Redaksi

Pilpres dan Demokrasi Kita

24 Mai 2014 - 09.24 WIB > Dibaca 5117 kali | Komentar
 

KAMPANYE “awal” sebelum masa kampanye sebenarnya dalam Pilpres 2014, sudah sangat ramai di media sosial yang dianggap lebih bebas. Di jejaring sosial seperti Facebook, Path, Twitter dan sebagainya, para pendukung kedua kubu secara suka-rela melakukan kampanye mendukung jagoannya, sekaligus mencari celah memarjinalkan pihak di seberangnya.

Demokrasi mengajarkan perbedaan, saling berseberangan, tetapi bukan untuk saling menghancurkan. Pihak yang menang harus merangkul yang kalah. Sebaliknya, yang kalah juga harus menghormati pemenang. Dengan begitu, setelah “perang” dan melahirkan pemenang-kalah, harus ada rekonsiliasi, sikap saling menghargai dan menghormati. Tujuannya jelas, jangan sampai bangsa yang sejak 1998 belajar berdemokrasi, belajar menghargai perbedaan, belajar membangun ekonomi dengan meramu berbagai mazhab,  belajar berpolitik, dan sebagainya, harus hancur hanya karena terbelahnya masyarakat menjadi dua kubu yang tak akur karena perbedaan orientasi politik.

Memang, banyak “kecelakaan” demokrasi terjadi, dan itu jelas bukan tujuan utama dari demokrasi. Dalam skala kecil, sebuah kearifan lokal bahwa pemimpin bisa dipilih berdasarkan pengalaman, kelebihan-kelebihan,  dan usia (primus inter pares), bisa dilakukan. Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah dan mufakat bisa dilaksanakan dalam keputusan apapun yang diambil seperti dalam masyarakat adat, misalnya. Tetapi, dalam skala lebih besar –pemilihan bupati/wali kota hingga presiden— primus inter pares mengalami kesulitan karena luasnya wilayah dan banyaknya penduduk.

Demokrasi memang hanya sebuah pilihan. Tetapi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, demokrasi dianggap menjadi hal yang paling mungkin akan membawa masyarakat pada kehidupan yang lebih baik, pada semua bidang.  Hal inilah yang harus menjadi pelajaran dan pengalaman kita sebagai sebuah bangsa. Bahwa masyarakat boleh terpecah dalam hal orientasi pilihan saat pesta demokrasi berlangsung, namun di saat sudah terpilih siapa yang menang, pembelahan itu harus kembali dalam sebuah kesatuan untuk berjalan bersama.

Dalam jejaring sosial, dua kubu yang terbelah itu –kubu Capres Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta—  terlihat seperti benar-benar berada dalam dua front yang akan saling menghancurkan. Keduanya berdiri bukan lagi sebagai “lawan” yang akan bertarung seperti tim olahraga di medan gelanggang, tetapi seperti dua “musuh” yang akan saling menghancurkan seperti layaknya medan perang.

Kubu Jokowi-JK berusaha mencari kelemahan-kelemahan Prabowo, termasuk masa lalunya yang dianggap “kelam” terkait kasus HAM 1998. Di kubu Prabowo, mereka juga “menguliti” Jokowi dengan berbagai argumentasi, bahkan sampai masalah SARA yang sangat sensitif. Media sosial  yang bebas tanpa sensor dan aturan —kedua kubu melontarkan pujian setinggi langit untuk kelompoknya dan cacian yang sangat menyakitkan untuk musuhnya—  memang memungkinkan segala hal terjadi. Siapa yang mudah percaya dan gampang terpengaruh, akan menganggap segala hal yang disampaikan di media itu adalah sebuah kebenaran yang tak bisa dibantah. Tetapi bagi mereka yang bisa menyaring dan menganggap media sosial sebagai sebuah rimba belantara yang semua orang bisa melakukan apa saja dan untuk apa saja, dia akan paham dan membuat filter sendiri.

Kampanye hitam (black campaign) di media sosial kini menjadi sebuah tren. Mayoritas “status” pemilik akun di Facebook atau Twitter, tidak jauh dari dua capres yang kini sedang bertarung di panggung. Orang Indonesia seolah terbelah hanya dua bagian: kubu Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Ini mirip yang terjadi di Amerika Serikat (AS) di setiap pagelaran pemilu di sana yang membuat rakyat AS berada dalam dua bagian: Demokrat atau Republik.

Sejatinya, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta adalah bagian dari “kita”, yang setelah 9 Juli nanti akan muncul satu pemenang yang merupakan manifestasi dari “kita”. Apakah “kita” harus terbelah dan saling menghancurkan padahal semuanya juga akan kembali menjadi “kita”? Inilah yang harus dipahami, bahwa sebagai bagian dari proses demokrasi,  Pilpres 2014 adalah salah satu jalan menuju sebuah cita-cita untuk menyatukan yang terberai menuju Indonesia yang lebih baik, bukan Indonesia yang tetap terbelah.***
KOMENTAR
Terbaru
Biaya Operasional Tak Tertutupi

Rabu, 21 Februari 2018 - 09:50 WIB

Dua Pelaku Curanmor Pasrah Digiring

Rabu, 21 Februari 2018 - 09:40 WIB

5 Rumah Musnah Terbakar Rumah Ketua PWI Rohil Hampir Musnah
Truk Bertonase Besar Rusaki Jalan Soebrantas

Rabu, 21 Februari 2018 - 09:26 WIB

Perbaikan Ruas Jalan di Mumpa Kewenangan Pihak Provinsi
Follow Us