RESENSI BUKU

Menjadi Hud-hud di Negeri Saba’

20 Agustus 2016 - 23.07 WIB > Dibaca 4130 kali | Komentar
 
Menjadi Hud-hud di Negeri Saba’
Ada banyak orang yang suka melakukan kegiatan berjalan untuk berwisata, atau yang sering disebut dengan istilah rihlah dalam bahasa Arab. Akan tetapi tidak semua orang mampu mengambil pelajaran dari setiap perjalanan yang dilakukan. Kebanyakan orang cukup mengabadikan perjalanan mereka melalui foto-foto dan caption pendek yang diunggah ke jejaring sosial. Lalu menimbulkan decak kagum orang yang melihatnya. Tetapi mereka lupa mengambil banyak pelajaran dari setiap rihlah yang dilakukan, bahkan membuat ekspansi lebih luas terhadap hal-hal yang ia saksikan dalam perjalanan tersebut.
 
Perjalanan keliling dunia untuk mengambil banyak hikmah dilakukan oleh orang-orang besar dan yang selalu berpikir dan menghayati saat menyaksikan sesuatu. Aktivitas dakwah ternyata juga bisa disematkan melalui kegiatan rihlah tersebut. Dan mereka yang mengaku sebagai pendakwah, sudah selayaknya mengembangkan sayap dakwahnya ke seantero dunia. Tidak lagi berebut ladang dakwah di negeri sendiri. Sebab ada banyak negeri yang bisa disinggahi dan membutuhkan cahaya penerangan dari dakwah itu sendiri.

Bukankah kisah burung Hud-Hud yang merasa risau saat menyaksikan negeri Saba’ yang menyembahkan matahari patut kita jadikan sebagai pelajaran. Seekor burung memiliki semangat untuk menyebarkan kebaikan, apakah kita sebagai manusia yang memiliki akal pikiran hanya akan puas dengan foto-foto di sebuah negara yang kita singgahi. Inilah sebuah renungan perjalanan rihlah dengan tujuan yang mulia, yakni menyebarkan nila-nilai dakwah. Kita ingin menjadi Hud-Hud dan Sulaiman, yang berjalan mengelilingi dunia untuk menyebarkan nila-nilai kebaikan dakwah. Itulah yang kita katakan sebagai rihlah dakwah.

Siapa yang tak kenal Salim A Fillah, penulis unggulan penerbit Pro U Media, Jogjakarta yang dikenal dengan tulisan-tulisan penuh hikmah dan cerdas dalam penyajiannya. Salim A Fillah menulis tentang banyak hal yang ia temukan dalam perjalanan rihlah dakwahnya di jejaring sosial seperti Instagram dan Facebook. Lalu kisah-kisah menghentak dan penuh hikmah tersebut diabadikan oleh Pro U Media ke dalam sebuah buku berjudul Rihlah Dakwah. Buku yang cukup tebal ini berisia catatan perjalanan, data akurasi yang lengkap, serta hikmah-hikmah yang kadang tak pernah terpikirkan oleh kita.

Secara umum, buku Rihlah Dakwah karya Salim A Fillah tersebut berisi dua bagian yang sangat humanis. Bagian pertama berisi tentang Nusantara (dan Islam di dalamnya tentunya), membahas berbagai macam dari mulai kerajaan-kerajaan, pakaian, kebudayaan dan lainnya yang ditilik dari sejarah dan masih bersambung dengan dunia Islam. Bahasan ini menunjukkan pengetahuan penulis yang cukup mendalam akan keberadaan Islam di Indonesia dalam sudut pandang sejarah dan budaya di Indonesia. Penuh dengan referensi yang shohih serta data-data yang akurat seperti kebiasaan penulis dalam setiap karya tulis yang ia sajikan.

Bagian kedua dari buku Rihlah Dakwah tersebut, berisi mengenai “Rihlah Dakwah” beliau ke berbagai negara, utamanya saat beliau diundang ke berbagai negara: Swiss, Austria, Inggris dan negeri lainnya. Dengan pengetahuan beliau yang luas (dan lagi-lagi gaya penuturannya yang khas), maka kita seolah dipandu secara langsung olehnya seraya menikmati tempat-tempat yang sedang dituju, meski -sekali lagi- terkadang pembahasan tidak begitu mendalam. Hal ini tentu saja disebabkan karena tulisan yang beliau buat tujuan awalnya hanya untuk diunggah di sosial media. Sehingga cukup berbeda dengan gaya kepenulisan buku Salim A Fillah pada umumnya.

Meskipun belum dikupas secara mendalam, dalam buku ini Salim A Fillah mampu memberikan inspirasi besar terhadap setiap muslim untuk bisa berjalan ke berbagai penjuru dunia guna menyebarkan nilai-nilai dakwah Islam yang rahmatan lilalamin. Dunia akan semakin luas jika kita berjalan. Dan sebaik-baik perjalanan adalah rihlah untuk aktivitas dakwah menyebarkan kebaikan.

Buku penuh hikmah ini layak dibaca oleh siapa saja yang mengaku muslim, yang menginginkan setiap perjalanan yang mereka lakukan memiliki manfaat yang besar. Bukan sekedar untuk dirinya tapi juga orang lain. Bukan sekedar foto-foto di instagram tapi juga memiliki catatan pahala di sisi Allah SWT.***


Nafiah Al Marab,
bergiat di Forum Lingkar Pena Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 19 Oktober 2018 - 17:00 wib

21 Oktober Seleksi Administrasi CPNS

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:30 wib

Masyarakat Tak Dipungut Biaya

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:00 wib

RAPBD 2019, Diproyeksi Rp1,3 T

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:43 wib

Sakatonik ABC Talk Show Cemilan Sehat

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:32 wib

SD Darma Yudha Borong Medali IMSO 2018 di Cina

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:30 wib

Bupati Tinjau Korban Banjir

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:25 wib

Unilever Tetap Produksi Teh Sariwangi

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:06 wib

Swasta yang Mengerjakan Pembangunan Infrastruktur Perlu Insentif

Follow Us