Inspirasi dari Rohil

Minggu, 08 Apr 2012 - 07:15 WIB > Dibaca 3274 kali | Komentar

ABDUL Wahab memang tak jadi ke Bagansiapi-api, Rokan Hilir (Rohil), sempena puncak Hari Pers Nasional (HPN) ke-66 yang dipusatkan di kota tersebut, Kamis (5/4). Tetapi telah ia kirim inspirasi dari kabupaten itu. Tidak saja melalui lagu ‘’Dindung Badindung’’, ‘’Ayam Putih Pungguk’’, atau sekadar kacang pukul, tetapi juga kasih sayang yang tak habis diucap, wo aini, aku cinta padamu, seperti dalam sajak Ediruslan Pe Amanriza, ‘’Bom Bagan’’.

‘’Bertiga kami telusuri 44 anak tangga yang kini memang datar melandai. Kami segera teringat Panglima Layar, Syekh Abdul Wahab Rokan, Tengku Bagus, Salim, Saleh Djasit, Ediruslan Pe Amanriza, Sudarno Mahyudin dan sejumlah nama lain bahkan WS Rendra. Pulau Berkey bertirai kabut,’’ tulis saya melalui pesan pendek (SMS) kepada Wahab.

Waktu itu, dinihari, embun bergegas turun di Rimba Melintang seperti menahan cahaya bulan yang temaram. Sepi tiba-tiba menghimpit dada, yang saya tepis dengan mengundang kantuk; bersama laju mobil bersubahat dengan gelap. Tetapi seperti penyair Spanyol Federico Garcia Lorca berkata tentang Granada, patut diakui bahwa saya harus mengucapkan, ‘’Semakin kutinggalkan Bagan, Bagan mengejarku.’’

Begitulah, sampai di rumah setelah subuh Jumat yang seharusnya bermandikan sujud sajadah, tiga bangunan di Batu 6 Bagansiapi-api, terus mengepung saya. ‘’Tiga bagunan itu masih kosong, bahkan dua di antaranya melompong. Tapi aku mengisinya sendiri dengan mimpi dari masa-masa yang jauh di belakang, sekaligus masa-masa jauh di depan, sehingga kita semua bisa menyatakan sesuatu bernama hak, marwah yang dibesarkan oleh suka cita,’’ tulis saya kepada Wahab.

Arkian, kabupaten baru ini telah memikirkan museum dengan karakteristik yang tegas, di tengah kehancuran nilai-nilai manusia dalam kehidupan berbangsa saat ini. Ada gedung Museum Muslim, Museum Ikan, dan Museum Tionghoa, padahal Riau sendiri hanya memiliki satu museum umum. Itupun harus diselangi dengan pembiaran bahkan perubuhan terhadap museum alam, sedangkan pembangunan museum bahasa dan sastra di Pekanbaru, telah bertahun-tahun hanya menjadi wacana.

Jika kenyataan itu dihalakan dengan kecenderungan manusia hari ini, maka keberadaan museum adalah duta untuk pencapaian peradaban. Sebab, manusia memerlukan upaya pengakraban terhadap jati diri yang diberikan oleh seni dan agama. Khusus seni adalah seni tradisi yang medianya bukan hanya petunjukan, tetapi meseum yang bahkan saat ini menjadi wadah terdepan. Seperti disebutkan sejumlah pakar, kunjungan orang tidak lagi terfokus pada menara Eiffel di Paris, tetapi justru museum d’Orsay di sebelahnya. Di sisi lain, kunjungan museum di AS meningkat dari 200 juta menjadi 500 juta sejak akhir 60-an. Tak mengherankan, kalau kecenderungan ini memacu berbagai negara untuk membangun museum secara mengejutkan.  

Dalam rentang waktu 1960-1990, Jepang telah membangun 200 museum, dilengkapi pembangunan sekurang-kurangnya satu perguruan tinggi setara universitas tentang museum di setiap daerah. Di Inggeris, hampir setiap bulan, dibuka dua museum baru. Lebih gila di Jerman yang dalam waktu 10 tahun telah membangun 300 museum. Sementara Melaka, Malaysia, bertekad membangun 1.000 museum sejak 10 tahun terakhir.

Bukan Menumpang
Barangkali, tiga museum yang gedungnya sudah berdiri anggun di Bagansiapi-api itu, merupakan langkah awal yang cemerlang, sebab tentu diperlukan museum-museum lain dengan isinya sekaligus. Tetapi sebaliknya, patut disebutkan, roh ketiga museum itu, merupakan pilar peradaban yang mencerminkan kehidupan di Rohil —sekaligus kecenderungan manusia dulu dan akan datang. Apalagi kalau keinginan Bupati Annas Maamun agar Rohil memiliki lembaga pendidikan seni dan jurnalistik, dapat diwujudkan.

Museum Tionghoa memang diperlukan yang menuturkan bukan saja masa kini, tetap deutro-Melayu, 2.500 tahun sebelum masehi. Kedatangan mereka ke Bagansiapi-api memang memberi makna besar bagi kehidupan Melayu. Betapapun sempat terjadi pertikaian luar biasa, hal itu hendaklah disadari bahwa bagaimanapun Melayu bukan penumpang di negeri tersebut kalau sedikit saja mau meneroka sejarah. Ini harus disebutkan karena ada sejumlah pejabat di Rohil yang justru berkata, Museum Tionghoa menunjukkan Melayu sebagai penumpang.

‘’Tengok pula jejak manusia di Sintong dan Siarang-arang yang diduga sebagai pemukiman paling tua di Riau meski belum banyak diteliti, sementara perkakas dari masa yang jauh itu di antaranya telah menjadi beberapa keperluan pragmatis kekinian,’’ tulis Wahab. Ia kemudian menambahkan, ingat pula soal ikan yang menyebabkan nama Bagansiapi-api terkenal, dipelajari murid SD di Indonesia pada tahun 1970-an, sebagai penghasil ikan nomor dua terbesar di dunia.

Mungkinkah di antara Museum Tionghoa - ikan itu, kita memandang Tengku Bagus sebagai pemilik hak pengelolaan Bagansiapi-api dalam sistem Kerajaan Siak? Kita akan disadari, bagaimana seorang budak Rohil dihormati dunia, Salim, karena karya seni rupanya yang ia sendiri tidak pernah menyentuh Rohil? Kita dendangkan sedu-sedan dan cita-cita Sungai Rokan melalui koba, juga melalui karya-karya Ediruslan dan Sudarno. Kita terkejut, sebab Bagan disebut tokoh terkemuka teater Indnesia, Rendra, sebagai sedikit dari kota pertunjukan Indonesia dalam bukunya Mempertimbangkan Tradisi.

Menyangkut jurnalistik, sejarah tidak bisa mengabaikan peranan Bagan. Sebab, di tengah jurnalistik Riau mati suri sampai 1980-an, justru anak-anak muda Bagan menyuarakan manusia dalam terbitan Suara Rokan. Suatu terbitan sederhana dibandingkan sekarang memang, tetapi terbit rutin dengan kekritisan yang tak alang-kepalang, Suara Rokan telah mencacatkan dirinya sendiri tanpa ragu.  ‘’Kita ingat Saleh Djasit, anak Pujut, Rohil, karena ia anak jati Melayu pertama menjadi gubernur setelah Arifin Achmad dan setelah Orde Baru. Di tangannyalah lahir visi menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu,’’ tulis Wahab.

Terlebih lagi bila dihadapkan dengan Museum Muslim. Bukankah Melayu mengidentikkan dirinya sebagai Islam? Ingat kan bahwa dari Sungai Rokan, seorang sufi besar lahir yakni Syekh Abdul Wahab Rokan. Ia lahir memang di Tambusai, Rokan Hulu sekarang, tetapi menapaki dakwahnya dari Kubu, Rohil, pertengahan abad ke-19. Sempat menemui Sultan Siak untuk mengembangkan Thariqat Naqsabandiyah Khalidiyah, tetapi kemudian harus meneruskan perjalanannya ke Sumut sekarang, 1865. Ia memiliki pengaruh besar di Sumatera sampai Tanah Semenanjung sana.

Pada gilirannya, patutlah disebutkan, bisa jadi, museum-museum yang sudah dirancang di Bagansiapi-api menjadi suatu inspirasi. Inspirasi pemuliaan terhadap manusia sebagaimana Allah SWT telah memuliakannya.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 67 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 42 Klik

Follow Us