Jembatan Leighton Itu ”Mempermalukan” Kita

14 Desember 2013 - 09.34 WIB > Dibaca 9473 kali | Komentar
 

Perbaikan Jembatan Siak III yang melengkung (baru berusia dua tahun) menyebabkan Jembatan Siak I (Jembatan Leighton yang sudah tua) yang menghubungkan Kota Pekanbaru-Rumbai melalui Sungai Siak kembali difungsikan seperti semula, yakni menampung beban dua jalur arus lalu lintas.

Jembatan Leighton ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 19 April 1977 lalu, atau 36 tahun yang silam. Angka 36 tahun bukan angka yang biasa bagi sebuah jembatan yang menahan beban lebih dari kamampuannya.

Artinya jembatan itu sudah teruji dan pembangunannya benar-benar sesuai dengan ketentuan, tidak ada besi yang ”dimakan“ oleh kontraktor atau oleh pihak-pihak yang terkait dengan pembangunan jembatan itu.

Nama Leighton itu diambil dari nama perusahaan yang mengerjakan jembatan ini, yakni PT Leighton Indonesia Construction Company. Saat awal pembangunan, targetnya, jembatan Leighton ini akan mampu bertahan sampai usia 50 tahun (2027).

Itu jika beban jembatan disesuaikan dengan kapasitasnya, yang terjadi selama ini adalah beban jembatan melebih dari kapasitasnya.

Hal ini dibuktikan tidak pernah henti-hentinya mobil yang melalui jembatan ini, bahkan tidak jarang mobil pun antre di atas jembatan ini.

Gagah dan kokohnya Jembatan Leighton ini telah ”menampar” kita. Ternyata pembangunan yang dilakukan Orde Baru itu mutunya mengalahkan pembangunan yang kita laksanakan saat ini.

Jembatan Siak III yang baru saja kita bangun dua tahun lalu, tepatnya 3 Desember 2011, ternyata tak mampu menyamai kekuatan Jembatan Leighton yang dibangun pada masa Orde Baru, yakni zaman rezim Soeharto yang selama ini kita ejek-ejek penuh dengan KKN.

Kita masih ingat kasus runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara, seharusnya jembatan ini mampu bertahan sampai 100 tahun, namun baru 10 tahun sudah runtuh. Mengapa jembatan itu cepat rusak? Ada apa? Jangankan ahli teknik sipil, orang awam pun tahu.

Menyandingkan antara dua jembatan yang jaraknya dekat (Jembatan Leighton dan Siak III ) adalah cara sederhana melihat sejauhnya kualitas pembangunan yang kita laksanakan saat ini.

Tidak perlu melalui perdebatan politik, cukup dengan menyandingkan dua bangunan yang jaraknya hanya 300 meter itu.

Malu rasanya, katika kita ramai-ramai mengutuk Orde Baru dengan segudang keburukan, ternyata dua jembatan itu, berbicara bahwa kita yang saat ini memburuk-buruk rezim Soeharto ternyata lebih buruk.

Maka wajar, jika muncul pameo, ”kalau masa Orde Baru pejabat korupsi di bawah meja, tapi pasca Orde Baru di atas meja (tanpa rasa malu lagi).

Jembatan Leighton itu baru satu contoh dari ribuan contoh yang bisa membuat kita malu dengan diri kita.

Contohnya pembangunan moral bangsa yang kita agung-agungkan selama ini, ternyata aksi kekerasan dalam beragam bentuk makin sering kita saksikan di media massa.

Jangan dijadikan alasan bahwa peningkatan aksi kriminal itu karena kebebasan pers di masa rezim Soeharto ditutup-tutupi dan sekarang lebih terbuka, tapi jujurlah memang kita mengalami krisis moral. Ibarat kata pepatah, ”Semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak ”. Mari merenung sejenak, koreksi diri, apakah kita sudah lebih baik.***
KOMENTAR
Terbaru
Petani Sawit Inginkan Solusi di Rembug Nasional

Sabtu, 20 Oktober 2018 - 22:20 WIB

Parpol Harus Punya Dana Sendiri untuk Biayai Saksi Pemilu
Musprov PSTI Riau , Nama Yurnalis Basri Mencuat

Jumat, 19 Oktober 2018 - 18:19 WIB

21 Oktober Seleksi Administrasi CPNS

Jumat, 19 Oktober 2018 - 17:00 WIB

Masyarakat Tak Dipungut Biaya

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:30 WIB

Follow Us