SAJAK

Sajak-sajak DP Anggi

13 Maret 2016 - 02.27 WIB > Dibaca 989 kali | Komentar
 
Rama-rama

kisah yang tak kuceritakan padamu
adalah perihal luka yang semakin basah dan biru
dan kisah yang kusebutkan padamu
adalah kenangan yang masih genap di kepalaku
 
barangkali, kita adalah rindu yang tak diselesaikan
dan kita seperti rama-rama yang meneruskan hidup lantaran
bingung bagaimana bisa kita
lenyap dengan tiba-tiba lantas kita tak berdaya
 
lalu kesepianku meranggas serupa
daun jati yang menggugurkan diri
dan kesedihanku menguap menjadi air mata
; meninggalkan perih
 
meski waktu meninggalkan kita begitu cepat
dan lambaian tanganmu terasa begitu menyayat
“kita adalah apa yang berangkat dan tertinggal di kepala penyair
dan kita adalah rama-rama yang dirangkai indah menjadi syair-syair”
 
Greenhill, 09 Oktober 2015


Larut

apakah malam belum larut?
matamu nyalang dan keningmu mengkerut
apakah sebab kau masih percaya bahwa
nyanyian jangkrik lebih
mirip malam ketimbang jam dinding yang menuju pagi?
 
memang, tak pernah ada sepi selain kesepian yang kerap bertandang
ke jiwa-jiwa kosong dan tenggelam
dalam kenang
mesin kendaraan yang lalu-lalang, televisi yang menyala, pendingin ruangan
hingga nada dering telepon genggam,
adalah sesuatu yang mesti kau abaikan
 
bumi memang semakin tua sayang, dan
langit berubah warna seperti uban
lahan-lahan terus dikebumikan
jerebu menyeberangi lautan
 
sejarah terus berulang
jarak pandang hanya sekian dan sekian
matahari seperti jeruk orange yang tak lagi menyilaukan
kain-kain lembab, mata sembab, kita terisak dalam doa yang panjang
 
dan apakah malam belum larut?
mataku pun nyalang dan keningku mengkerut
lalu aku ikutan percaya bahwa nyanyian jangkrik lebih
mirip malam ketimbang jam dinding yang terus menuju pagi
 
Greenhill, 10 oktober 2015


Sajadah Malam

aku ingin membawa sapu tangan dan mengusap airmata
yang kau siram di sajadah malammu
aku ingin berada di sisimu yang gigil lalu
menatahmu kembali terlelap di sampingku

lalu aku meninggalkanmu
membiarkan dirimu
terlelap sepi sendiri
setelah memeluk doa tidurmu

di sajadah yang sama denganmu
dengan hanya membawa diriku
diam-diam aku mengadu hingga waktu
merangkak pelan menjelang subuh

oh, tentu engkau tak ingin aku
menghapus air matamu
sebab sajadah malam
lebih indah dari mimpi kita semalam

GreenHill, 2015


Puisi

bait-bait yang kau baca
adalah rantai yang kusiapkan
untuk memasung diriku
dalam kepalamu

setiap kali jariku bergerak
kuharap rantai-rantai ini membuatmu sesak
dan saat rantai ini tak bisa menemukan kunci
aku ingin kekal dalam ingatanmu lagi

barangkali, aku hanyalah debu yang selalu
tergelincir di rambut hitammu
atau hanyalah tetes keringat yang melulu
jatuh dan mengalir di wajah cantikmu

takkan lama setelah itu mungkin aku
hanya akan menjadi nyanyian tidurmu
yang kau dengar saat terjaga
dan akan kau lupa saat menutup mata

begitulah aku mengubahmu menjadi puisi
yang akan kubaca sendiri sebelum malam kian kerut dan sepi
sebab aku tak mampu menjadi bulir rindu
yang berakhir—cair mengalir di sudut matamu

GreenHill, 2015


Seutas Tali
: Kamil Dayasawa

aku menugur malam hanya agar kau buka
seutas tali yang terikat dalam ribuan kata
yang telah seharian kuramu agar Adil tak lagi sedih sepeninggal ibunya
dan benci tak ia letakkan di hati tersebab bapaknya

dengan senyum yang turut kau tuang bersama bait terakhir
ke dalam sebuah cangkir
aku terus menginginkan agar Adil tetap tidur siang bersama
malaikat berparas ibu yang ia temukan di dalam mimpinya

aku tak ingin Adil dewasa dan selalu terbangun
memeluk ibunya dalam pigura atau terbangun
ketika bapaknya membuka pintu
meninggalkan kasih sayang di kening putranya yang pilu

ya, tak semestinya kureguk apa yang menjadi dahagamu
sebab yang telah kau tuang akan menjadi darah di dagingku
bersama senyummu yang terus turun ke dalam dada ini
aku merubah adil menjadi lelaki, penikmat sepi

GreenHill, 2015

DP Anggi, lahir di Bangkinang, 17 November. Mahasiswi Ilmu Pemerintahan Universitas Riau. Senang berpuisi, design grafis, memasak dan fotografi. Buku Puisi tunggalnya; Raudah-Raudah Sajadah (2013), Hati yang Lillah Mencintai (2016). Puisi-puisinya pernah dimuat di Riau Pos, Indopos dan Jawa Pos.

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:58 wib

KLHK Disebut Langgar Perda RTRW

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:56 wib

Argentina di Ujung Tanduk

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:54 wib

Kerugian Negara Rp40.000, Jaksa Belum Bersikap

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:51 wib

Sidang TPPU PT BLJ Diundur

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:39 wib

2019, Bangun 6.000 Jargas

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:35 wib

Warga Resah Lampu Jalan Padam

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:28 wib

Desa Harus Punya Aset Tanah

Sabtu, 23 Juni 2018 - 11:20 wib

Infrastruktur Kata Paling Sering Disebut

Follow Us