RESENSI BUKU

Mimbar Jumat Cak Nur

27 Agustus 2016 - 20.05 WIB > Dibaca 3110 kali | Komentar
 
Mimbar Jumat Cak Nur
Jasad boleh saja telah terkubur bertahun silam, namun nama akan tetap berkibar selama pikiran, sikap dan perilaku masih menginspirasi generasi berikutnya. Sepertinya itulah yang terbaca pada mendiang Nurcholish Madjid yang wafat sebelas tahun lalu (29 Agustus 2005). Pemikiran dan gagasan Cak Nur–sapaan akrapnya–tentang Islam, sosial politik dan budaya masih saja menjadi diskursus di kalangan para aktivis, budayawan,  agamawan dan cendekiawan di negeri ini.

Maka apa yang sebelumnya atau semasa hidupnya belum tercatat dengan baik dan terdokumentasi, kini satu per satu mulai dibukukan oleh sahabat dan koleganya. Dan satu di antara buku tersebut adalah buku 32 Khutbah Jumat Cak Nur yang penyuntingannya dilakukan oleh Asrori S Karni dan Lina Sellin.

Buku ini merupakan kumpulan khutbah Cak Nur pada salat Jumat yang diselenggarakan di Yayasan Wakaf Paramadina dalam rentang tahun 1998 hingga 2000. Berbeda dengan buku khutbah pada umumnya, di buku ini tidak akan kita temui kata-kata muqaddimah, karena memang tidak dimuat untuk penghematan halamannya yang memang sudah tebal, 409 halaman. Jadi para pembaca hanya akan menikmati materi khutbahnya saja.

Berbagai tema dan bahasan yang disampaikan oleh Car Nur dalam khutbahnya tersebut; zikir, puasa, salat, ikhlas, penyakit hati, perdamaian, keadilan, kesalehan esensial, termasuk humanisme dan yang lainnya. Semua itu akan menyadarkan kita tentang penghambaan kita pada Tuhan dan peran utama manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Maka setiap bahasan itu selalu dibuhul dengan pesan-pesan takwa.

Khutbah yang disampaikan oleh Cak Nur ini juga mengingatkan kita pada substansi beragama, yang tidak hanya ‘kulit’ saja tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah ‘isi.’ Seperti pada bahasan “Menghormati Kemanusiaan” di halaman 131, Cak Nur menyinggung tentang ajakan kembali kepada Alquran, tetapi cenderung yang dipahami hanyalah tekstualnya saja.

 “Sayang, selama ini kembali pada Alquran dan Sunnah hanya menyangkut fiqih. Banyak orang dengan gemas mempersoalkan azan dua atau satu kali saat salat Jumat, salat Tarawih sebelas atau dua puluh tiga rakaat, atas nama kembali kepada Alquran. Sementara hal-hal prinsipil yang langsung mempengaruhi masyarakat, yang langsung menentukan bagaimana kita menampilkan diri dalam kehidupan, sosial dan politik, tidak pernah dibicarakan.”

Bagi kita yang belum sempat bersentuhan dengan Cak Nur semasa hidupnya, tentunya buku ini sedikit mewakili ‘perkenalan’ kita dengan beliau, sehingga kita mengenal kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan dari seorang Cak Nur. Seperti yang ditulis oleh buya Syafii Maarif pada endorsement buku ini “Apa pun yang disampaikan Cak Nur hampir dapat dipastikan akan membawa kesejukan dan perdamaian. Buku ini adalah warisan berharga dari seorang intelektual Indonesia kelas atas yang perlu dibaca oleh kita semua, khususnya mereka yang lahir belakanagan.”***

Wamdi Jihadi, bergiat di Gerakan Riau Membaca (GRM)



KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 15 Agustus 2018 - 18:30 wib

KBST Protes Isi Buku Pelajaran Budaya Melayu Riau

Rabu, 15 Agustus 2018 - 18:00 wib

Terlibat Perampokan, Seorang Petani Ditangkap

Rabu, 15 Agustus 2018 - 17:30 wib

Bupati Apresiasi Torehan Prestasi Gudep Kampung Dalam

Rabu, 15 Agustus 2018 - 17:00 wib

59 Pejabat Administrator Dilantik

Rabu, 15 Agustus 2018 - 16:42 wib

Securitech Wrapping, Produk Anak Negeri yang Menjelajah Dunia

Rabu, 15 Agustus 2018 - 16:30 wib

Bupati Apresiasi Peserta Perkemahan

Rabu, 15 Agustus 2018 - 16:30 wib

MMKSI Lampaui Target Penjualan di GIIAS 2018

Rabu, 15 Agustus 2018 - 16:00 wib

September, 2.500 Ha Jagung Ditanam

Follow Us