CERPEN AHMAD IJAZI H

Puding Zebra Capuccino

3 September 2016 - 23.21 WIB > Dibaca 3088 kali | Komentar
 
Puding Zebra Capuccino
KALAU sore-sore begini, sudah bisa ditebak. Amanda pasti sedang duduk di tempat yang teduh itu. Di halaman belakang. Di bawah pohon rambutan tua yang daunnya rimbun, tetapi tak sedang berbuah itu.

Dari balik teralis jendela dapur, Albert gemar sekali mengintip tingkah laku istrinya itu dari kejauhan. Kebiasaan yang sungguh aneh. 

Amanda menekan kuat-kuat punggungnya ke sandaran kursi. “Sepertinya cukup untuk hari ini.”

Albert menghampirinya, membawa segelas minuman jeruk dingin. “Sedang banyak orderan sepertinya?”

“Bagaimana menurutmu?” Amanda memerlihatkan hasil goresan tangannya itu kepada sang suami.

“Hmm, gaun perempuan dewasa untuk acara formal. Ribet juga kelihatannya.”

Amanda tahu, suaminya itu memang kurang menyukai segala jenis busana yang terlalu formal. Albert lebih menyukai pakaian yang ringan dan simpel. Seperti yang ia  kenakan kali ini. Celana jeans di atas lutut dengan atasan t-shirts polos. 

Albert mengamati sketsa buatan istrinya itu, lekat.    

Amanda tersenyum. Ia tahu, suaminya itu punya kepekaan yang ajaib, yang terkadang tak sampai terpikirkan oleh otak perempuannya. Ide-ide dari si pemilik kepala berambut gondrong itu sering muncul mengejutkannya.

Albert masih mengamati.

Sembari menunggu, Amanda menjelaskan, materi chiffon yang nantinya ia pilih untuk gaun itu adalah warna hijau lembut. “Pada bagian dada, akan dipermanis dengan detail bunga serta kilau aksesoris manik-manik.”

“Kalau aksen tali di bagian ini dihilangkan sebelah, bagaimana?” Albert menunjuk pada bagian yang ia maksud.

“Hmm…” Amanda memandang sketsa buatannya itu sekali lagi, dengan lebih teliti. Ia tersenyum. Lalu mengendikkan bahu. “Baiklah. Nanti akan aku pertimbangkan lagi idemu itu.”

Amanda merapikan kertas-kertas sketsanya. Ia tetap terlihat cantik dengan cardingan pastel yang ia kenakan, meski gurat lelah muncul di beberapa bagian sudut matanya.

“Koleksi butikmu semakin diminati. Tetapi kau tak boleh bekerja terlalu keras.” Albert menyodorkan minuman jeruknya. Amanda menyeruputnya.

“Ibu-ibu penyerbu toko kue basahmu itu yang menjadi pelanggannya.” Amanda bersyukur, punya suami yang cerdas membaca lahan bisnis menguntungkan, mendesain butik dan toko kue basah bersebelahan. Sungguh, itu ide yang sangat brilian, bukan?

Amanda berdiri, hendak beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba Kevin muncul membawa sepiring puding zebra cappuccino kesukaannya.

“M-mama... mau... c-coba... pudingnya, enggak?” tawar Kevin dengan aksen gagapnya yang terdengar semakin berkurang dari hari ke hari.  

Amanda tertegun. Puding zebra cappuccino itu? Hhh, entah sudah berapa kali ia mencoba membuatnya. Mati-matian belajar pada sang suami, tetapi tak pernah sekalipun berhasil. Hanya Albert yang mampu membuatnya dengan takaran yang pas dan sempurna. 

***

Tante Linda menatap takjub pantulan tubuhnya di cermin itu. Gaun berwarna hijau lembut itu melekat dengan amat pas di tubuhnya.

“Keren sekali jadinya!” Tante Linda meletakkan kedua belah tangannya di pinggang.

Memosisikan lekuk tubuhnya, bergaya dengan amat cantik seperti layaknya seorang pragawati.

“Syukurlah, kalau Tante menyukainya.” Amanda lega. “Tadinya aku sempat khawatir juga, Tante akan complain. Soalnya, ada detail yang sedikit dirubah dari desain awal.”

Tetapi Amanda tetap membuat sebuah gaun lain yang sesuai dengan desain awal. Kalau akhirnya gaun itu yang Tante Linda pilih, tentu gaun yang satunya lagi akan ia jadikan sebagai koleksi terbaru butiknya nanti.  

Tante Linda mengamati gaun yang ia kenakan itu dengan lebih seksama. Sekarang, ia mengangguk-angguk mengerti. “Ternyata, dengan hanya menggunakan satu tali, gaun ini jadi terlihat lebih glamor dan mahal, ya.”

“Itu idenya Albert, lho.”

“Hah? Suamimu yang gondrong itu?” Mata Tante Linda membulat. “Wah, wah... selain jago bikin kue, ternyata dia punya selera fashion yang bagus juga.”

Amanda tersenyum.

“Kalau dilihat-lihat, Albertmu itu ganteng juga. Hidungnya yang mancung berpadu dengan brewok tipis di wajahnya cukup menggoda. Sekilas mirip Thomas Taw yang iklannya sering muncul di televisi-televisi swasta itu.”

Amanda tertawa.

“Kamu tidak pernah complain dengan gaya rambutnya yang gondrong itu? Coba sesekali sarankan undercut atau fade padanya. Pasti penampilannya akan lebih oke.” 

Amanda menggeleng. “Tetapi aku sangat menyukai gaya rambutnya yang gondrong itu, Tante. Rambut gondrongnya itu membuat ia jadi terlihat lebih istimewa dibanding laki-laki manapun juga.”

***

Jemari lentik Amanda lihai sekali memainkan piano itu. Di sebelahnya, Kevin asyik sekali ngerap lagu-lagu dari album lawas “The Marshall Mathers”-nya  Eminem. Meski memiliki keterbatasan, Kevin tetap berusaha keras menyanyikan lagu-lagu tersebut dengan baik.

Ed Sheeran, seorang musisi asal Inggris yang semasa kecilnya juga pernah menderita gagap itu, Amanda jadikan inspirasi. Ternyata, Kevin menyukainya. Ed Sheeran benar-benar bisa terbebas dari belenggu gagapnya hanya karena sering melatih suaranya dengan menyanyikan lagu-lagu Eminem. Amanda yakin, jika Ed Sheeran bisa sembuh, tentu Kevin juga pasti bisa.
 
“Kompak sekali!” Albert tiba-tiba sudah muncul saja, mengambil posisi di tengah-tengah mereka.

Amanda menoleh, memberi senyuman sekilas, lalu kembali memainkan pianonya. “Coba kau nyanyikan Just the Way You are-nya Brunomars.”

“Hah?” Mata Albert membulat.

“Kemarin aku tak sengaja mendengarmu menyanyikan lagu itu di toko kuemu. Kamu serius sekali mengukus kue, hingga tak menyadari kehadiranku saat itu.”

Albert menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Amanda tersenyum geli. Sebelumnya, ia memang tak pernah sekali pun mendengar suaminya itu menyanyi. Ia hanya tahu, suaminya itu gemar mendengarkan musik di sela-sela kesibukannya membuat kue. Yang jelas, aslinya, Albert itu memang pemalu sekali orangnya. Ternyata, setelah mendengarnya langsung, suaminya itu punya suara yang lumayan bagus juga.    

***

Amanda sedang memilah-milah koleksi gaun lamanya yang digantung di sebuah lemari besar di kamarnya. Saat tangannya meraih sebuah gaun malam berwarna gold, entah kenapa, tiba-tiba ada sirap aneh yang mendesir-desir di rongga dadanya.

Tangan Amanda gemetaran. Gaun itu, gaun yang seharusnya tak ingin ia lihat lagi seumur hidupnya!

Sungguh, Amanda tak akan pernah lupa. Tiga tahun yang lalu, di usianya yang ke-31, ia pernah mengenakan gaun itu dengan kebanggan penuh. Melangkah dengan penuh percaya diri di atas panggung catwalk sebagai seorang model. Tanpa pernah tahu apa penyebabnya, mendadak ia terserang pening yang luar biasa menyakitkan. Tubuhnya limbung. Tumbang! Panggung catwalk seketika gaduh. 

Tubuhnya yang rapuh kemudian dilarikan ke rumah sakit. Masuk ruangan IGD. Yang Amanda rasakan pertama kali waktu itu, dingin AC begitu menyiksa. Tetapi tak semenyakitkan saat akhirnya ia diketahui mengidap kanker serviks stadium lanjut. Rahimnya harus diangkat.

Dan...

Kriiittt... Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka seseorang. Albert masuk. Amanda memunggunginya. Albert tertegun. Bergeming. Sampai akhirnya tangannya terulur meraih sebuah kurung cindai berwarna hijau dari tumpukan baju-baju.

“Kurung cindai ini cantik sekali!” Albert tahu, istrinya itu sedang menangis sekarang. Apapun penyebabnya, Ia tak ingin memperkeruh suasana hati istrinya itu dengan bertanya macam-macam.

Cepat-cepat Amanda menyusut matanya yang basah. Menoleh, lalu melemparkan senyuman yang agak dipaksakan. “Itu kurung yang aku kenakan saat wisuda dulu. Sepuluh tahun yang lalu...” kurung cindai itulah yang tadinya hendak ia ambil, bukan gaun malam berwarna gold itu. Sungguh, Amanda masih shock.

“Kau masih menyimpannya. Momen itu pasti sangat membahagiakan.”

Amanda mengangguk.

“Dan kau lulus dengan predikat summa cume laude.”

Amanda mengangguk lagi. Ia memang pernah menceritakan hal itu pada sang suami saat mereka masih berpacaran dulu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Albert melamar Amanda saat usianya genap 30 tahun. Amanda menerimanya dengan sepenuh hati, meskipun waktu itu Albert telah berstatus duda dengan satu anak.

“Bisakah kau mengenakannya lagi untukku?” Albert memandang wajah istrinya itu lekat.
Amanda tertegun. Sampai akhirnya Albert melihat mata istrinya itu memancarkan sinar yang gemerlapan.

***

5 Januari adalah tanggal yang teramat sakral bagi Albert dan Amanda. Pasalnya, di tanggal itulah mereka dulu mengikrarkan ikatan janji suci pernikahan.

Tak terasa, hari ini, di usia pernikahan yang ke-empat, mereka merayakannya lagi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang penuh dengan kemewahan, hari ini, mereka hanya merayakannya dengan sederhana saja. Hanya di rumah saja, tanpa mengundang siapapun juga.
Amanda terlihat sangat anggun dengan gaya rambut barunya yang dipotong shaggy. Seperti permintaan Albert, kurung cindai itu ia kenakan lagi setelah 10 tahun tak pernah menyentuhnya.

Sementara Albert, tetap saja tampil cuek dengan celana jeans pendek di atas lutut dan atasan t-shirts polos. Tetapi gaya rambutnya kali ini dibuat sedikit berbeda. Ada kunciran top knot menyembul di atas kepalanya. Dulu, Tiara, almarhumah istri pertamanya itu sangat menyukai gaya rambutnya yang dikuncir seperti itu. Tetapi, setelah Tiara meninggal dunia akibat kanker kelenjar getah bening yang dideritanya, Albert tak pernah mengurusi rambutnya lagi.

“Albert, aku sungguh sangat menyukai model rambut barumu ini!” Amanda takjub.

“Benarkah?” mata Albert berbinar-binar.

“Ya,”Amanda mengangguk.

“Syukurlah kalau kau menyukainya,” Albert menarik senyumnya. “Hmm, sepertinya, mulai hari ini, aku harus lebih memerhatikan rambutku. Dan, besok atau lusa, mungkin cara berpakaianku juga.”

Amanda tertawa. Mata Albert kian berbinar-binar melihat istrinya itu tertawa lepas sekali.
Di kejauhan, Kevin tampak sedang menuruni anak tangga dari lantai atas. Wajahnya terlihat sangat segar. Senyumnya semringah.

“Di usianya yang ke-15 ini, kepercayaan dirinya semakin terlihat sempurna.” Albert terus memandangi putra semata wayangnya itu. “Kau benar-benar telah berhasil membentuknya menjadi laki-laki yang kuat dan tangguh.” Albert beralih memandang Amanda dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, telah menjadi Mama yang baik untuknya.”

Kevin menyongsong Albert dan Amanda, mengambil posisi persis di tengah-tengah mereka. Aroma harum puding zebra cappuccino yang diletakkan di atas meja sungguh menggoda selera. Kevin mengulurkan tangannya, mencomot beberapa potong sekaligus. Mengunyahnya dengan lahap.

“Pudingnya... enak sekali!” komentar Kevin dengan aksen gagapnya yang nyaris tak terdengar lagi.

“Itu buatan Mama Amanda, lho!” Albert melirik Amanda.

Amanda bengong. Benarkah? Aku telah berhasil membuat puding zebra cappuccino itu? Membuatnya dengan takaran yang pas dan sempurna? Oh, Amanda masih tak percaya. Ini seperti mimpi!

Tiba-tiba Amanda menangis. Menangis penuh haru, karena terlampau bahagia.***


Ahmad Ijazi H, kelahiran Rengat, Riau, 25 Agustus. Pernah menjadi pemenang 2 LMCR nasional PT. Rohto Laboratories-Rayakultura Jakarta 2009, nomine lomba menulis cerpen Pemuda Kemenpora 2011, 10 besar menulis puisi Tulis Nusantara Kemenparekraf 2013, Juara 3 lomba menulis cerpen nasional Kisah Kota-kota Lama Semarang 2016, dll. Bergiat di FLP wilayah Riau. Tinggal dan menetap di Pekanbaru.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 11:52 wib

Pentingnya Terapi untuk Orangtua Anak Autis

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:50 wib

Awali Kebangkitan Superhero Indonesia

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:41 wib

Kado Terakhir Iniesta

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:40 wib

Petasan Dilarang, Satpol PP Patroli Pasar Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:37 wib

Tiga Kali Panggilan Hearing Tak Digubris

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:31 wib

Tegang Jelang Ucap Janji

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:27 wib

Menulis Tradisi dalam Bait-bait Puisi

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:24 wib

Bandar Kayangan, Unik nan Menarik

Follow Us