RESENSI BUKU

Pengalaman Bersejarah Sidarto

16 Juli 2016 - 21.36 WIB > Dibaca 1420 kali | Komentar
 
Pengalaman Bersejarah Sidarto
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kaya raya dari awal kemerdekaan sampai dengan detik ini berjalan telah mengalami banyak perubahan dalam kepemimpinan setiap Presiden Indonesia yang menjabat. Presiden Indonesia pertama dipegang oleh Bung Karno yang flamboyan dan saat ini Presiden ketujuh Indonesia adalah Joko Widodo yang akrab dipanggil dengan Jokowi.

Tentunya, ada banyak pengalaman bersejarah dapat kita ambil bersama dari perjalanan anak bangsa yang secara sangat luar biasa dapat bekerja sama dengan ketujuh Presiden Indonesia dengan segala gaya kepemimpinannya masing-masing. Salah seorang anak bangsa yang dapat bekerja sama dengan ketujuh pemimpin negeri ini bernama Sidarto Danusubroto. Sidarto bertugas sebagai ajudan Bung Karno pada masa-masa sulit dan akhir kepemimpinannya (6 Februari 1967-13 Maret 1968) dan sekarang sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo.

Dalam pengantar, Sidarto menulis (hlm. xiii), “Saya berharap nilai dan pengetahuan yang terkandung dalam buku ini dapat diteruskan menjadi tongkat estafet bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan dalam alur perubahan zaman yang tak pernah berhenti.” Jelas kiranya, berbagai pengalaman bersejarah serta mendalam dari Sidarto Danusubroto dapat diambil untuk generasi muda Indonesia yang kelak memegang tampuk kepemimpinan negeri ini.

Buku ini ditulis untuk memperingati 80 tahun genap usia Sidarto Danusubroto pada 11 Juni 2016. Sebuah usia yang sudah kenyang dengan mutiara bersinar bernama pengalaman. Buku ini terdiri VIII Bab, satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan erat untuk menjelaskan dan memaparkan apa saja yang telah terjadi pada Sidarto dalam kedekatannya dengan lingkar kekuasaan eksekutif Indonesia.

Mengenai ketujuh Presiden Indonesia dengan kekhasannya masing-masing, Sidarto menulis (hlm. 12), “Soekarno sebagai Presiden pertama dan Proklamator kemerdekaan bangsa, Soeharto mengutamakan pembangunan dan stabilitas keamanan, BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pembuka ruang kebebasan, Megawati Soekarnoputri sebagai ibu demokrasi, Susilo Bambang Yudhoyono dikenal santun dan cerdas, dan Jokowi yang saat ini menjabat Presiden memberi teladan kesederhanaan, kejujuran, dan sifat rendah hati.”

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku bagus ini dapat dicerna dengan mudah karena menggunakan kalimat-kalimat yang cerdas dengan paduan serta kombinasi kata-kata yang bernas sehingga menjadikan paragraf satu dengan paragraf lainnya memiliki hubungan kausalitas. Terasa sekali bahwa Sidarto Danusbroto sangat mencintai Ibu Pertiwi Indonesia dalam buku ini sehingga sudah tentu buku ini sangat direkomendasikan bagi siapapun yang ingin berkiprah dan terjun langsung ke dalam lingkaran kekuasaan.

Menutup tulisan ini, penulis harus mengutip tulisan tangan Bung Karno dalam buku yang diberikan pada Sidarto yang terdapat dalam tiap Bab buku dahsyat ini. Buku tersebut diberikan saat Sidarto masih menjadi ajudan Bung Karno, tertanggal 10 Desember 1967 dalam ejaan lama, “Untuk sdr. Sidarto. Djiwa, idée, ideologi, semangat, ta’ dapat dibunuh.” Sangat Fenomenal!***

Jimmy Frismandana Kudo, Guru Sejarah SMA Darma Yudha, Pekanbaru

KOMENTAR

Follow Us