SAJAK

Sajak-sajak Ardilo Indragita

24 April 2016 - 00.42 WIB > Dibaca 3558 kali | Komentar
 
Puisi tentang Perjalanan Seorang Gadis yang Kemalangan

1.
yang sibuk setubuhi kata-kata
apa kau tahu siapa yang menulis duka para pejalan?

pekerjaan menduga mimpi,
ialah menunda menyesap
jamuan perjalanan
berupa hikayat
yang telah mukim
sebelum kota-kota usai dibangun.
angin selat yang layap ke segala arah
janganlah sampai menyesatkan
dan dedaun yang bertumbangan
setelah bismillah
bukannya sembahyang ke tanah.
sebab, ada faedah
menunggu direguk
oleh tuan
yang yakin
yang paham
yang tak takut
pada lorong-lorong sempit
pada rupa-rupa gang buntu.


2.
setelah kematian
mak dan abah,
digantungnya harapan
pada langkah sandal butut
yang masam oleh aroma kebencian

ini busut tanah yang sama
ini saput darah yang sama

apa orang-orang tak pernah belajar
pada kenangan yang belum rapuh?

maka, dalam pengembaraannya,
izinkanlah ia
menjadi seorang buta. sebab,
telah lama
ia kehilangan
warna kehidupan.
lalu, izinkanlah ia
jadi seorang tuli.
sebab, terlalu kerap
ratap dibekap senyap.

3.
kota-kota dibangun oleh kata-kata
yang legit dan repelita.
gadis yang kemalangan itu,
keluar pada malam buta,
sekadar ingin menemukan
kegelapan selain sisi risau hati.
ia ingat,
puisi ialah memilih kata-kata
yang dinubuatkan
buat para pujangga.
ia ingat,
pergumulan kata-kata itu
hanya ada
pada kamar-kamar tak berpintu
di tengah belukar.

alahmak, tengoklah!
gadis malang itu menuju ke sana bersama seorang bujang
bujang yang merapal mantra-mantra penghilang daya
alahmak, tengoklah!
lampu hotel menyala-nyala
manakala dibiarkannya bujang itu menulis puisi pada selangkangannya.

Balik Pintu Cokelat, Maret 2016


Palung Paling Dalam

di atas puing-puing sisa perperangan inilah kau bangun ruang puisimu. kemudian kau pimpin kerajaanmu. seakan-akan kau adalah seorang putra mahkota,  pewaris jiwa yang kalis. air susumu kerontang disesap penuh nafsu dukana para abdimu. wahai, kau yang tak pernah menyaksikan kejadian langit dan bumi. bahkan, tak kau saksikan kejadianmu sendiri yang sepuh. kau pun tahu, ihwal syair berbalas syair sebagaimana kebenaran berbalasan jua. tiada ketakutan, selain kesendirian dan rekam jejak yang tak luput ditulis pada buku kiri yang agung. yang kau baca dengan segunung dendam di palung paling dalam.

Balik Pintu Cokelat, Maret 2016


Di Tepian Kauthar

kalakian,
hujan ialah punggah kalkasar
yang tetas
dari rahim langit

maka,
biarlah
aku mengumpamakan rinai
sebagai harapan
atau
bila kesedihan jua yang diwahyukan
bersama buncah prahara
pada seorang perempuan
berbola mata cokelat, berambut legam:
ia baik-baik sajakah?
sebab,
terlalu lama
ditantinya kekasih
di tepian kauthar.
sambil mengelus-elus kawanan jipan,
dibiarkannya rindu
terus membusuk
di antara celah-celah bulu.

tepat di ujung hujan,
dilihatnya seorang lelaki menatap sisa-sisa rinai.

itu zenggi bisa saja seorang biduanda,
juga bisa sosok kekasih yang baru kembali setelah lama ia menghilang.
 pantaskah ia datang sesudah ini puisi purna?

Balik Pintu Cokelat, Februari-Maret 2016

Ardilo Indragita, lahir di Pulau Kedundung, Teluk Kuantan. Pernah meraih beberapa penghargaan di bidang menulis tingkat nasional. Sedang menimba ilmu di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unri. Bergiat di FLP Ranting Unri.

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 24 Februari 2018 - 09:24 wib

Proyek Tol Dievaluasi

Sabtu, 24 Februari 2018 - 09:02 wib

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Sabtu, 24 Februari 2018 - 00:09 wib

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Sabtu, 24 Februari 2018 - 00:02 wib

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Jumat, 23 Februari 2018 - 21:11 wib

Anies Baswedan Diadukan, Polisi Masih Mempelajari

Jumat, 23 Februari 2018 - 20:52 wib

Pemerintah Pusat Bantu Rp3 M untuk Korban Letusan Gunung Sinabung

Jumat, 23 Februari 2018 - 20:04 wib

Kembali Diusung PDI Perjuangan Jadi Capres, Jokowi Bilang Begini

Jumat, 23 Februari 2018 - 19:31 wib

Badan Anggaran DPR Setuju Pemerintah Angkat Guru Honorer Jadi CPNS

Follow Us