RESENSI BUKU

Wacana Kekinian Ekonomi Islam

10 September 2016 - 23.24 WIB > Dibaca 1783 kali | Komentar
 
Wacana Kekinian Ekonomi Islam
Oleh Muhammad Amin

Dalam beberapa tahun terakhir, produk halal mengalami peningkatan signifikan, baik dalam hal wacana maupun aplikasinya. Produk halal tak hanya menyangkut makanan, obat-obatan dan kosmetika. Produk halal ini juga mencakup wisata halal, fashion halal, juga perbankan halal. Semuanya mulai booming dan perhatian dari umat Islam, penduduk mayoritas di Indonesia. Di dunia, penerapan aplikasi produk halal ini juga meningkat, termasuk di negara yang berpenduduk mayoritas nonmuslim.

Penerapan syariat Islam di bidang perekonomian khususnya dan perbankan umumnya juga berkembang pesat. Perkembangan ekonomi Islam, baik sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai sebuah sistem ekonomi telah mendapat banyak sambutan positif di tingkat global. Dalam tiga dasawarsa ini, perkembangan itu mengalami kemajuan, baik dalam bentuk kajian akademis di perguruan tinggi negeri maupun swasta, dan secara praktik operasional.
Dalam aplikasinya, ekonomi Islam di Indonesia berkembang sejak didirikannya Bank Muamalat Indonesia tahun 1992, dengan landasan hukumnya UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang telah direvisi dalam  UU nomor 10 tahun 1998. Selanjutnya berturut-turut telah hadir beberapa UU sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kemajuan aplikasi ekonomi Islam di Indonesia.

Pada dasarnya, ilmu ekonomi Islam tumbuh dan menjadi gerakan perekonomian Islam sejak seperempat abad yang lalu. Praktik perbankan sendri, di zaman Rasulullah dan sahabat telah terjadi karena telah ada lembaga-lembaga yang melaksanakan fungsi-fungsi utama operasional perbankan, yakni menerima simpanan uang, meminjamkan uang atau memberikan pembiayaan dalam bentuk mudarabah, musyarakah, muzara’ah dan musaqah, serta memberikan jasa pengiriman atau transfer uang.

Istilah-istilah fiqh di bidang ini pun muncul dan diduga berpengaruh pada istilah teknis perbankan modern. Misalnya istilah qard yang berarti pinjaman atau kredit menjadi bahasa Inggris credit dan istilah suq jamaknya suquq yang dalam bahasa Arab harfiah berarti pasar. Ia bergeser menjadi alat tukar dan ditransfer ke dalam bahasa Inggris dengan sedikit perubahan, lalu menjadi check atau cheque dalam bahasa Prancis.

Fungsi-fungsi yang lazimnya dewasa ini dilaksanakan oleh perbankan telah dilaksanakan sejak zaman Rasulullah hingga Abbasiyah. Istilah bank tidak dikenal zaman itu, akan tetapi pelaksanaan fungsinya telah terlaksana dengan akad sesuai syariah. Fungsi-fungsi itu di zaman Rasulullah dilaksanakan oleh satu orang yang melaksanakan satu fungsi saja. Sedangkan pada zaman Abbasiyah, ketiga fungsi tersebut sudah dilaksanakan oleh satu individu saja. Perbankan berkembang setelah munculnya beragam jenis mata uang dengan kandungan logam mulia yang beragam. Dengan demikian, diperlukan keahlian khusus bagi mereka yang bergelut di bidang pertukaran uang. Maka mereka yang mempunyai keahlian khusus itu disebut naqid, sarraf, dan jihbiz yang kemudian menjadi cikal bakal praktik pertukaran mata uang atau money changer.

Peranan bankir pada masa Abbasiyah mulai populer pada pemerintahan Khalifah al-Muqtadir (908-932). Sementara itu, saq (cek) digunakan secara luas sebagai media pembayaran. Sejarah perbankan Islam mencatat Saefudaulah al-Hamdani sebagai orang pertama yang menerbitkan cek untuk keperluan kliring antara Bagdad, Iraq dengan Alepo (Spanyol).

Dengan pentingnya institusi perbankan ini, maka berdirilah gerakan lembaga keuangan Islam modern pertama kali yang muncul di Mesir, karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan fundamentalis. Pemimpin perintis usaha ini Ahmad El Najjar, mengambil bentuk sebuah bank simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di Kota Mit Ghamr pada tahun 1963. Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir.

Sejalan dengan ini mulai terbentuklah Islamic Development Bank (IDB) yang kemudian berdiri pada tahun 1974 disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam organisasi konferensi Islam. Awalnya, IDB adalah bank antarpemerintah yang bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara anggotanya. IDB menyediakan jasa pinjaman berbasis fee dan profit sharing untuk negara-negara tersebut dan secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada syariah Islam.

Buku ini membahas ekonomi makro Islam sebagai studi pembangunan yang membandingkan sistem ekonomi Islam dengan kapitalisme, sosialisme, dan welfare state. Kelembagaan yang dibahasnya pun lebih komprehensif, dari mulai perbankan Islam, wakaf, ZIS (filantropi), asuransi, hingga koperasi Islam.

Ada kelebihan khusus pada buku ini, yakni pengayaan konseptual. Referensinya tak hanya dari buku-buku klasik, melainkan juga kontemporer. Tak hanya buku-buku mazhab Syafii, tapi juga diperkaya dengan mazhab lainnya. Kelebihan lainnya adalah soal riset lapangan yang ditampilkan dengan data kuat di buku ini. Buku ini juga memuat praktik ekonomi makro dan praktik kelembagaan ekonomi Islam di Indonesia.

Perspektif yang dibangun dalam buku ini adalah perspektif interdisipliner, bahkan multidisipliner. Ekonomi Islam dalam buku ini didekati lewat perspektif politik, sosiologi, filsafat ekonomi dan fikih. Entitas ekonomi Islam dalam buku ini tidak saja didekati secara empiris sebagai ilmu ekonomi, melainkan juga secara rasional dan iluminatif (berdasarkan wahyu), termasuk di dalamnya pendekatan teologi dan studi hadis.*** 
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Follow Us