SAJAK

Sajak-Sajak Kevin Khanza Jaelani

21 Februari 2016 - 01.41 WIB > Dibaca 1092 kali | Komentar
 
Petrichor
- Ketika hujan mengantarku pulang

sesaat setelah ia reda,
aromanya membawaku kembali
ke sebuah tempat di mana aku
pernah menjadi seorang kanak yang
menginjakkan kaki di pasirnya yang
putih, membiarkan ombak mengantarkan
airnya menelusup ke dalam sela-sela jemari,
lalu tersenyum mengingat betapa
mudahnya hidup sebelum ini.

Pekanbaru, 19 Januari 2016.


Kekasihku Sayang
Kekasihku Malang


Aku pernah mengaku, kekasihku
seorang pelacur.
Malam sering hinggap di kepalanya yang besar,
yang keras, yang rapuh. Sering aku
mendengar
hembusan nafasnya melantukan nyanyian Layla Hasyim.
Syahdu. Menusuk kalbu.

“Kau mau makan apa?” tanyaku.
Ia menjawab dengan isak, dengan sembab.
“Kau kenapa?” tanyaku lagi.
Ia menyahut dengan iba, dengan takut.

Ada parkit di kelaminnya.
Saranya menggigit sampai ke rahim.
“Kau tak apa?” tanyaku.
“Sudah malam.” katanya.

Pekanbaru, 12 Januari 2016


Stranger
- Pada sebuah kedai kopi

Aku menatapmu tajam dari seberang.
Matamu menyapu ruangan hingga kita
bertatapan.
Apakah kau juga seorang pemburu?

Kau sedang menyendiri di tengah
ramainya meja, memasang tatapan
seakan mengajak seseorang untuk bercinta.

Aku melihat surga pada matamu.
Kau tak lagi menikmati obrolan teman-temanmu.
Dan kita pun saling menelanjangi lewat mata.
Kita sepasang petualang eksibisionis.

Terlalu cepat aku membayar kopi dan kau
pura-pura mendengar temanmu lagi.
Kenapa? Takut dosa?

Kau tahu aku harus pergi, dan kau memberi
satu tatap terakhir sebagai ciuman perpisahan.
Kita tak perlu saling mengenal bukan?
Sebab kita sepasang pemburu pelesat anak panah.
Tiada yang perlu tersakiti.

Pekanbaru, 17 Januari 2016


Mencuci Asmara

Setiap pagi, aku membeli koran hanya untuk
ditukarkan dengan berbagai kabar sedih.
Dunia semakin kehilangan hal-hal baik saat ini.
Tapi sekalipun dunia kehilangan berbagai
hal-hal baik, setidaknya aku masih memilikimu.
Dan itu adalah berita baik yang paling apik.
Aku tak peduli di mana awal.
Barangkali, kita hanya akan berakhir sebagai
sepasang hujan yang cemas di kelok jalan sunyi.
Kehendakku adalah, padamu aku berakhir.
Kuakui sesekali kau terlintas di kepalaku
tanpa pakaian.
Masa-masa menjilat telah lewat.
Bila ada waktu, ikutlah denganku.
Kita pergi ke binatu, membersihkan
pikiran yang mengganggu.
Mencuci asmara.


Kelu

Jika lelah,
lipat khayalanmu membentuk
jarum jam yang mengarah ke detik
di mana mata kita pernah bertemu.
Lalu hentikan.

Pekanbaru, 2015

Kevin Khanza Jaelani, lahir di Ujungbatu, 24 Juni 1995. Saat ini tengah aktif bermusik dan menulis. Beberapa puisinya pernah dimuat di Riau Pos, dan termaktub dalam Buku Antologi Pelabuhan Merah (Kumpulan puisi pilihan Riau Pos 2015). Kini tinggal di Pekanbaru dan bergiat di Malam Puisi Pekanbaru.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 14 Oktober 2018 - 19:31 wib

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Konsultan, Perkindo Riau Gelar Musda III

Minggu, 14 Oktober 2018 - 15:53 wib

Aksi Penggalangan Dana untuk Sulteng Bergerak Capai 16 Juta Lebih

Minggu, 14 Oktober 2018 - 13:28 wib

SSB Golden Star Tualang Juara Gala Desa 2018

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 18:10 wib

35 Ribu Pekerja Rentan Dilindungi BPJS TK-Bank Riau-Kepri

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 10:48 wib

1.020 Mendaftar, Sediakan 4.000 Kupon

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 10:47 wib

Sayat Tangan, Diskes Harus Periksa Kejiwaan Siswa

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 10:45 wib

Elevasi Waduk PLTA Naik 2 Sentimeter per Jam

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 10:44 wib

Pemprov Diminta Data Ulang Honorer

Follow Us