Koba, Sastra Lisan Rohul

Ratap Sicuriang dan Sibongsu

26 Februari 2012 - 07.17 WIB > Dibaca 6328 kali | Komentar
 
Ratap Sicuriang dan  Sibongsu
Wak Taslim menabuh bebano sembari mendendangkan kisah dalam bukoba (koba, red), di markas Bandar Serai Orkestra (BSO), Rabu (22/2/2012). (Foto: fedli azis/riau pos)
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Salah satu tradisi lisan yang masih bertahan di sepanjang aliran Sungai Rokan adalah koba. Sastra lisan ini disampaikan seseorang atau si tukang koba melalui cerita atau mengabarkan berita. Fungsinya sebagai media interaksi budaya, agama dan sosial dalam masyarakat, terutama masyarakat Melayu Rokan Hulu.

Jemari orang tua itu tak henti-hentinya menghentak ringan bebano sembari mendendangkan kisah Ratok Sicuriang dengan Si Bongsu Bobilang Malam. Memainkan tradisi lisan yang satu itu memang sudah menjadi keahliannya sejak 1971 hingga detik ini. Orang tua yang biasa disapa Wak Taslim tersebut begitu fasih menghasilkan bunyi-bunyi khas untuk musik koba. Seakan tiada letih, ia dan seniman Rohul, Jon Kobert sebagai memukul gong, dengan khusyuk menyanyikan cerita dua sejoli Sicuriang dan Sibongsu hingga larut malam.

Taslim bin Faham yang bergelar Datuk Mogek Intan malam itu sesekali menghentikan permainannya untuk memakan sirih dan merokok. Karena menurutnya, memakan sirih menjadi syarat untuk memainkan tradisi lisan itu. Sirih adalah satu syarat yang masih dipertahankan dalam memainkan koba. Sedang mantera-mantera dan pengasapan kemenyan dan sebutir telur tak lagi dipakai karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Pelaku koba dari Kampung Padang, Desa Rambah Tengah Utara, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rohul itu mengatakan, kisah yang dibawakannya malam itu tentang Bosicuriang atau Ratok Bosicuriang atau Ratok Sicuriang dengan i Bonsu Bobilang Malam. Kisah diawali dengan syair Ratok Sibungsu yang berbunyi: Bobilang malam malam so malam kanko oso/ oso diparang mongorobeh/ bak kalam timpo monimpo/ monompuh lauik padang tan andeh/ disitulah kito cinto monyinto. Disambung Ratok Sicuriang yang berbunyi: Kolobak kalam timpo monimpo/ samubak bo timbong mandi porigi/ kolo disitu cinto monyinto/ samubak mati mongantong diri.

Kisah tersebut diakhiri dengan kabar menggembirakan. Sampailah niat dua sejoli itu untuk naik ke pelaminan dengan syair yang berbunyi: kolian borolek kito nak bokonuri/ kito ontuk moloangsongkan hajat kolian/ niat kolian ontuk moisi sumpah soroto sotie janji kolian/ mako samo sonanglah hati urang non banyak/ bahasokan sampainyo niat sicuriang non bosicuriang timang botumbai molakukan kohondak dengan konati/ menyampaikan rindu dengan dondom non sojak sonik ditanggongkan/ kinilah baru non kon sampai.

Semuanya diucapkan seperti mantera-mantera berbahasa Melayu Rokan Hulu, terdengar magis dan melenakan bagi siapa saja yang mendengar dan melihatnya. Dulu, masa saya belajar di Sekolah Rakyat (SR) sekitar 1962-1963, bukoba sangat diminati orang dan ditampilkan pada acara nikah kawin, panen padi, penabalan datuk-datuk. Kalau ada acara bukoba, maka akan banyak yang datang, bahkan dari kampung-kampung di  sekitar acara, tutur Wak Taslim, Rabu (22/2) lalu di markas Bandar Serai Orkestra (BSO) komplek Bandar Serai (eks purna MTQ) Pekanbaru.

Budayawan Riau yang juga anak jati Rohul Al azhar menambahkan, koba sama dengan cerita yang dituturkan dengan cara didendangkan atau bukoba oleh seorang tukang cerita. Dalam penampilannya, sebagian besar cerita disajikan penuturnya dengan iringan gendang rebana, sebagian lagi tidak. Seni ini cukup populer di lingkungan masyarakat sekitar Sungai Rokan hulu maupun hilir. Tidak diketahui bila persisnya seni ini pertama kali ada di kawasan ini. Namun dari beberapa penuturan tukang koba, paling tidak seni ini sudah populer sejak hampir dua abad silam, atau dari 6-7 generasi di atas mereka.

Perkembangan seni koba di kawasan Rokan didukung oleh lingkungan sosial-ekonomi masyarakat setempat yang bergerak secara berkelompok bolak-balik dari kampung-kampung ke ladang-ladang padi dan pasar-pasar kecil di tepi-tepi sungai. Di kampung ada acara komunal yang bersifat sekular, seperti nikah-kawin, yang menghimpun kaum kerabat. Dalam kumpulan itulah, pada malam hari, koba didendangkan.

Komunitas diajak bersama-sama memberdayakan imajinasinya untuk mengembara oleh tukang koba melalui bahasa dan nyanyian. Demikian pula di malam-malam di ladang-ladang dan malam menjelang aktivitas pasar keesokan harinya, papar Ketua Umum Dewan Pengurus Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau itu panjang lebar.

Penuh Nasihat
Kisah-kisah dalam koba antara lain Panglima Awang, Panglima Nayan dan Cik Inam, Bujang Jauh, Bunga Kuali, Siti Jailun dan Tilindong Bulan. Cerita ini berisi tentang sejarah, nasihat, adat dan sebagainya dari empat kerajaan Melayu Nusantara seperti Kerajaan Ledong, Galang, Ulu Galang dan Tanah Moa. Kisah dalam koba tak lepas dari cerita dalam empat kerajaan Melayu lama dan orang-orang adat di Rohul menyukai kisah Panglima Awang dan Anggun Cik Suri karena banyak memakai petatah-petitih seperti kata pepatah, godang ninik mamak karena petatah-petitih, aku Wak Taslim.

Dalam koba sendiri sudah terangkum banyak seni tradisi lisan lainnya seperti ratok, burgah, rebana, silat dan sebagainya. Koba sendiri idealnya dimainkan oleh 4-5 orang yang masing-masing memegang peranan antara lain pemain bebano sekaligus penutur syair, pemukul gong, pemukul talempong dan gendang rebana. Namun bisa juga hanya dimainkan dua orang yakni pemain bebano sekaligus pelantun syair dan pemukul gong saja seperti yang mereka praktikkan beberapa malam lalu di Bandar Serai.

Waktu untuk berkoba sebagusnya tujuh malam. Untuk menamatkan kisahnya selama tujuh malam dengan bermain pindah-pindah dari satu acara ke acara lainnya. Baru-baru ini acara itu dilaksanakan di Rohul dan lumayan ramai, tambah Wak Taslim.

Lebih jauh disebutkannya, ada beberapa jenis koba yang dipakai di Rokan Hulu yakni Bukoba, cerita yang diiringi dengan alat pukul bebano yang dipukul sambil bercerita dengan nada nada tertentu oleh si penutur sastra lisan tersebut. Koba yang terkenal di Rokan Hulu adalah koba cerita Panglimo Awang, yang diceritakan sampai tiga malam, sedangkan Koba Bujang Jauh, Siti Jailun, Puti Lindong Bulan dan Tapah Non Godang hanya satu malam saja.

Selain itu ada juga koba duduk, cerita yang tidak memukul alat bebano atau lainnya, hanya saja sesekali cerita tersebut diiramakan atau dinyanyikan. Biasa dikenal dengan cerita Rao-rao dengan Puti Lindung Bulan. Cerita duduk, cerita biasa yang dilakukan seperti bercerita tentang dongeng, cerita lucu dan sebagainya. Koba boguliang, seorang ibu atau ayah yang bercerita, sesekali dinyanyikan untuk menidurkan anak dalam pengantar tidur. Dulu, si penutur koba lebih banyak diperankan oleh perempuan dan saya sendiri belajar dari nenek dan ibu saya, katanya.

Kurang Diminati
Harus diakui bahwa tradisi lisan yang syarat nasihat dan petatah-petitih adat Melayu ini memang kurang diminati, terutama para generasi muda. Bahkan untuk peran pemukul bebano sekaligus penutur kisah hanya bisa dilakukan generasi tua. Sedangkan beberapa anak muda-muda, masih memerankan untuk silat, berpantun dan lainnya.

Tidak hanya generasi muda, pemerintah tempatan juga kurang peduli sehingga tidak ada perhatian sama sekali untuk menggairahkan dan mengembangkan seni satu ini. Bahkan Wak Taslim dan penggiat koba di Rohul tak ingin berharap banyak pada pemerintah karena memang tidak ada niat sama sekali. Karenanya, ia meminta kepada anggota Sanggar Sastra Lisan Bukoba yang dibinanya lebih serius untuk mengembangkan diri agar bisa terus dipakai dalam berbagai helat budaya, baik di Rohul, maupun helat-helat lebih besar seperti penampilan mereka di Pekanbaru, Jawa maupun daerah Sumatera beberapa waktu lalu.

Kalau berharap pada pemerintah sama mengharap hujan di musim kemarau panjang. Bagaimana pun, mengembangkannya memerlukan dana, minimal buat pelaku-pelakunya, tegasnya mengakhiri.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 11 Desember 2018 - 10:00 wib

Wako Harus Lebih Serius

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:45 wib

Musim Hujan, Harga Komoditas Pertanian Naik

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:30 wib

Sabu-sabu Disimpan dalam Kotak Rokok

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:25 wib

Curi Sepeda Motor, Pria Pengangguran Dibekuk

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:06 wib

Ruangan Rektor UMRI Disegel IMM

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:00 wib

Fisik RSD Madani Hampir 90 Persen

Senin, 10 Desember 2018 - 20:23 wib

Pekerja Berhak Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

Senin, 10 Desember 2018 - 20:20 wib

Telkomsel Gandeng eFishery dan Japfa Hadirkan Kampung Perikanan Digital Di Indramayu

Follow Us