Keperluan atau Keinginan

26 Juni 2016 - 12.26 WIB > Dibaca 5803 kali | Komentar
 
Keperluan atau Keinginan
Banyak perspektif tentang manusia. Kalau Karl Marx beranggapan bahwa manusia itu dikendalikan oleh perutnya. Karena alasan perut manusia maka muncul kerakusannya terhadap kepuasan materi. Sementara ahli psikologi terkenal Sigmund Freud menyatakan manusia dikendalikan libido seksnya. Bahwa manusia pada dasarnya dikendalikan oleh naluri-naluri biologis yang bertujuan untuk mencari kepuasan, dan masih banyak pandangan lainnya tentang manusia.

Bagaimana dengan Islam?  Islam menyerukan agar manusia dikendalikan oleh jiwa. Jika pijakkannya jiwa, maka cara pandangnya adalah keperluan bukan keinginan.

Keperluan beda dengan keinginan. Keperluan merupakan sesuatu yang diperlukan oleh tubuh kita. Sementara keinginan adalah segala sesuatu yang pijakkannya pada nafsu perut dan libido.

Dua kata ini (Keperluan dan Keinginan) maknanya sangat jauh. Selama ini kita menganggap bahwa keperluan sama dengan keinginan, namun setelah kita amati dengan detail, keduanya bermakna beda.

Kalau pijakkan kita pada keinginan, maka menjelang berpuasa semua makanan akan kita beli, ada kolak, cendol, risoles dan lainnya, padahal saat berbuka semuanya tidak termakan. Mengapa membeli semua kue itu? Sebab kita menuruti perintah perut, sebagaimana dikatakan Karl Marx bahwa manusia itu dikendalikan oleh perutnya. Kerena perutlah manusia berperang, karena perut manusia ingin menguasai perdangan seluruh dunia ini.

Bagaimana kalau pijakkan kita berangkat dari 'keperluan', maka menjelang berbuka persiapnnya sebagaimana dianjurkan Rasulullah SAW cukup air putih dan kurma. Karena di Arab adanya kurma (makanan yang manis), kalau di negeri kita adanya cuma teh manis, maka itu sudah cukup. Sebab berbuka dengan yang manis itu untuk memulihkan kondisi tubuh kita. Bahkan ketika berbuka, saat air putih membasahi tenggorokan, langsung rasa haus itu hilang, keinginan untuk makan cendol, es buah, risoles, bakwan dan lainnya pun hilang, Yang diperlukan tubuh itu adalah air, bukan beragam bentuk gorengan dan kue lainnya. Air putih itu yang bisa membuang toksin dalam tubuh.

Tanpa kita sadari kita selama ini sudah menjadi penganut Karl Marx bahwa hidup kita dikendalikan oleh perut. Kita dikendalikan oleh keinginan, bukan keperluan.


Mengapa para ulama tasauf mereka mampu hidup qonaah (merasa cukup), sebab mereka memandang kehidupan ini dalam perspektif keperluan bukan keinginan. Jika pijakannya keperluan, maka tubuh ini tidak banyak yang diinginkan, dan karunia yang Allah berikan kepada kita sudah lebih dari cukup.


Sikap merasa cukup inilah yang membuat hati mereka tenang, tidak galau dan risau terhadap godaan kemewahan dunia ini. Sehingga Allah pun memanggil jiwa yang tenang ke dalam surganya. Sebagaimana firman Allah, Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr: 27-30).


   Nah, kembali ke awal, apa pijakan kita dalam menjalani puasa saat ini. Kalau masih perut, maka perbaikilah. Sebab puasa wajib selama Ramadan ini akan berdampak selama setahun ke depan. Setahun ke depan kita ingin hati yang tenang atau memilih kegalauan. Kalau memilih jiwa yang tenang, maka pijakkan adalah keperluan. Kalau Anda menginginkan kerisauan, maka pilihlah keinginan.

Kalau pijakan hidup kita pada keinginan, maka uang Rp1 triliun pun tidak cukup, sebab keinginan manusia melebihi apa yang ada di dunia ini. Keinginan itu berkembang terus, ibarat rasa haus, meminum air lautan pun tak cukup. Namun kalau pijakan hidup kita pada keperluan, maka rezeki yang Allah berikan kepada kita hari ini berapa pun nilainya sudah cukup. Bahkan kalau dihitung-hitung, oksigen gratis yang Allah berikan kepada kita merupakan nikmat yang tiada tara. Kalau dibayar, menurut hitung-hitung ilmu kedokteran, harga oksigen yang kita gunakan dalam sehari nilainya sekitar Rp120 juta. Mampukan kita membayarnya?

Nikmat apa lagi yang kamu dustakan?***

Jarir Amrun
(Redaktur Pelaksana Harian Riau Pos)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 20 Oktober 2018 - 22:20 wib

Petani Sawit Inginkan Solusi di Rembug Nasional

Sabtu, 20 Oktober 2018 - 12:30 wib

Parpol Harus Punya Dana Sendiri untuk Biayai Saksi Pemilu

Jumat, 19 Oktober 2018 - 18:19 wib

Musprov PSTI Riau , Nama Yurnalis Basri Mencuat

Jumat, 19 Oktober 2018 - 17:00 wib

21 Oktober Seleksi Administrasi CPNS

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:30 wib

Masyarakat Tak Dipungut Biaya

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:00 wib

RAPBD 2019, Diproyeksi Rp1,3 T

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:43 wib

Sakatonik ABC Talk Show Cemilan Sehat

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:32 wib

SD Darma Yudha Borong Medali IMSO 2018 di Cina

Follow Us