SAJAK

Sajak-sajak Irda Yanti

6 Maret 2016 - 00.13 WIB > Dibaca 827 kali | Komentar
 
Bedak Muka

warnamu yang seputih kertas itu
tumbuh lembut menyatu dengan serpihan
wajah yang kau kira

tapi warnamu yang seputih awan itu
mengelupas kemerahan bak serpihan
pinang masak

2016


Sajak Sakit

aku tak pernah tahu kapan tuhan menyayangiku.
dan kelak dadaku mengeja dari sekian hektar
rasa yang berakhir.

belajarlah dari kesendirian menahan keringnya
hidup. membelah sunyinya doa yang kau labuh
dalam lakonan kesepian yang menenggelamkan luka.

ketika kita bersama kau hadiahkan kepedihan.
agar aku mengerti bahwa sukmaku menggenggam
sukmamu.

ketika kita jauh kau hadiahkan diri sebagai naluri
pengganti penghapus dosa-dosa itu.

2016



Rapuh

rapuh, berbicaralah pada nalar
yang memekik
di balik kelemahan cinta
tak ada kata manja yang berani
pada bongkahan kertas
karena rasa yang tersembunyi
lebih besar dari sebatang pena
tapi cinta selalu menunggu sampai rapuh
tenggelamkanlah kecemburuan
yang tak pernah kau kira.

2016


Dalam Tiga Sajak

deru …
ceraikanlah angin yang berhembus
karena aku tak sanggup
menunggu kasihmu

rindu…
bisakah kau bersembunyi
di balik ombak yang berjalan
masihkah kau tak mengerti
atau tak mengira?

rasa…
kutunggu selalu
dan rindu adalah serupa bayang
tapi tak pernah benar
menantikan yang salah
karena tak berakhir.

2016



Tahap Dua

kupunya yang dulu merahmu
yang tertatih membuang muka.
tak sadar menyapa lelumpur yang
menyudut gumpalan perasaan.
rasanya aku lelah membagi kupunya cinta
tapi engkau tanggunganku
yang tak balaskan kasih.

akhir minggu pun kau tak punyaku lagi.

di mana kan kutemukan gejolak mawar itu. apakah masih tersimpan
dalam pakaianmu yang bersurut mata? atau kepalan rayu
yang berilusi sulamnya sunyi. mungkinkah kau serahkan seribu
kupu-kupu mengapung bunga jantannya.
“bisakah kau kembali?”

kehidupanku bak air pasang. tak seperti hidupmu.
yang tak bertampang bukan kenangan
duka selalu mengeja arti
yang kupunya dulu.

2016



Rasa Petang Ini

petang, hatiku mulai kau gaungkan gara-gara sup rumput
laut mengaduk isi perut. di sepanjang jalanan yang berimbun
penumpang.

di mata yang memerah mulai kering kerontang, ba’da
asar pun menenggelamkan kejantananmu di dalam
keheningan dan kesiur angin.

takkan aku biaskan kau melenyap bersama senja
takkan ingin aku belahkan dengan kesedihan. takkan ada
aku biarkan kau lenyap.

kegirangan menumpuk dalam bakul, serukan cerita petang ini.
kau tampak memekarkan sorotan lesung pipi itu. menyatakan
sabda lewat sahutan mata. menelanjangkan rasa yang bermuara
di petang ini.

2016


Irda Yanti, penyuka puisi dan cerpen. Aktif di forum diskusi Brillian English Club MAN Selatpanjang, serta tergabung dalam wadah menulis kreatif Komunitas Cahayapena Selatpanjang. Masih duduk di bangku kelas XI IPA 1 MAN Selatpanjang.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:39 wib

Sepaktakraw Minta Dukungan Masyarakat Riau

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:16 wib

Asian Games, Harga Diri, dan Eksistensi Sebuah Bangsa

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:15 wib

Mulai Tajam, Begini Kata Media Polandia tentang Egy

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:14 wib

Kalah dari Atletico, Real Madrid Rindukan Ronaldo

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:07 wib

Kekayaan Jokowi Rp 50 Miliar, Sandiaga Triliunan

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:05 wib

Presiden Janjikan Gaji ASN Naik 5 Persen Tahun 2019

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:01 wib

Misbakhun Nilai Pidato Zulkifli Bernuansa Kampanye

Kamis, 16 Agustus 2018 - 20:59 wib

Kenang Kata Gus Dur, Ini Kata Said Aqil tentang Prabowo

Follow Us