RESENSI BUKU

Podium Jusuf Kalla

7 Agustus 2016 - 00.16 WIB > Dibaca 3904 kali | Komentar
 
Podium Jusuf Kalla
Oleh Wamdi Jihadi

Muhammad Jusuf Kalla, nama yang tidak asing lagi di telinga kita. Setelah sebelumnya putra Bugis ini menjadi wakil presiden di era kabinet Indonesia Bersatu jilid satu mendampingi presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada 2014 lalu kembali ia mendapatkan mandat rakyat juga sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo.

Sebagaimana lazimnya para pejabat tinggi negara yang menyampaikan pidato dan arahannya di berbagai forum pertemuan atau peresmian, maka demikian jugalah di antara agenda yang dilakukan JK (sapaan akrabnya) di sela-sela kesibukan lainnya.

Pengalamannya yang telah lama malang-melintang di dunia usaha dan birokrasi membuatnya tidak terlalu kaku dalam menyampaikan ide, gagasan dan pemikiran di berbagai forum tersebut.

Buku yang berjudul Satu Digit ini merekam itu semua. Namun untuk kerunutan tema dan bahasannya  maka editor Husain Abdullah secara umum membaginya menjadi tiga bagian; Ekonomi dan Pembangunan, Politik dan Hukum, dan Sosial Kemasyarakatan.

Kumpulan pidato JK yang berjumlah 74 judul ini adalah rentang tahun 2014-2015, atau merupakan 2 tahun awal pemerintahan kabinet Kerja Jokowi-JK. “Tahun pertama pemerintahan periode 2014-2019 ini boleh disebut sebagai masa-masa perencanaan dan pelaksanaan program-program kerakyatan,” demikian tulisnya dalam sambutan buku ini.
Gambaran tentang JK yang terkenal dengan kecepatan cara berpikirnya dalam mencarikan jalan keluar dari setiap persoalan yang dihadapi bangsa ini terlihat dengan gamblang dalam setiap pidato dan arahannya di dalam buku ini.

 “Tidak usah berpikir panjang. Coba tunjukkan proyek listrik yang rugi? Tidak ada. Karena itu kita atur seperti itu. Lambat memang, tapi sekarang kita atur dengan sistem yang lebih mudah dengan prioritas utama perluasan supaya jangan ada lagi masalah perizinan, masalah tanah, masalah lingkungan. Itu penting,” ujarnya dalam pidato yang disampaikannya pada pembukaan pameran dan konferensi Indonesia Infrastructure week 2014 di JCC. (hlm 18).

Lihat lagi pidatonya pada penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Syah Kuala Banda Aceh pada November 2015 yang lalu. Ia berbicara tentang perdamaian yang harus diletakkan di atas segalanya, termasuk ongkos besar yang harus dikeluarkan.

“Menciptakan damai adalah prioritas utama dan kewajiban kita semua, tidak peduli betapa sulitnya persoalan, betapa besarnya tantangan, dan betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Ini semua layak diperjuangakan karena damai itu indah dan damai itu kebutuhan dan sifat dasar manusia.” (hlm 199).

Tapi walaupun tegas dan cepat dalam bertindak, sisi keriangan dan humor tetap saja melekat pada JK dalam banyak kesempatan pidatonya yang tentu saja mengundang tawa. Suatu waktu dalam sebuah pertemuan dengan para pengusaha di Amerika, dia ditanya tentang tingkat pendidikan di Indonesia, “Saya bilang, pendidikan di Indonesia, alumni SD saja bisa jadi presiden di Amerika, apalagi kalau tamat universitas  di Indonesia, tentu lebih hebat lagi. Obama cuma tamat SD bisa jadi presiden di sini. Tidak ada alumni Amerika yang jadi presiden di Indonesia.” (hlm 367).

Di samping sebagai kumpulan pidato yang menyatukan gagasan-gagasan JK, buku ini juga diperuntukkan bagi ulang tahunnya ke-74 pada Mei 2016 lalu. Selamat membaca.***

Wamdi Jihadi, bergiat di Gerakan Riau membaca (GRM).


KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 19 Oktober 2018 - 17:00 wib

21 Oktober Seleksi Administrasi CPNS

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:30 wib

Masyarakat Tak Dipungut Biaya

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:00 wib

RAPBD 2019, Diproyeksi Rp1,3 T

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:43 wib

Sakatonik ABC Talk Show Cemilan Sehat

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:32 wib

SD Darma Yudha Borong Medali IMSO 2018 di Cina

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:30 wib

Bupati Tinjau Korban Banjir

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:25 wib

Unilever Tetap Produksi Teh Sariwangi

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:06 wib

Swasta yang Mengerjakan Pembangunan Infrastruktur Perlu Insentif

Follow Us