OLEH JIMMY FRISMANDANA KUDO

Ayah Teladan Bernama Hatta

29 November 2015 - 00.20 WIB > Dibaca 3333 kali | Komentar
 
Ayah Teladan Bernama Hatta
Mohammad Hatta yang akrab dikenal dengan nama Bung Hatta sewaktu berjuang menuju gerbang kemerdekaan Republik Indonesia yang sangat ia cintai pernah melakukan sumpah sakti dan ikrar besar untuk tidak akan menikah sampai Indonesia benar-benar merdeka. Suatu hal yang benar-benar Bung Hatta lakukan karena kecintaannya yang begitu dalam terhadap ibu pertiwi Indonesia.

Beberapa bulan setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya 18 November 1945, Bung Hatta akhirnya benar-benar menikah dengan pujaan hatinya bernama Rahmi Rachim. Bung Karno sendiri berperan besar untuk menjodohkan Bung Hatta dengan Rahmi karena Bung Karno paham bahwa sahabatnya yang satu ini jika berhadapan dengan perempuan memang bukan ahli yang baik. Perbedaan usia 24 tahun bukan menjadi penghalang bagi Bung Hatta dan Rahmi menjalani romantika rumah tangga bersama ketiga perempuan buah hatinya yang manis bernama Meutia, Gemala, dan Halida.

Buku yang ditulis oleh ketiga putri Bung Hatta ini menceritakan dengan sangat baik serta sangat dekat sekali sosok tokoh berprinsip teguh dan berpendirian kuat Bung Hatta yang ketiga putrinya menyebut Bung Hatta sebagai ayah. Buku ini terdiri dari 3 bagian yang masing-masingnya terdiri dari tulisan-tulisan cerdas serta menginspirasi kita semua yang berasal dari pengalaman Meutia, Gemala, dan Halida bersama ayah yang sangat mereka cintai, kasihi, dan sayangi sebagai teladan hebat yang mendidik ketiga putrinya hingga berhasil seperti saat ini.

Karya luar biasa mengagumkan ini wajib dimiliki oleh siapapun dan dari kalangan manapun khususnya bagi para pecinta tokoh bangsa Indonesia bernama Mohammad Hatta sang pecinta buku nomor wahid termasuk bagi mereka yang telah menjadi ayah dari anak-anak tercinta sehingga kita bisa meneladani Bung Hatta dalam mendidik anak-anaknya dengan penuh makna, penuh cinta, dan penuh sayang. Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan pada satu sisi membuat air mata mengumpul di bola mata seperti mau menangis, terharu dengan didikan Bung Hatta.

Kecintaan Bung Hatta terhadap sejarah diturunkan kepada anak-anaknya. Meutia menceritakan (hlm. 17), bahwa ayah dan ibu selalu membawanya ke tempat-tempat bersejarah di tiap kota sehingga itulah yang menyebabkan Meutia memiliki minat besar pada sejarah kebudayaan sehingga membawa beliau menjadi Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia. Suatu prestasi yang didapat dari didikan Bung Hatta.

Suami Meutia yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono menulis kenangannya bersama sang mertua, Bung Hatta (hlm. 100), “Saya bersyukur bisa mendampingi dan mengamati raut muka beliau, menatap mata beliau yang tajam bersinar, yang mengungkapkan kekerasan sikap dan keteguhan hati”. Kesan yang begitu luar biasa cocok dengan sosok Bung Hatta.

Bung Hatta seperti yang kita semua ketahui identik dengan kejujuran itu sendiri. Gemala menceritakan kejujuran sang ayah yang begitu tertib menggunakan uang negara (hlm. 165), ”Pada tahun 1971 Ayah dan Ibu disertai Halida pergi berobat ke negeri Belanda dan mampir ke Austria. Sekembali dari sana, Ayah memerintahkan Pak Wangsa Widjaja mengembalikan kelebihan dana sisa perjalanan yang diperolehnya itu ke negara melalui Sekretariat Negara.”

Ayah berujar (hlm. 166), “Kalau masih ada sisanya yang tak terpakai, itu wajib dikembalikan”. Tidak terlintas di pikiran Ayah sedikit pun menggunakan sisa uang untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Ayah selalu melihat uang itu sebagai uang rakyat Indonesia dan masih banyak orang lain yang membutuhkan sisa uang itu. Dengan demikian, prinsip Ayah adalah “Itu bukan uangku, kembalikan kepada negara”. Betapa sucinya pemikiran Bung Hatta. Sebuah sikap dan teladan yang (sangat) sulit ditemukan dalam politik Indonesia dewasa ini yang kian hari kian korup tingkat kronis.

Persahabatan indah Bung Hatta dengan Jawaharlal Nehru bermula di Brussels, Belgia, tahun 1927 dalam kongres “Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial”. Hatta dan Nehru berjuang sejak mahasiswa bagi negara masing-masing. Persahabatan yang tetap terjalin sesudah itu berlanjut dengan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan India yang terjalin dengan sangat baik pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Hal tersebut tak terlepas dari persahabatan anggun antara Hatta dan Nehru (hlm. 188-189).

Teladan Bung Hatta sebagai ayah yang luar biasa sekaligus fenomenal mesti kita jadikan contoh besar. Menutup tulisan ini, mengenai sosok keras hati, pecinta buku lintas bidang, dan sikap prinsipil kelas satu bernama Bung Hatta, penulis ingin mengutip kalimat yang bagus sekali dari seorang ahli psikolog bernama Sigmund Freud asal Austria, “I cannot think of any need in childhood as strong as the need for a father’s protection” yang berarti “Saya tidak berpikir kebutuhan lain dari masa kanak-kanak sekuat kebutuhan akan perlindungan seorang ayah”.

Bung Hatta sebagai ayah teladan tidak hanya menempati hati ketiga anak perempuannya tetapi juga menempati secara kekal abadi dalam setiap hati sanubari anak bangsa Indonesia yang merindukan sosok negarawan yang berbuat dan berbakti bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia! Kita rindu Bung Hatta.***


Jimmy Frismandana Kudo, Guru Sejarah SMA Darma Yudha, Pekanbaru


KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 14 Desember 2018 - 17:00 wib

Ashanty Bangga dengan Aurel

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:30 wib

Maia Estianty Hamil Anak Irwan Mussry?

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:00 wib

Diduga Overdosis, Mahasiswi Ditemukan Tewas

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:53 wib

Rapat Kerja dan Terima Gelar Adat

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:35 wib

Bawaslu Akan Menindak APK Melanggar Peraturan

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:30 wib

Lakukan Medical Check u p Pranikah

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:01 wib

Jalur Padang-Solok masih Macet

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:00 wib

6 Kilogram Sabu untuk Tahun Baru Gagal Beredar

Follow Us