CERPEN ADAM YUDHISTIRA

Udin Ingin Pergi ke Surga

1 Oktober 2016 - 23.39 WIB > Dibaca 3542 kali | Komentar
 
Udin Ingin Pergi ke Surga

 GEMBIRA di wajah Udin secerah langit tengah hari. Ia duduk di bale-bale bambu sembari menantikan  penjelasan ibunya tentang surga. Tidak ada hal lain yang bisa membuat Udin begitu gembira sekaligus penasaran selain surga. Sejak kecil Udin hanya tinggal bersama ibunya. Bila ia sedang merindukan sosok bapaknya, maka ia akan merengek-rengek dan bertanya tentang surga, sebab setiap kali ia bertanya tentang bapaknya, maka ibunya pasti memberi satu jawaban yang disukainya: bapaknya ada di surga.

“Di surga, aku betul bisa bertemu dengan bapak?” tanya Udin.

“Oh  tentu,” sahut Julaiha. “Di sana bapak menunggu kita. Kau bisa bertemu bapak di surga asal kau rajin salat, Nak. Kau sudah salat?”

“Aku baru selesai salat Zuhur, Mak,” jawab Udin riang.

“Iya, baguslah,” jawab Julaiha sembari mengusap kening anaknya. “Kau pasti akan bertemu bapak di surga.”

Udin mengangguk kemudian meraih tangan ibunya. “Aku pergi dulu, Mak. Mang Kasim pasti sudah menungguku di dermaga, assalamualaikum....” katanya usai mencium punggung tangan Julaiha.

Walaikumsalam, hati-hati, Nak.” Julaiha memandangi tubuh bocah kecil itu dengan dada rengkah seperti dihantam kayu berduri. Udin selalu merindukan bapaknya. Sungguh sebuah kerinduan yang tak akan pernah sampai ke muara.

***

Selepas pulang sekolah Udin pergi ke dermaga menemui Mang Kasim. Dengan perahunya, Mang Kasim kerap mengajak Udin mengantar hasil bumi dari desa-desa di pesisir yang hendak dijual ke kota kabupaten. Jalur sungai menjadi pilihan penduduk satu-satunya, sebab jalan beraspal belum sampai ke desa mereka.

Biasanya, selesai membantu Mang Kasim, Udin akan duduk di dermaga sampai senja. Tempat itu sebetulnya tidak layak disebut dermaga, tapi penduduk sekitar sudah kadung menyebutnya dermaga. Hanya ada sebuah gubug kecil beratap daun nipah dan beberapa tonggak kayu untuk menautkan tali perahu di sana. Gubug itu milik Mang Kasim. Letaknya tepat menghadap ke sungai dan perbukitan.

Udin pernah diceritai guru agamanya, bahwa di surga mengalir sungai-sungai dan gunung-gunung bercahaya. Senja yang berkilau dan mengoleskan pendarnya di permukaan sunga, warna kemerahan yang membungkus perbukitan, membuat Udin menjiwai apa yang diceritakan guru agamanya.

“Mang, apa kau pernah pergi ke surga?” tanya Udin pada lelaki beruban yang sedang duduk di sampingnya menjirat jala yang terkoyak. Siang hari sudah berganti menjadi senja ketika Udin melempar tanya itu pada Mang Kasim.

Lelaki tua itu terkekeh, “Kalau ingin pergi ke Surga berarti aku harus mati dulu, Din.”

“Kalau begitu Bapakku memang sudah mati.” Pandangan mata bocah itu lesat menembus awan-awan pirau di manik langit. Bola mata lugu itu berkaca-kaca. “Ibu selalu bilang kalau Bapak ada di Surga.”

Mang Kasim menghela napas. “Iya Ibumu memang benar, Din. Bapakmu ada di Surga.”

Mang Kasim menatap wajah Udin dengan dada disamaki rasa haru. Terlihat dari tatapannya, lelaki tua itu sangat meyayangi Udin. Masih lekat dalam ingatannya ketika Sobari dikabarkan tewas sepuluh tahun silam. Ketika itu Udin masih di dalam perut Julaiha. Di siang naas itu, ia dan orang-orang menandu tubuh Sobari yang mati ditimpa kayu di hutan Kelingi.

“Kenapa orang harus mati dulu agar bisa pergi ke Surga?” tanya Udin memecah lamunan Mang Kasim. Lelaki tua berkulit tembaga itu tercenung. Ia kehilangan kata-kata. Mang Kasim mencari kata paling mudah untuk dicerna pikiran kanak-kanak Udin. Seekor capung merah hinggap di ujung daun keladi, kemudian terbang lagi. Capung itu menjentik-jentikkan ekornya di permukaan sungai yang mengalir begitu tenang.

“Kau pernah melihat capung keluar dari punggung kumbang air?” tanya Mang Kasim.

Udin mengangguk. Mang Kasim tersenyum. Tak mungkin pula Udin tak tahu. Bocah itu nyaris menghabiskan separuh waktunya di pinggir sungai, mustahil ia tak tahu cikal bakal adanya capung yang kerap ia tangkapi bila sedang merasa bosan lantaran tak ada muatan atau jika arus sungai sedang tidak bersahabat.

“Seperti itulah mungkin cara menuju surga,” jawab Mang Kasim sebisa-bisanya. “Kumbang air harus mati dulu agar bisa menjadi capung. Capung yang bersayap dan dapat terbang ke banyak tempat.”

Mata Udin berbinar mendengar penjelasan itu, “Oh jika aku punya sayap dan bisa terbang. Aku bisa menyusul bapak ke surga,” katanya sambil berdiri merentangkan tangan seperti bersiap untuk terbang.

“Jangan dulu. Kau masih terlalu muda,” seloroh Mang Kasim. Lelaki tua itu tertawa hambar. Ia lalu menggantung jala dan meneguk kopi yang mulai dingin ditiup angin. Ada rasa pahit yang menggelontor di dada lelaki tua itu, rasa pahit yang berbeda dari rasa pahit kopi yang disesapnya.

Sesaat Udin terdiam. Kepala kecil itu mengangguk-angguk. Senyum terkulum di bibirnya. Senyum misterius yang hanya Udin yang tahu apa rahasianya. Bocah itu bangkit dari duduknya dan berlari cepat meninggalkan Mang Kasim tegak di lantai papan dermaga.

“Hei,Udin. Kau mau ke mana!?”

“Aku mau pergi ke surga!” jawab Udin tanpa menoleh. Ia berlari sambil merentangkan tangan. Kali ini dengan mengepak-ngepakan tangannya seolah betul-betul sedang terbang. Udin makin jauh meninggalkan dermaga dan gubug Mang Kasim. Lelaki tua itu hanya bisa tersenyum saat menatap tubuh Udin yang lenyap ke balik tikungan setapak yang dirimbuni semak ilalang.

***

Malam sudah terlampau tua. Bulan membakar pucuk-pucuk pepohonan. Julaiha sudah terlelap, tapi Udin masih terjaga. Mata bocah itu liar menerawang ke langit-langit. Kata-kata Mang Kasim kemarin terngiang-ngiang di telinganya: cara pergi ke Surga cuma satu, ia harus mati dulu. Kata-kata itu seperti pulut yang menjerat pikiran Udin. Melekat erat hingga menciptakan ilham di kepalanya.

Udin betul-betul rindu. Ia ingin segera menemui bapaknya. Udin acap kali murung melihat teman-temannya bermain bersama bapak mereka. Sedangkan ia tidak. Cuma ada ibu dalam hari-harinya. Cuma ada Mang Kasim. Udin memejamkan matanya. Ia mendengarkan suara-suara di dalam kepalanya dengan hati dicekat tanda tanya.

“Seperti apa rupanya surga? Adakah Bapak di Surga?”

Demikian suara-suara dalam kepala Udin. Semua syarat pergi ke Surga sudah disiapkan. Ia tak pernah meninggalkan salat, sebab kata ibunya, salat adalah syarat utama masuk Surga. Udin juga telah menyiapkan bubuk yang ia temukan di gubug Mang Kasim.  Ia masih ingat raut tegang lelaki tua itu ketika ia menyentuh bubuk itu.

“Kau bisa mati!” jerit Mang Kasim dengan mata melotot. “Itu bubuk putas. Kalau dilihat orang sekampung bisa kena masalah kita!”

Udin tersenyum. Akal bulusnya berhasil mengelabui Mang Kasim. Ia berpura mengembalikan bubuk itu ke tempatnya dan Mang Kasim percaya. Saat lelaki tua itu silap mata, Udin menyambar bubuk itu lagi, lalu menyimpannya ke balik saku.

Sekarang semuanya sudah siap. Udin akan memulai perjalanannya ke surga. Sesekali bocah itu melirik ibunya, meneliti seberapa lelap perempuan itu tertidur. Udin menyenggol kakinya, memastikan ibunya telah terbenam dalam mimpi. Setelah betul-betul yakin, barulah ia bangkit dan turun dari tempat tidur tanpa bersuara.

Bubuk itu ia tumpahkan ke dalam cangkir plastik, kemudian diaduknya dengan air. Setelah cukup larut, Udin kembali ke kamar. Ia meletakkan cangkir itu ke atas meja di sisi kanan tempat tidurnya. Udin menunggu azan Subuh bergema, baru ia akan  berangkat ke surga.

Waktu berjalan tertatih-tatih. Serangga malam di luar dan cicak di dinding papan rumah bernyanyi syahdu. Sementara di atas tempat tidurnya, Udin masih setia membuka mata. Benak bocah itu ditaburi kemungkinan-kemungkinan yang membuat hatinya ragu. “Bagaimana kalau Bapak tidak mengenalinya? Atau bagaimana kalau Bapak tidak ada di Surga?

***

Mang Kasim berlari terengah-engah. Ia mendengar kabar bahwa siang itu ada penduduk yang mati minum racun. Rasa takut menusuk-nusuk. Alasan ketakutan itu teramat kuat. Bubuk putas yang ia simpan di atap gubug hilang. Tidak ada yang lain, pelakunya pasti Udin. Firasatnya tidak akan salah bila mengingat percakapan dengan bocah itu kemarin. Lari Mang Kasim terhenti. Bendera kuning terpancang layu di depan pintu. Suara orang-orang menangis terdengar jelas dari luar.

“Siapa yang meninggal?” tanya Mang Kasim pada orang-orang. Tidak ada yang menjawab. Dengan lutut gemetar, lelaki tua itu masuk ke rumah yang disesaki para pelayat. Di muka pintu lelaki itu terpancang kaku.

“Julaiha minum racun,” bisik seorang perempuan paruh baya.

“Iya, dangkal nian keputusannya. Apa tak terpikir olehnya nasib Udin?” sambung perempuan lain dengan nada prihatin.

Mang Kasim terduduk lemas. Para pelayat masih terus berdatangan. Namun di antara mereka tidak ada yang tahu bahwa tadi malam selepas Udin tertidur, Julaiha terbangun karena haus. Perempuan itu melihat cangkir plastik berisi air putih di atas meja. Ia meminumnya hingga tandas tak tersisa.***


Catatan:

Putas: Potasium Sianida merupakan kristal lembab bewarna putih, larut dalam alkohol, air, dan gliserol. Kegunaan untuk ekstrasi logam, pelapisan elektro, dan insektisida. Sangat beracun. Banyak disalahgunakan masyarakat untuk meracun ikan.

 Adam Yudhistira adalah cerpenis asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerpen-cerpennya telah dimuat di media massa lokal dan nasional, di antaranya. Cerpen-cerpen lainnya juga bisa dibaca di kumcer terbarunya: Rentak Kuda Manggani (Divapress 2015), Orang Bunian (Unsapress 2016). Dia bahagia menulis fiksi dan menikmati setiap proses kreatifnya. Tragedi, cinta, perang dan tema-tema sosial adalah oase ide yang paling sering dijadikannya inspirasi menulis. Pemenang harapan II lomba Menulis Dongeng Anak Nusantara Bertutur 2014 dan 2015 dan Pemenang Harapan Green Pen Award Perhutani 2016

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 16 Agustus 2018 - 11:30 wib

Dua Tersangka Karhutla Diamankan

Kamis, 16 Agustus 2018 - 11:06 wib

Beroperasi di Tujuh TKP Lintas Daerah

Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:57 wib

PKS Setuju Djoko Santoso Pimpin Timses Prabowo-Sandi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:38 wib

Pejabat Tolak Jabatan Coreng Citra Pemko

Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:38 wib

Penjualan Sapi Kurban Mulai Meningkat

Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:31 wib

Fenomena di Antara Kambing Hitam dan Kuda Hitam

Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:26 wib

Yayasan Witama-Unri MoU

Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:22 wib

40 Pengendara Terjaring Razia Rutin

Follow Us