Nelayan

Minggu, 06 Mei 2012 - 07:58 WIB > Dibaca 5759 kali | Komentar

Nelayan, bak sebuah cerita panjang dan sekumpulan pemandangan. Dia pergi, mencari dan pulang. Pulang menjejerkan kemiskinan dari abad ke abad.  Tak ada cerita ceria mengenai orang dan upaya menemukan ikan. Hemingway, bersendiri di atas perahu dan membangun cerita menusuk ke lorong waktu nan jauh memucuk, sebelum ikan menggoda ujung jemari. Kajian antropologi, seakan menderetkan pemandangan rumah atap daun, bubungan dan perabung rumah asimetris,  berpelantar jengki, selaksa ikan jemuran yang kaku di atas lapak pelantar yang diuapi air asin. Studi sosiologi, menghidang bau amis dan pesing sepanjang pelantar, kanak-kanak yang tak bersental gigi, tak berkasut, memanjat pagar sekolah yang rebah. Dokumentasi Discovery, melempar citra grafis dan tubuh berbalut tulang menonjol sekitar bahu, panggul, dan ketiak.

Nelayan menggulung rimba samudera, suak sempit, teluk, anak sungai dan danau yang teduh. Sebuah cara bertahan hidup yang dilakukan manusia Asia, Eropa dan hampir merata benua di atas planet elip ini. Demi menggagah badan dan sejarah, dilekatkanlah era perdana ini sebagai era bahari, maritim. Sebuah era dengan sejumlah penanda yang digempitakan dengan kisah takluk-menakluk, temuan tanah-tanah baru dan koloni manusia baru di tanah baru, lalu terjadi perang. Perang terjadi setelah orang petah dan pandai menjadi nelayan; menangkap ikan. Hari ini, malah ketika sesama penangkap ikan saling berperang, tersebab wilayah daulah yang kian sempit dan bersinggungan. Jumlah manusia kian bertambah, laut berukuran tetap. Maka pecahlah konflik berbau maritim, perang maritim yang tak kuasa dielak. Karena pertempuran berlangsung di atas air, ganasnya laut dan gelombang yang menyungkup, buih yang menindih.

Sue O’Connor dari Australian National University melakukan revisi tentang masa kehidupan nelayan yang dianggap bermula sejak 12.000 tahun silam. Sebenarnya telah berlangsung 30.000 tahun. Ihwal ini diperkuat ketika manusia mengenal ilmu maritim dan mengail ikan di laut dalam, malah sudah berlangsung sejak 42.000 tahun. Sebuah kurun waktu yang panjang. Manusia hanya diperhadapkan pada dua keadaan; darat atau laut. Begitu sebaliknya. Darat pulang, laut pergi. Pergi dan pulang hanya ditandai antara basah dan kering: pergi basah, pulang kering. O’Connor melakukan riset di pantai barat Australia, di tempat ini warga lokal menemukan sebuah gua purba yang diduga sebagai ‘polis maritim’ dengan tinggalan belulang dan cangkang kerang nan rimbun. Tapak ini, diperkirakan sebagai tapak mukim kaum pendatang atau penyeberang dari Asia pernah bermastautin.

Temuan di gua kuno itu antara lain 10.000 bit batu, tulang, kerang. Dan sebagian besar belulang itu adalah ikan tuna, hiu serta beberapa jenis ikan laut dalam lainnya yang hanya mungkin ditangkap dengan sokongan teknologi penangkapan dan armada angkut @ kapal yang terbilang maju di zaman itu, untuk membawa hasil tangkapan dari laut dalam ke tapak gua kuno tinggalan ini. Pada ketika itu, adakah perang? Ya, perang ialah bawaan alamiah sebagai katup pengendali. Bertelagah, bertembung atau berperang dalam berbagai skala membuat manusia berpencar mengisi sudut-sudut bumi yang lain. Gerakan berpencar yang paling aman adalah melalui laut. Orang-orang di kota Sidon, Jericho sepanjang pantai Poenisia ialah para perajin kapal yang tangguh. Mereka pakar membangun biduk panjang, menangkap ikan. Ada dugaan para rabiun Yahudi yang dianggap gembala Yesus yang 12 itu selain eksodus melalui darat, malah lebih banyak melintas lewat laut. Dan mereka selamat, walau dalam misteri panjang hingga hari ini.

Para nelayan ialah kanak-kanak pembaca bintang dalam pangkuan Tuhan. Mereka berlayar membelah bukit-bukit air dengan kaki yang kering. Menuju timur, menggoda matahari, demi selamat dari sebuah pelarian berdarah. Musafir Fatimiyah juga membawa kisah air mata dan darah dengan renjana yang calar. Mereka menuju pantai barat Andalas dan menyamar sebagai nelayan yang lelah. Persuaan benua dengan manusia-manusia baru di tanah Andalas, menjahit kalam, menyulam mitos-mitos lokal dan membentuk ummah tauhid yang menusuk garis tegak menikam langit. Para ‘nelayan’ ini pula yang membangun istana di Kuntu setelah sepurnama berkuda melintas gunung menuju arah masyrik. Mereka hanya rela menatap maghrib dari kejauhan. Dari tanah nan jauh. Sesuatu yang tinggi, kian bernilai gemala ketika ditatap dari kejauhan. Begitulah para ‘nelayan’ ini, menjelma jadi para amir, sufi dan wali yang mencerahkan sebenua bani yang gagu dan kelu tentang sesuatu yang tinggi dan tak jamak.

Nelayan, miskin, hodoh dan ledah ialah kenyataan simetris yang menikam waktu asimetris. Betapa banyak anak nelayan yang naik ke puncak gunung, namun tetap lupa dengan kulit, laik sebutir kacang. Walhasil, nelayan tetap miskin dan kedana. Betapa banyak anak nelayan yang memetik bintang, ketika datuk nenek mereka hanya mentakwil bintang. Namun bintang di tangan anak nelayan, tak mengubah dunia yang kelam jadi benderang dan cerah. Nelayan, tetaplah kanak-kanak pembaca bintang dalam pangkuan Tuhan yang cerah. Sebuah tradisi ‘mencari’ yang amat tua dan renta. Dia memulai, dan selalu harus setia dengan keletihan-keletihan bernada semula dan serba mula. Para pemula bukan pula pengakhir. Mungkin dia hadir hanya setakat penyedia kias, umpama dan alegori. Para penulis pun bergairah menghidang kisah nelayan tanpa jeda; dari malam ke malam, dari sufuk ke sufuk dan tetap tak kuasa membongkar amis dan pesing. Bahwa kehidupan ini mestilah tidak semata datar, harum dan selalu diselingi bau pesing, supaya kita tahu bagaimana sedapnya hiduan sesuatu yang disebut wangi. Nelayan memang kias yang meniup kisah bebauan dan aroma; antara sedap dan tak sedap.

Pada sebuah siang yang tegak, perempuan tua itu berkayuh dengan wajah tertutup kain kumal. Berkayuh di sebatang sungai, tanpa suara. Dia juga nelayan? Atau makhluk bunian? Pada sebatang sungai bernama Kampar, tak jauh dari Telukmeranti. Kias dan alegori itu pun terhenti.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 417 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 60 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 37 Klik

Follow Us