Tidak Ada Asap Kalau Tidak Ada Api

28 Maret 2014 - 09.05 WIB > Dibaca 40787 kali | Komentar
 

Kearifan lokal mengajarkan kita lewat pepatah, tidak ada asap kalau tidak ada api. Artinya tidak ada akibat tanpa sebab. Asap hanya akibat.

Sebabnya adalah api. Bila di Riau terjadi bencana kabut asap berturut-turut selama 17 tahun itu berarti penyebabnya (si pemantik api) tidak pernah bisa diatasi. Mengapa?

Statemen Wakil Komandan Satgas Tanggap Darurat Asap Riau Mayjen TNI Iskandar M Sahli SE soal itu menarik dicermati. Ia menegaskan bila Kapolda dan Danrem tidak bermain, soal asap di Riau ini bisa beres.

Jika kita buat antitesis dari statemen tersebut bunyinya begini: bila Kapolda dan Danrem bermain, maka asap di Riau ini tidak akan beres.

Jika sudah 17 tahun bencana asap terus berulang dan tidak pernah beres maka antitesis statemen tersebut menemui kebenaran di lapangan. Secara teori, musim kemarau adalah musim yang tepat untuk membuka lahan dengan cara cepat yakni membakar.

Dari dulu penduduk lokal biasa melakukan itu tetapi tidak pernah menjadi bencana karena sifatnya hanya lahan terbatas. Pertanyaannya kalau masyarakat seberapa luaslah lahan yang mereka miliki?

Apalagi kuli-kuli yang diupah membakar lahan. Mereka hanya orang suruhan yang bahkan tak punya lahan meski kini mereka yang banyak menjadi kambing hitam dan tersangka.

Lalu jika di Riau tahun ini terjadi kebakaran hutan dan lahan mencapai 11 juta hektare lebih maka pertanyaan siapa di balik perintah membakar ini? Pastilah cukong-cukong.

Siapa mereka-mereka itu? Pastilah para oknum dari korporasi-korporasi (bisnis), pemerintahan ataupun oknum aparat keamanan.

Temuan Satgas Penanggulangan Asap Riau adalah fakta tak terbantahkan itu. Sekitar 3.000 hektare kawasan konservasi cagar biosfer diduga sengaja dibakar.

Lahan diperjualbelikan oknum kepala desa dan koperasi. Kawasan cagar biosfer di Riau diduga dikuasai berbagai pihak.

Komandan Satgas Darurat Brigjen Agus Irianto menyebutkan bahwa anggota TNI AD yang diamankan terkait penguasaan lahan ilegal, Sersan Mayor Sudigdo, mengaku bukan hanya dirinya yang menguasai lahan secara ilegal di cagar biosfer dengan jumlah ratusan hektare, tapi juga perwira menengah kepolisian.

Dalam pemeriksaan di Denpom TNI AD, dia (Serma Sudigdo) menyebutkan mantan Kapolres di Riau juga menguasai lahan secara ilegal di kawasan cagar biosfer.

Dalam BAP-nya di Denpom TNI AD, Sudigdo menyebut 2 oknum mantan Kapolres. Serma Sudigdo yang didanai cukong memiliki lahan ratusan hektare.  

Kepala Departemen Jaringan dan Pengembangan Sumber Daya Wahana lingkungan Hidup (Walhi) Khalisah Khalid mengatakan pihaknya menagih komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menindak tegas perusahaan yang terlibat pembakaran hutan di Riau.

Dulu ada 14 perusahaan ditenggarai jadi biang titik api di Riau. Sejak 2013 Walhi telah melakukan gugatan hukum dan sampai sekarang justru terjadi kebakaran yang lebih besar dan belum ada tindakan hukum apapun terhadap para tersangka sebelumnya.

Padahal ketika itu pemerintah telah mengantongi sejumlah nama perusahaan yang terlibat pembakaran hutan di Riau.

Seharusnya dapat langsung memulai penyelidikan dan penyidikannya terkait kasus kebakaran hutan yang terjadi hampir saban tahun tersebut. Namun seiring waktu itu kasus itu hilang.***
KOMENTAR
Terbaru
Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 WIB

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 WIB

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 WIB

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 WIB

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 WIB

Follow Us