RESENSI BUKU

Pencegahan Pornografi

3 September 2016 - 22.53 WIB > Dibaca 4643 kali | Komentar
 
Pencegahan Pornografi
Oleh Muhammad Amin

Prostitusi kian menjamur. Ditutup lokalisasinya, marak di jalanan. Tak cukup hanya "penjajaan" langsung di jalan-jalan atau hotel, kini ia berlangsung secara online. Mencari pemuas syahwat kini semudah menggerakkan jari. Ada di telapak tangan. Tinggal ada niat dan uang di kantong.

Beberapa waktu lalu, marak prostitusi artis yang "dipasarkan" secara online. Tarifnya luar biasa, puluhan hingga ratusan juta. Beberapa artis top yang sering muncur di layar lebar dan layar kaca disebut-sebut ikut di dalam bisnis haram ini.

Kini, muncul pula prostitusi anak. Mereka dijual kepada kaum gay di hotel-hotel. Bujuk rayu dari mucikari dan tergiur gaya hidup metropolitan membuat anak-anak berumur 12-an tahun ini bersedia mengorbankan diri dan masa depannya untuk terlibat di dunia prostitusi. Padahal mereka hanya dibayar murah, antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

Adalah AR, mucikari yang mengumpulkan anak-anak itu untuk dijual kepada predator anak, para gay metropolitan. Ada 99 anak yang menjadi "anak asuhan" AR. Siapa AR? Ternyata ia adalah orang yang sama dengan aktor di balik prostitusi artis. Rupanya hukuman yang ringan tak membuatnya jera. Lepas dari hukuman ringan akibat terlibat jaringan prostitusi artis, dia malah terlibat dalam prostitusi anak.

Prostitusi tentu berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi. Inilah yang menjadi awal bagaimana anak teralihkan perhatiannya dari seharusnya masa belajar yang diikutinya. Anak-anak yang ikut dalam jaringan prostitusi anak AR ini pada umumnya sudah aktif dalam mengikuti konten pornografi. Mereka menonton pornografi dan terpengaruh. Godaan gaya hidup hedonis dan materialis menambah keinginan untuk coba terjun ke dunia ini.

Masalah pornografi dan pornoaksi, saat ini tak dapat lagi disebut sebagai private problem. Dampak yang ditimbulkan masalah pornografi dan pornoaksi tidak lagi terbatas dan tidak lagi menyangkut pada sejumlah kecil orang secara langsung. Pada awalnya mungkin hanya sebagian orang saja yang terganggu dengan adanya masalah pornografi dan pornoaksi ini. Sebut saja sebuah keluarga (sejumlah kecil orang secara langsung) yang memiliki anak kecil. Dampaknya terbatas pada anak kecil saja. Para orangtua  khawatir dengan dampak psikologis anaknya setelah terbiasa dan terpapar tayangan porno. Lalu lama-kelamaan dampak dari masalah ini mulai parah. Beralihlah ia dari private problem menjadi public problem.

Hal ini disebabkan akibat atau dampak yang dialami lebih luas dan mengenai orang-orang yang secara tidak langsung terlibat. Dampak pornografi dan pornoaksi ini tidak hanya mengenai anak kecil saja. Mereka akan sulit berkonsentrasi dalam pelajaran sekolahnya, setelah misalnya melihat gambar-gambar porno melalui internet. Dampaknya juga pada orang dewasa yang dapat melakukan tindakan pemerkosaan untuk memenuhi hawa nafsunya, misalnya setelah menonton film-film beradegan syur. Hal ini tentulah merugikan orang lain di sekitarnya.

 Masalah ini tidak lagi menyangkut sejumlah kecil orang (misal keluarga) tetapi sudah menyangkut lingkungan sekitar dan kehidupan bermasyarakat. Masalah ini tidak lagi merugikan satu kelompok saja (hanya keluarga yang merasa dipermalukan) tetapi juga lingkungan mana orang tersebut berasal. Dikarenakan dampaknya yang semakin fatal, status masalah pornografi dan pornoaksi ini tidak diam di tempat sebagai public problem, tetapi sudah beralih lagi menjadi policy problem.

Dalam kenyataannya, pornografi dan pornoaksi telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat bangsa Indonesia. Generasi muda adalah sasaran yang paling berbahaya, baik dalam hal perilaku, moral (akhlak), maupun terhadap sendi-sendi serta tatanan keluarga dan masyarakat beradab. Pergaulan bebas, perselingkuhan, kehamilan dan kelahiran anak di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin, kekerasan seksual, dan lain sebagainya adalah contohnya.

Meningkatnya prostitusi hingga kekerasan seksual pada anak juga menjadi muaranya.
Pada hakikatnya, pornografi mengandung tiga sifat, yaitu kecabulan, eksploitasi seksual, dan melanggar norma kesusilaan. Misalnya artis menyanyi di atas panggung sambil bergoyang menirukan gerakan orang bersenggama. Artis tersebut sudah dapat disebut menyanyi dengan mengeksploitasi seksual. Perilaku demikian sudah mengandung kecabulan. Oleh karena itu, ia dianggap sudah melanggar norma kesusilaan umum.

Ada Undang-Undang Pornografi yang akan melawan kelakuan seperti itu. Terdapat 33 perbuatan yang dilarang dalam tindak pornografi, seperti persenggamaan, eksploitasi seksual, ketelanjangan yang dikemas dalam 10 pasal. Tindak pidana pornografi dalam Undang-Undang Pornografi lebih lengkap daripada KUHP dan lebih sesuai dengan kebutuhan hukum masyarakat Indonesia sekarang. UUP tidak memberi peluang bagi orang "asusila" untuk mencari keuntungan ekonomi dan popularitas murahan dengan memanfaatkan pornografi.

Dalam buku ini dibahas semua tindak pidana pornografi dengan pendekatan normatif, teoritis, dan empiris, menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Buku ini dapat dimanfaatkan sebagai buku standar bagi mahasiswa hukum dan praktisi hukum yang mempelajari dan menerapkan hukum pornografi. Lebih luas lagi dapat dibaca oleh semua orang, baik yang menginginkan maupun tidak terjaganya nilai-nilai moral kesusilaan bagi masyarakat Indonesia.***
KOMENTAR

Follow Us