RESENSI BUKU

Meneladani Putri Rasul

28 Mai 2016 - 23.26 WIB > Dibaca 2712 kali | Komentar
 
Meneladani  Putri Rasul
Oleh Zurnila Emhar Ch

“Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

Fatimah az-Zahra. Muslim mana yang tidak mengenal nama itu! Dialah putri kesayangan Rasul SAW. Ibu dari penghulu surga; Hasan dan Husein.

Fatimah lahir pada hari Jum’at, tanggal 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul. Saat itu ka’bah sedang direnovasi. Dan terjadi peristiwa perebutan peletakan hajar aswad ke tempatnya yang menjadikan rasul sebagai penengah. (hal. 55)

Walau telah memiliki tiga orang anak perempuan sebelumnya, Rasul dan Khadijah menyambut kehadiran Fatimah penuh syukur dan sukacita. Terlebih Fatimah merupakan satu-satunya putri yang paling mirip dengan beliau. Baik wajah, maupun perbuatannya.

Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Anas; “Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah, kulitnya putih kemerahan, dan berambut hitam.”

Aisyah juga berkata,”Aku tidak pernah melihat satu pun manusia yang lebih mirip perkataan dan percakapannya dengan Rasululah selain Fatimah.” (hal. 57)

Di dalam buku terbitan Tinta Medina (Grup Tiga Serangkai) ini dijelaskan dengan rinci tentang sosok Fatimah. Mulai dari silsilah nenek moyangnya, perjalanan hidupnya, perannya dalam dakwah kenabian, dan rumah tangganya bersama Ali bin Abi Thalib.

Rasul menamainya dengan Fatimah atas ilham dari Allah SWT karena dia telah dijauhkan dari api neraka. Kata Fatimah berasal dari kata al-Fatham yang berarti menjauhkan atau memutuskan. Maksudnya terputus dari api neraka.

Menurut hadits riwayat Ja’far bin Muhammad bin Ali, Rasul menamainya dengan az-Zahra karena dia adalah bunga Baginda Nabi. Fatimah berkulit putih bagai bunga. Jikalau dia berdiri dari tempat ibadahnya, terpancarlah cahaya dari tubuhnya hingga dapat menerangi langit, sebagaimana pancaran purnama yang dapat menerangi bumi. (Hal. 65)

Saat ayahnya diutus menjadi rasul, Fatimah masih kecil. Tetapi dia senantiasa menemani beliau. Fatimah melihat langsung kesedihan dan kesabaran ayahnya ketika dua orang kakaknya –Ruqayyah dan Ummu Kaltsum- ditalak suaminya dengan tujuan menyakiti perasaan nabi.
Fatimah juga kerap menyaksikan kaum kafir Quraisy mencela dan menyiksa ayahnya. Terkadang dia membersihkan pakaian Rasul dari kotoran yang dilemparkan kaum kafir. Pernah juga dia membasuh dan mengobati luka Rasul saat peperangan.

Pengalaman hidupnya sebagai putri seorang pejuang dakwah membentuk karakternya menjadi keras, tegas, sederhana dan penyabar. Sifat-sifat itu tercermin dalam perjalanan rumah tangganya dengan Ali bin Abi Thalib.

Fatimah menikah dengan Ali saat berusia delapan belas tahun. Pada bulan Rajab tahun kedua Hijrah. Pernikahan itu berlangsung setelah Rasul SAW menikahi Aisyah. Sebelum dilamar Ali, Abu Bakar dan Umar bin Khatab pernah sama-sama mendatangi Rasul untuk melamarnya. Namun Rasul menolak dengan halus.

Ali yang semula ragu untuk meminang Fatimah karena kemuliaan derajatnya justru disemangati oleh para sahabat. Termasuk Abu Bakar dan Umar. (hal. 129)

Ketika itu Ali yang hidup penuh kesederhanaan tidak memiliki apapun untuk dijadikan mahar bagi Fatimah. Maka Rasul pun menyuruhnya menjual tameng al-Hathamiyah (tameng besi yang bisa mematahkan pedang) yang pernah beliau hadiahkan padanya.

Tameng tersebut dibeli Utsman bin Affan seharga 470 dirham. Uang hasil penjualan tameng tersebut dibelanjakan untuk peralatan pengantin. Itulah mahar yang diterima Fatimah dari seorang pemuda pemberani dan pahlawan berilmu.

Dalam menjalani rumah tangganya, Fatimah menjadikan kesederhanaan sebagai gaya hidupnya. Fatimah mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendirian. Sekalipun dia bisa mendapatkan seorang pembantu dari tawanan perang yang dimenangkan oleh Rasul. Namun Fatimah tetap mengerjakan tugas-tugasnya sendirian.

Dia mengolah tepung dan membuat roti dengan kedua tangannya. Dia juga bersabar ketika Ali tidak bisa memberikan apa-apa untuk dimakannya. Fatimah selalu berpegang pada nasihat Rasul, “Beruntunglah seseorang yang diberi petunjuk untuk memeluk Islam dan hidup penuh dengan kesederhanaan, kemudian ia qanaah dengan itu.” (hal.164)

Kesederhanaan Fatimah juga tergambar pada saat ia menjual kalung pemberian Ali dan menyedekahkan uangnya. Sedangkan ketegasan Fatimah tampak dari penolakannya saat Ali ingin memadunya. Dia tidak melarang Ali untuk menikah lagi karena memang tak ada larangan agama untuk itu. Namun Fatimah menolak untuk hidup bersama wanita lain dalam satu rumah. Dia menerima jika diceraikan.

Buku berkaver ungu setebal 266 halaman ini disajikan dengan bahasa yang ringan. Pada setiap bab-babnya terdapat sub-sub judul yang memudahkan pembaca menarik benang merah dari pembahasan. Jika bisa dikatakan hal yang sedikit mengganggu dari isi buku ini, itu adalah beberapa penyampaian yang diulang-ulang.

Selebihnya kisah dalam buku ini sangat bagus untuk dibaca terutama oleh kaum muslimah. Sifat-sifat mulia Fatimah sangat patut untuk diteladani muslimah zaman sekarang.***

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us