SAJAK

Sajak-sajak Harko Transept

26 Februari 2017 - 11.49 WIB > Dibaca 2029 kali | Komentar
 
SUKMA DI TANAH SRIWIJAYA

Sukma dirangkum angin malam bercahaya.
Sukma duka dan sukma suka berbaris
seperti lilin makan malam dalam mimpi manis.
Tapi kata mereka lilin terbuat dari coklat tanpa gula.

Berpuluh tahun angka makin samar di pelipis, sebagian habis menghitung bintang,
menggambar rasi, dan menulis catatan kaki di tanah yang dibelah sungai.
Seperti legenda batu di samping klenteng Hok Tjing Rio.

Bulan ke sembilan setiap tahun,
kecemasan selalu muncul dalam kemasan pagoda.
Mengerucut ritus yang berulang
seperti kisah cinta Siti Fatimah dan Tan Bun An yang karam.

Sekujur tubuhku adalah bambu-bambu bersembilu.
Tumbuh di pinggir kota dan kolam-kolam
pada dindingnya retak menyimpan masa kanak.
di tebang jadi rel kereta.

Aku membayangkan tak ada lagi
sisa tanah kosong di kota ini.
Segala sisi kota ditaburi uang,
sebulan atau setahun lagi berdiri gedung
yang congkaknya hampir sekeras kepala kami.
Dan pelan-pelan terlupakan.
Sebentar lagi pagi, dan maut nyaris

(2017)


DI PULO KEMARO

Pagi mengayuh suluh.
Pandang melayang ke lamun
tonggak-tonggak bekas pohon gelam.
Di atas perahu, nelayan membuka meja taruhan.

Di pulau kemaro, pagoda seperti warna
pakaian Tan Bun An.
Di tanah yang lain gazebo
megah menyulap sawah
Memburu rindu Siti Fatimah

Di mana tubuh bersarang ketika jarak pandang berkabut, burung-burung bangau
tak punya rumah pulang.

Bukan hanya kita,
mungkin nanti, arus mati
hilang dekap
lembut muara maut.

(2017)


LAY SEE, SINGA UTARA, DAN SINGA SELATAN

Di hadapan kalender, melewati tahun-tahun sunyi.
Mulai terampas, melucuti luka.
Jejak hilang, karam. Jadi hiasan
museum gelap dan lembap.

Aku adalah kemarahanmu
Tenggelam dan terasing di tanah kelahiranku.

Hanya setiap imlek, aku melek.
Riuh simbal, gong, dan gendang
Mengiringi singa utara dan selatan menari
Menghentak-hentak kaki ke bumi

Dari atas ruko yang langitnya purnama,
Lay See berhamburan,
dan topeng singa-singa tampak girang
seperti saat mengusir Nian.
Seperti langit merah yang memancar cahaya
Pada matamu yang menyala
Aku hidup penuh bahaya

(2017)


KEDAI KUALA

Bahkan berpuluh kopi
Di dada perahu turut arus
Mengantar tubuh berlabuh

Pada setiap kedai

Di dalam kopi hanya ada sunyi,
dan ziarah-ziarah yang kudatangi
Berkali-kali.

(2016)



POHON CINTA, TAN BUN ANN,
DAN SITI AISYAH


Di bisik angin utara, sesal Tan Bun Ann karam.
Di sebuah pagoda di dekat pohon cinta,
bayangan siti aisyah masih melangut,
menunggu kekasihnya yang hanyut.

Ketika matahari pulang,
cahaya bulan jatuh di dada sungai yang tenang.
Aku duduk melihat gelombang
yang menjelma lambaian tangan

Rindu itu menjura ke langit, tersesat di danau.
Tidak di hilir, tidak juga di hulu.
Sebagian jadi hujan yang memeluk rumah,
dan suaranya menjadi ketuk di pintu.

(2017)


PERAHU

Aku perahu, tak punya rampa
Linglung labuh, didera deru.

Aku perahu, kayu tua memutih juga.
Tapi laut bikin tabah, mencari engkau.

Aku perahu, bukan kertas
Biar penuh air di tubuh
Tanpa tonase, aku tak koyak

Aku perahu, tak bau kayu
Hanya asin lepa

(2017)


SAJAK MUSI

Sungai adalah tubuh pembawa rindu berperahu.
Setiap pertengahan bulan,
nyanyianku yang licik
mengintip bulan menghias diri dengan gemericik
di bentang tubuh gelombang.
Lenganku adalah jembatan tanpa halau.
Dan selama di kota ini, kubiarkan kau mondar-mandir ke ulu dan ilir.
Di atas tiang jembatan terbaca kalimat iseng dan tak asing,

“Selamat datang di kota bernama Ingatan...”

Sungai itu adalah tubuhku yang wangi senjaraya sepanjang kenang.
Aku membayangkan matamu ingin bermukim di wajahku.
Dan kau adalah kota yang penuh kicau.
Penuh hiruk-pikuk dikunjungi orang berdagang,
lalu-lalang pengangguran yang kehilangan pekerjaan.

Sungai adalah tubuh yang selalu membawa cinta berperahu.

(2017)


DI JEMBATAN AMPERA

Jembatan merah yang tegak,
senyap bermalam di mata bulan.
Lampu-lampu mobil dan motor berkilat-kilat
seperti malaikat maut di Aleppo.

Di bawahnya sungai mengalir.
Aku membayangkan suara Tuhan
tercipta dari arus kecil,
sambut-menyambut dari getar batu
dibungkus pasir, lalunya sepi berbiak.

Jembatan ampera menjadi lengan penahan
kota, biar tak tenggelam di orgel mesin.
Sepanjang tahun, merenggut tepian
tiang baja seperti jarum suntik,
menegakkan kota yang baru,
tapi sakit selalu.

(2017)


Harko Transept, lahir 15 September 1984. Saat ini berdomisili di Palembang. Buku puisi pertamanya Protokol Hujan (Indiebook Corner/2016). Bergiat di Komunitas Malam Puisi Palembang, Kelas Puisi Regional Sumatera
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Follow Us