HELFIZON ASSYAFEI (Wakil Pemimpin Redaksi)

Kembali Suci?

2 Juli 2016 - 23.48 WIB > Dibaca 6163 kali | Komentar
 
Kembali Suci?
helfizon assyafei
RIAUPOS.CO - Bagi Imran Ramadan itu begitu penting dan istimewa. Tapi tidak bagi Donal. Dua sahabat ini punya pandangan berbeda. Imran memandang hidup harus punya jalan yang benar karena tidak bisa diulang kalau sudah mati.  Bagi Donal hidup adalah sejauh mana kemampuan kita memenuhi keinginan, kesenangan, kekayaan dan kekuasaan. Bagi Imran kedatangan Ramadan dan kepergiannya punya makna. Bagi Donal tidak. Dunia adalah apa yang didepan mata. Tidak perlu memikirkan yang nanti. Nikmati yang sekarang.

Kisah dua sahabat itu adalah ilustrasi tentang kita. Tentang pilihan hidup. Tentang keyakinan. Di hari-hari akhir Ramadan ini ada orang-orang seperti Imran. Menghabiskan waktu beriktikaf di masjid-masjid meraih puncak Ramadan. Sanggup melawan kantuk dari pukul 00.00 Wib-subuh. Mengisi malam dengan ibadah, zikir dan muhasabah. Di pagi dan siang hari bekerja memenuhi keperluan hidup meski juga harus melawan kantuk karena begadang di malam harinya.

Di hari-hari akhir Ramadan ini juga ada orang-orang seperti Donal. Tumpah ruah di pasar-pasar. Di jalan-jalan. Di pusat-pusat perbelanjaan. Di tempat-tempat hiburan. Hidup adalah pesta. Hidup adalah kesenangan. Kumpulkan uang semampu yang kamu bisa. Lakukan apa pun yang menyenangkan. Persetan dengan segala aturan-aturan. Hiduplah bebas sesuka hati karena hidup cuma sekali.

Ketika bulan suci itu berlalu maka datanglah bulan Syawal pertanda Idul Fitri pun tiba. Dalam salat Id para khatib seringkali memberi kabar gembira kepada masyarakat yang telah menyelesaikan ibadah selama Ramadan, bahwa pada saat Idul Fitri mereka telah kembali suci, bersih dari semua dosa antara dia dengan Allah.

Kemudian diikuti dengan meminta maaf kepada sesama, tetangga kanan-kiri. Sehingga usai hari raya, mereka layaknya bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa. Tak lupa sang khatib akan mengkaitkan kejadian ini dengan nama hari raya ini, Idul Fitri. Dia artikan ‘Kembali Suci’. Turunan dari pemaknaan ini, sebagian masyarakat sering menyebut tanggal 1 syawal dengan ungkapan ‘hari yang fitri’ atau hari yang suci.

Sepintas itu hal yang lumrah. Akan tetapi menurut para ahli bahasa Arab Setidaknya ada 2 kesalahan fatal terkait ceramah khatib di atas, Pertama, memaknai idul fitri dengan kembali suci. Dan ini kesalahan bahasa. Kedua, keyakinan bahwa ketika Idul Fitri, semua muslim dosanya diampuni.

Mengapa salah? Idul fitri berasal dari dua kata; id dan al-fitri. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Sedangkan kata fitri tidak sama dengan arti kata fitrah.

Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak yang menyangka bahwa itu dua kata yang sama.

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa Ramadan. Jadi Idul Fitri artinya kembali berbuka.

Selanjutnya konsekuensi dari kesalahan mengartikan Idul Fitri sebagai kembali suci, banyak orang berkeyakinan bahwa ketika Idul Fitri, semua dosanya telah diampuni seperti bayi yang baru lahir. Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan yang sangat fatal. Setidaknya ada 2 alasan untuk menunjukkan salahnya keyakinan ini.

Pertama, keyakinan bahwa semua orang yang menjalankan puasa Ramadhan, dosanya diampuni dan menjadi suci. Hal ini sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasa kaum muslimin telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang meraka lakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada satupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak.

Kedua, sesungguhnya Ramadan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, Ramadan hingga Ramadan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Ahmad 9197 dan Muslim 233). Dosa besar hanya bisa diampuni dengan melakukan tobat sebenar-benarnya.

Kita mungkin telah menunaikan Ramadan semampu kita. Bergembiralah. Tapi jangan pernah berfikir kita telah suci seperti bayi baru lahir dan merasa enteng lagi berbuat dosa.  Allah SWT mengingatkan dalam Quran surat An Najm 32. “Janganlah merasa diri mu suci.” Kata ahli hikmah umur adalah cerita singkat yang akan dipertanggungjawabkan dengan panjang. Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin.**

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 16 Agustus 2018 - 10:00 wib

Polisi Tangkap Pelaku Curanmor di Hotel

Kamis, 16 Agustus 2018 - 09:38 wib

SBT Promo Merdeka

Kamis, 16 Agustus 2018 - 09:34 wib

Daging Beku Impor Paling Laris

Kamis, 16 Agustus 2018 - 09:33 wib

Wonderful Harmony of Riau Berlangsung di 10 Mal

Kamis, 16 Agustus 2018 - 09:23 wib

Maling yang Tertangkap di Plafon Rumah Sudah Dua Kali Beraksi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 01:07 wib

Kalah dari Palestina Tak Menutup Peluang Indonesia, Asal...

Kamis, 16 Agustus 2018 - 00:52 wib

Vinicius Akan Jadi Bintang Madrid

Kamis, 16 Agustus 2018 - 00:50 wib

Agar Siswa Paham Dunia Literasi dan Musikalisasi Puisi

Follow Us