya ia cukup cantik, hehehe,” setengah berbisik.kepala Muraksah dimiringkan ke saya.

“Kenapa selalu perempuan itu yang dibicarakan? Tidak ada yang lain?” cetus Marsiyem. Nadanya seketus saat mendengar harga rumput laut turun tajam. Rupanya Marsiyem sempat mendengar bisikan Muraksah.

Saya dan Muraksah saling lirik, lalu sama-sama menyembunyikan senyum geli di balik kumis.

***

Pantas. Sudah tiga senja saya tidak melihat perempuan itu. Seperti ada sesuatu yang kurang di pantai ini. Entah sejak kapan ia menjadi bagian dari pantai Jumiyang ini hingga ketiadaannya terasa memberi kekosongan. Barangkali karena kehadirannya kerap menjadi menu perbincangan di antara kami; sesama petani rumput laut yang sedang mengikat hasil-hasil tani di sebuah bangunan renta tak bersekat.

Terakhir saya mendatangi tempatnya –setelah ia pulang-, tergambar dua lingkaran di atas pasir tanpa garis-garis semrawut seperti biasanya. Di antara dua lingkaran itu hanya dibatasi satu garis vertikal, seperti lukisan dua mata besar dan segaris batang hidung.

Sejak itu, kami tidak pernah melihatnya lagi. Ia tidak pernah mengunjungi pantai ini. Entah ke mana.

Matahari tinggal sepotong dengan warna merah terbakar. Deru ombak  membentur karang. Punggung-punggung sudah menjauh meninggalkan pantai. Meninggalkan saya bersama bayangan diri yang kian buram.

Saya berdiri menghadap laut. Laut Jumiyang yang baru saja mencumbu petaka. Pandangan saya menebar ke sepanjang pantai, lalu terpaku di tempat perempuan itu biasa duduk menekuk punggung dengan ranting di tangannya; melukis pasir. Tempat itu kosong.
Pelan saya langkahkan kaki menuju ke sana. Azan magrib mulai berkumandang di kejauhan. Samar-samar.

Langkah saya terhenti. Lukisan dua lingkaran dan sebuah garis vertikal telah hilang disapu ombak. Pelan saya menjongkok, mengambil segenggam pasir basah. Menatapnya lama. Terngiang kutukan perempuan itu di telinga saya; pantai terkutuk!

Ah, perempuan aneh…. Saya mendesah. Angin mengempas wajah saya dengan kasar.

 “Maaf.”

Saya tersentak dan buru-buru membalikkan badan. Segenggam pasir lepas berhamburan dari genggaman saya. Seorang lelaki tanpa saya kenal telah berdiri tak jauh di belakang saya. Remang petang menyamarkan rupa wajahnya. Rambutnya dimain-mainkan angin yang berembus kencang. Anda. Ya, itulah Anda.

Mata saya memicing menilik wajah Anda lebih jelas. Memang tidak saya kenal sebelumnya.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?” tawar saya sedikit gugup.

“Saya sedang mencari seorang perempuan. Saya dengar ia sering kemari. Barangkali bapak pernah melihatnya?” ada cemas dari nada suara Anda.

“Perempuan? Berapa usianya?” alis saya bertaut, menajamkan mata, ingin mengenali wajah Anda lebih jelas.

“Sekitar 33 tahun, sering berbaju merah bunga-bunga dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja,”

“Oh!” seru saya seperti orang yang sebentar lagi akan berhasil memecahkan teka-teki misteri. Lalu tiba-tiba saya tercekat mengingat perempuan itu. Serasa tercekik.

“Iya, saya pernah melihatnya,” suara saya begitu lirih. Sangat lirih dan hampir tidak terdengar oleh telinga saya sendiri.

“Bapak pernah melihatnya?” langkah Anda maju setindak dengan wajah disorongkan ke hadapan saya.

Saya tak segera menjawab.

“Saya dengar ia memang sering kemari,” lanjut Anda, terkesan tidak sabar menunggu jawaban saya.

Saya menggangguk-angguk membenarkan. Lalu mengatur napas perlahan seperti hambusan asap tungku yang nyaris mati. Kemudian, saya ceritakan kehadiran perempuan pada setiap senja itu di pantai ini. Saya ceritakan pula praduga di antara kami tentangnya.

“Apakah tadi ia juga kemari lagi?” ada getar-getar harapan di nada suara Anda.

Saya mengggeleng lemah. Anda mendesah panjang, lalu memutar tubuh menghadap laut, membuang pandangan ke permukaan laut.

Riak ombak meriap-riap, berkilau-kilau.

“Dia istri saya,” pandangan Anda dialihkan ke wajah saya sejenak. Suara yang nyaris ditelan bacaan salawat dari kejauhan setelah kumandang azan.

“Istri?” ulang saya, meragukan pendengaran.

“Ya. Hampir lima belas tahun kami menikah tanpa dikaruniai anak. Kehidupan rumah tangga kami seperti masakan hambar belakangan ini,” berhenti sejenak.

Saya diam menyimak.

 “Suatu hari, saya mengajaknya kemari karena dari dulu dia suka sekali pada pantai. Niat saya hanya untuk menyegarkan pikirannya,”

Saya mengangguk-angguk, membiarkan Anda terus bercerita.

“Tapi sejak itu justru pertengkaran mulai mewarnai rumah tangga kami. Ia menuduh saya sengaja mengajaknya kemari sebagai perantara perceraian?”

“Perceraian?” kening saya mengerut.

“Iya!” jawaban Anda disertai anggukan tegas, kembali menatap saya. “Dia sangat yakin kalau hubungan sepasang kekasih atau suami-istri yang berkunjung ke pantai Jumiyang ini akan mengalami perceraian pada akhirnya.”

“Oh, rupanya ia percaya hal itu,”

Mitos yang masih banyak orang meyakininya. Masih lekat dan melekati pantai ini.

“Iya. Setiap hari ia permasalahkan itu karena saya mengajaknya kemari! Ia yakin, sewaktu-waktu saya akan menceraikannya. Padahal niat saya tidak seperti itu!”

Desah napas Anda seperti mengandung gumpalan beban yang menyesakkan.

Saya seperti layang-layang putus yang tampak bingung harus menukik di mana. Bagaiman saya akan memulai bercerita tentang perempuan senja itu?

Anda tahu? Sebelum kedatangan Anda kemari, warga dikejutkan oleh penemuan mayat yang terdampar di pantai ini. Sesosok mayat perempuan yang sudah membengkak dan menguar aroma bangkai. Beberapa bagian tubuhnya lebam-lebam dan lecet-lecet penuh luka. Tidak ada selembar benang pun melekat di tubuhnya. Dugaan kami sementara, kemungkinan ia melarungkan diri ke laut.

Semula kami bingung, mau diapakan mayat itu? Namun Muraksah akhirnya mengusulkan supaya dibawa ke rumah Ketua RT. Baru saja warga ramai-ramai membawanya ke sana. Hanya sekian menit sebelum kedatangan Anda.

Ia, si perempuan senja, telah menceraikan dirinya dari Anda, dari hidup, dari dunia ini. Mitos tentang pantai Jumiyang ini ternyata begitu lekat menempel di dinding kepalanya.

Apakah Anda juga percaya pada mitos itu? Kalau saya, tentu saja tidak! Buktinya, hampir tiap hari saya kemari bersama istri, nyatanya perkawinan kami aman-aman saja meski tanpa anak. Memang, justru kepercayaan yang sering menyeret seseorang pada suatu kenyataan!***

Muna Masyari, tinggal di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Cerpen-cerpennya termuat di Jawa Pos, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Republika, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat. Tribun Jabar, Tabloid Nova dan berbagai media lainnya.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 11:52 wib

Pentingnya Terapi untuk Orangtua Anak Autis

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:50 wib

Awali Kebangkitan Superhero Indonesia

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:41 wib

Kado Terakhir Iniesta

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:40 wib

Petasan Dilarang, Satpol PP Patroli Pasar Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:37 wib

Tiga Kali Panggilan Hearing Tak Digubris

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:31 wib

Tegang Jelang Ucap Janji

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:27 wib

Menulis Tradisi dalam Bait-bait Puisi

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:24 wib

Bandar Kayangan, Unik nan Menarik

Follow Us