Tak Henti Menari

Minggu, 06 Mei 2012 - 08:03 WIB > Dibaca 2877 kali | Komentar

Beginilah Abdul Wahab menulis dalam pesan pendek (SMS) yang sampai di telepon genggam saya hari itu. ‘’Kata Sutardji Calzoum Bachri, Rumi menari bertemu dia, tapi di mana Rumi kini?’’ Saya langsung ingat, presiden penyair Indonesia yang lahir di Rengat itu bertutur dalam sajaknya bertajuk ‘’Sampai’’ (1987), lebih lanjut menulis, ‘’kami tidak di mana-mana/ kami mengatas meninggi/ kami dekat.’’

Bukankah Jalalaludin Rumi terus menari. Badannya berputar-putar, jubahnya melambai, mengibar. Dari mulutnya melimpah kata-kata yang dikutip orang sebagai puisi. Sampailah ia meninggal, ketika diziarahi ribuan orang dari lintas agama, Rumi dikenal sebagai sufi agung yang menari.

Cuma gerak dan lambai tangannya, geleng dan sentakan lehernya, belum juga berhenti. Terus berputar-putar, terus bergerak, seperti berbagai planet yang berjalan pada manzilah-manzilahnya. Bulan berputar sampai membentuk tandan kurma yang tua, misalnya. Seperti juga halnya, tiada orang berhenti memutari Ka’batulah di Makkah al-Mukarramah dalam ritual ibadah thawaf.

Syahdan, Hang Jebat pun menari saat menghadapi kematian. Begitulah semula kematian yang datang kepadanya membentang, menjadi lapangan berwarna hijau. Embun tipis melayap di atasnya, ditembus bulan purnama yang seperti baru merekah dari tampuk. Hang Jebat tersenyum, tapi kemudian tangannya sebelah kanan yang tertekuk, dengan tangan kiri menyentuh siku kanan, berkelebat; grus... ‘’Ayo, Kanda Tuah,’’ katanya sambil menggerakkan jari telunjuk.

Tuah memandang Jebat nanar, tapi ekor matanya siap melompat ke segenap penjuru. Pelan-pelan pula ia tancapkan kaki kanan ke bumi dengan paha yang mengeras. Hulu keris tameng sari, digenggamnya setelah dikepal berkali-kali. Senjata dari Jawa tersebut seperti paham bahasa hati, terlihat sedikit meronta bagaikan tak rela memandang tikai dan tikam.

‘’Telah kuserahkan keris itu pada Kanda, sebab hanya dengan asbabnyalah aku akan terbunuh,’’ kata Jebat. Kaki kanannya melangkah tanpa menukarkan gerak dengan kaki kiri, seperti memasuki lapangan berwarna hijau dengan layapan embun tipis yang ditembus cahaya bulan purnama tadi. Sebentar kemudian, telapak kaki kirinya seperti terseret membuat putaran delapan puluh derjat, lalu berhenti dengan satu sentakan pada tungkai. Hups...

Sungguh Jebat yakin bahwa ajalnya di tangan Tuah. Mendurhaka, itulah cap yang diberikan padanya, sebagai dosa yang tak terampun dalam khazanah Melayu. Dan ia terima hukuman itu tanpa banyak dalih asalkan dilakukan oleh Tuah, orang yang ia bela dan ia puja. Tapi Jebat ingin mati dalam gerak. Karena dalam gerak, semuanya akan menjadi, yang kita kemudian menamakannya sebagai silat.

Tuah dan Jebat bersilat, betapapun mereka sudah dapat membayangkan dengan pasti, siapakah yang akan berhenti bergerak terlebih dahulu —menjumpai rumus di antara diam ke diam. Pada mulanya diam, bukankah akhirnya akan diam? Di antara diam itu ada gerak yang harus dikelola agar menghasilkan diam yang diimpikan. Jebat mengimpikan mati dalam silat, mati dalam tari, sebagaimana pujangga Hasan Junus mengatakan bahwa sesungguhnya silat adalah tarian mengantar kematian.

Mengimpikan Kehidupan
Aduhai, Mak Semah di Siak, lain lagi. Dia mengepangkan tangannya dengan selendang yang melintasi pundak. Sebentar ditatapnya balai-balai dengan seseorang yang terbaring. Berbuat seperti itu, telapak tangannya bergerak-gerak seperti orang melambai dengan ritme patah-patah. Tak lama kemudian, kaki kanannya berinsut, disusul kaki kiri seperti menyapu lantai. Sedikit lenggokan di leher, menyebabkan tubuhnya terayun, terayun-ayun.

Lihatlah Mak Semah. Semua anggota tubuh Mak Semah sudah bergerak. Tangannya yang terkepang berayun ke atas ke bawah, sementara kaki-kakinya membuat langkah, mengelilingi balai-balai dan orang yang terbaring tadi. Mak Semah terlihat seperti terbang dengan jumbai kepak pada selendang. Sesekali terdengar ia berucap, ‘’Tabale-bale, heh...’’

Mak Semah terus seperti melayang-layang. Dalam beberapa langkah, ia sempat berhenti dengan tangan yang terus mengepak-ngepak, sementara matanya tak lepas dari balai-balai dan orang terbaring. Mak Semah terlihat seperti elang, mengangkasa dan melayap. Mak Semah menukik, Mak Semah melambung. Mak Semah terus terbang yang kita kemudian menamakannya sebagai tarian olang-olang.

Bukankah dengan tarian itu, Mak Semah mengimpikan kehidupan? Sebab kehidupan memang harus digerakkan dengan suatu gerakan yang terajut pada impian dan makna. Menjumpai gerakan yang tidak teratur baik menjelang kematian dan menjemput kehidupan, hanya berkawan dengan kekecewaan yang luasnya tiadalah bertepi. Maka bukankah tepat apabila Abdul Wahab, masih melalu SMS-nya mengatakan bahwa tarian adalah suatu sistem mengorganisasi gerak untuk maksud-maksud kemanusiaan.

Fitrah gerak hanya ada dalam fungsi. Setelah Allah SWT menciptakan dunia ini dengan simbol kata agar manusia paham yakni ‘’Kun!’’ (sebab Allah Maha Pencipta termasuk tanpa kata), geraklah yang kemudian menjalankan fungsinya. Kesan saya (bukan tafsir), bukankah sengaja Allah sebutkan dalam Alquran, bagaimana planet dan embel-embelnya bergerak sesuai dengan mazilah-manzilahnya yang menunjukkan adanya pengorganisasian gerak?

Udara takkan berguna kalau tidak bergerak dengan aturan tertentu, sehingga menimbulkan angin yang mungkin menjadi penyejuk bagi petani setelah sekian jam membalik-balik tanah. Air yang bertakung akan menjadi penyakit, setidak-tidaknya akan menjadi sarang nyamuk. Orang yang tidak bergerak akan disebut lumpuh. Jadi, gerak adalah suatu aktivitas yang semula jadi.

‘’Boleh kan, kalau aku ingin memaknai Hari Tari Sedunia yang jatuh Ahad lalu (29/4) semacam ini? Tidak sekadar melenggang-lenggok, apalagi tanpa henti 24 jam, karena sesungguhnya kita tak pernah berhenti menari. Menari...,’’ tulis Wahab.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 67 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 42 Klik

Follow Us