SAJAK

Sajak-sajak Iyut Fitra

5 Februari 2017 - 01.04 WIB > Dibaca 3168 kali | Komentar
 
Di sini Sepi Lebih Berduri

yang berdiri di persimpangan jalan. itulah aku
malin namaku
lelaki yang telah pulang
di batas-batas kota mimpi kutinggalkan. tak ada airmata
selain bungkus rindu pada jalan-jalan kecil itu. sisa embun di daun-daun
selebihnya tentu suara azan dari surau tua
telah berbagai kupungut kata-kata. susunan falsafah yang bimbang
setiap kueja sungai-sungai berwarna merah. danau-danau
dan lautan menghampar aneh. darah yang mengalir
tak pernah menjadi puisi
lalu berceceranlah kata demi kata yang kutemu. menjadi luka
yang berkabar tentang ranah. serta rumah gadang yang dirubuhkan

“ke mana lumbung-lumbung dulu
ke mana padi bergoni-goni diantarkan
ke mana kopi, lada, dan kayu manis
ke mana gadis-gadis yang malu di balik jendela?”

berdiri aku di halaman. batang-batang tak lagi ada
malin namaku
lelaki yang diserbu perih
waktu yang kupinjam. perjalanan yang telah kulunasi
pelan-pelan menghunjam rabu. menjalar menuju sawah dan pematang
tanah yang tergadai
kurindukan kampung halaman hingga angan-angan kulepaskan
kutinggalkan seluruh macam percintaan
tapi di sini sepi lebih berduri. segala telah dibangun untuk diri sendiri
lalu senja yang susut perlahan. awan-awan berarak murung
di sepanjang jalan kulihat ibu-ibu
merenda airmata

yang berdiri di puing rumah gadang. itulah aku
malin namaku
lelaki yang kecewa


Patung Dekat Bundaran

patung itu. matanya tajam
seolah bercerita tentang perjuangan ketika aku lewat di bundaran
kadang ia serupa menangis. karena burung-burung tak lagi hinggap
udara hitam. hujan turun hanya untuk menghanyutkan kanal-kanal
orang-orang datang. orang-orang terus datang!
punggungnya tak cukup kuat sebagai pemanggul
tubuhnya telah terbenam. riuh dan silau lampu-lampu
klakson serta mulut yang mengumpat
semua saling bercepat langkah dan memburu
“apakah kau perantau yang baru datang?
bersiaplah, kota ini akan tenggelam!”
tak aku dengar suaranya. tapi orang-orang kian gegas dan cemas
berlari menuju arah matahari

panas mana yang tak membawa lekang
hujan mana yang tak mengguyur lapuk
dalam kesepian patung itu merawat lumut. tubuh yang rapuh
tahun demi tahun dijinjingnya sebagai sembilu
kadang kudengar ia seperti bernyanyi
tentang dusun-dusun yang ditinggal. tentang kekasih yang malang
atau barisan ibu-ibu merindu
tapi orang-orang datang. orang-orang terus datang!
ia tak sanggup menampungnya
di gedung dan tepi jalan. rumah kontrakan atau pinggir selokan
semua tak lagi berdinding beda
“kaukah lelaki pencari kata-kata?
di sini yang tersisa hanya tanda tanya!”
aku lihat orang-orang semakin berpacu ke arah matahari

patung itu. matanya tajam
pagi siang dan malam airmatanya tumpah ke jalan-jalan
“berapa nasib lagi harus kutampung di kota sesempit ini?
mereka berduyun-duyun datang mencari
jantungku bercendawan dalam kehilangan!”
tak aku dengar suaranya. tapi dadaku serasa tertikam



Simpul 1

pergi dan pulang. sebuah perang berkepanjangan
di dalamnya keasingan meledak
ke kota kata-kata diburu. di ranah jengkal demi jengkal jadi sekam

kampung dan rantau. silang dalam diri
perselisihan angan dan impian
yang berangkat memburu matahari. orang tinggal menunggu di bawah bulan

lengang dan riuh. pertempuran yang tak usai
kecamuk dari segala bimbang
sebagian berpeluh menegakkan tiang. selebihnya tetap tak pulang-pulang


Anak-anak yang Lahir Kelak

suatu saat. bila kaulewat di kota ini
di ujung malam terdengar suara ibu-ibu berdendang
kanak-kanak larut dalam dongeng
atau gadis-gadis remaja yang menyurukkan malu ke balik jendela
hanyalah wajah mimpi yang tengah mengurungmu
sesungguhnya kota yang dulu kausebut kampung
kini telah menjelma deras perpacuan
maka pada anak-anak yang lahir kelak. sampaikanlah!
bahwa malin. lelaki berusia letih
telah dicampakkan ke rantau lain. rantau paling asing
biarkan anak-anak itu menangis
airmatanya kutunggu di tepian. sebagai teman kesunyian

suatu saat. bila kaulewat di kota ini
akan kaulihat seseorang tengah menggali
mencari nama-nama yang hilang
dan tentang keratau tempat bercermin. mimpi berbuah retak
atau gerombolan masa lampau lelaki yang bergegas
barangkali igaumu saat kota yang kausebut kampung menangis parau
di sawah padi-padi menguning. tapi burung pipit terbang sendirian
ke mana kawa diantarkan
seorang anak bermain ketapel. dari langit harapan jatuh
yang terkena hanyalah ranting angin
sebab pohon sidomang atau kalimunting tak lagi ada
maka pada anak-anak yang lahir kelak. sampaikanlah!
bahwa malin. lelaki yang menuju tua
dalam dirinya membangun gubuk
sebuah jembatan kayu. menuju ke tepian
tempat akan kusempurnakan kesepian

suatu saat. bila kaulewat di kota ini
sejeram arus yang dulu kausebut kampung
di dalamnya akan kau temukan barisan mimpi yang tergadai


Simpul 3

bila burung-burung tersesat arah pulang
malam letih. perjalanan bakal panjang
jerami, dedaunan, juga suara rusuh anak yang memanggil
di satu dahan ia buat sarang. sebentar lagi bila hujan reda
akan ia lunaskan segala bentuk penantian

bila di perjalanan yang terlihat hanya orang-orang bimbang
ranah berganti nama. ibu-ibu bermata murung
maka berlarilah ke hutan-hutan
meranti, jua, mahoni, dan tebang segala pohon sebelum segala jadi kota
bersama kita bangun kembali harapan yang hilang

bersama kita bangun kembali rumah gadang


Syal Berwarna Hitam

di terminal hari menjadi senja, renggali
ketika kau antar aku pada kesepian. jam-jam luruh
waktu seolah mengibarkan permusuhan. “sesungguhnya,
aku tak ingin kauberangkat secepat ini. luka masih basah
angin yang gemetaran terasa berkesiur aneh!”

bus malam itu pun melintas di kelok-tikungan
lereng bukit dan kebun kopi. di antara tatap mata kosong
dada siapakah yang runtuh. ketika saman dan didong masih mengiang

kini aku di kota yang lain, renggali
melipat-lipat kabar. tentang kisah yang berulang
“bila kaukembali. kami sudah tak punya rumah lagi!” lirih siapakah itu
memagut jarak yang kita rentang. dan sehelai syal yang kauberi
airmataku tumpah di atasnya

Iyut Fitra, lahir dan menetap di Payakumbuh Sumatera Barat. Bukunya yang sudah terbit: Musim Retak (Kumpulan Puisi), Dongeng-dongeng Tua (Kumpulan Puisi), Beri Aku Malam (Kumpulan Puisi), Orang-orang Berpayung Hitam (Kumpulan Cerpen), Baromban (Kumpulan Puisi) Aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.



KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 Februari 2018 - 02:17 wib

Ahok Akan Sampakan Bukti Istrinya Selingkuh

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:56 wib

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:43 wib

18 Tahun Hino Ranger Jadi Market Leader di Indonesia

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:16 wib

KFC Tutup Ratusan Restorannya

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:58 wib

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:44 wib

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:31 wib

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:02 wib

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Follow Us