Sajak-sajak Satya Wira Wicaksana

12 April 2015 - 06.44 WIB > Dibaca 3877 kali | Komentar
 
Rengkuh
—kepada Si Pendongeng Serangga Abu-abu

Kita pernah bersatu badan di bulan sebelas lalu
Pelukmu menghalau lampau yang dibawa hujan
Sekadar ingin aku percaya setelah hujan
harum tubuhmu tumbuh bermekaran

Di bulan sebelas kelak,
manikamku akan membuka jejak dari hulu sampai hilir,
menabrakkan kepalanya dan pecah di dinding elegimu.

Di punggung jemarimu yang tak pernah lengang
dari siapa saja yang pernah berpesta dan menyimpan bibir
kelak ialah tempat untuk hulu sampai hilir memberimu dahi,
sekadar mengemis kuasa pada bulan untuk merenggut matahari.
Lalu menyusuri anak-anak sungai kala senja berbaring menghimpit kita.

Di telapak tanganmu. Hulu, hilir, dan ular
kau hantarkan sampai ke surga
menembus mendung dan jarum bening yang lahir karenanya

Dalam rengkuhmu, rindu padam
membiarkan jingga yang bergaun hujan berputar menjadi daun

Pekanbaru, 16 November 2014-1 Januari 2015.


Martir

Aku memberimu dosa,  kau sebut itu puisi
Kau pilah dosaku di atas daging
Terhitung sama jumlah ayat dan sayat
Hingga bait ke tigabelas, melengking keras

Kau sadar dosa yang kemudian adalah bersekutu dengan Sarasin sepertiku
Atas nama kredo kau toreh kembali dosa yang kuberi, dengan pena juntai penuh duri
Kadang punggung, dada, juga tengkukmu
Tak lupa lehermu yang batang pinus itu

Aku beranjak setelah adzan melantang
Kau mengatup tanganmu setelah bunyi lonceng
Setelahnya setelah persekutuan ini hanyalah benih-benih kafir

Kita hanyalah gagu dari langit masing-masing
Lalu
Tak pernah lagi kutemui kau di Lauhul Mahfudz

Pekanbaru, 17 Juni 2013-26 November 2014


Pria Dalam Cermin

Kau dan aku
Saling mengetahui dia tidak benar-benar ke Antonio de Pereda
Dia masih fana

Kau, seluruhmu, dan dia yang kau harap sebagai kasau dalam Hagia Sophia
Masih saja sibuk tersekat enggan merengkuh
“Octo peccata mortalia!”
Yang terakhir ialah kebutaanmu yang entah, dan dia yang urung menyelimutimu di tubuh malam
Setengah kuyu kau mencari api

Kau dan dia hampir saja ke Nirvana ataupun Brahman-Atman
Tapi kau dan dia sibuk bertubrukan
Layaknya pagan, adat, agama, bahkan omong kosong pemilik modal
Yang berakhir pada Selatan masing-masing

Barangkali kita bintang jatuh atupun Hikayat Solomo
yang tak mampu melihat ke asal-muasal; janji kita.
Namun kita masih saja dalam batas, mungkin hingga kungkungan ini habis merajam segala
Dan aku hanyalah kepingan berkilat yang tertimpa cahaya

Atau, kita kanon saja segala konsep dan definisi?
Biar metafisika dan kurafat saling mengasah lidah, dan angin muson tertahan di luar Asia
Karena kau takut merengkuh serapah yang kita hunuskan di bibir sembab masing-masing

Pekanbaru, 4 November 2014.


Tanah Sarasin
Teruntuk: Meida Adlina Prameswari—yang
belum pernah mematikan rindu.

Telusuk dingin turun gigil memeluk
Bergandeng malam hujan merebah
Di persimpangan yang mewah karena harum Kintamani,
bersama para penyair yang dikutuk kata
aku mencari risik

Bosporus dan sungai Siak, sama saja. Sama-sama bisu tak bisa apa-apa.
Benua mengadu keluh hingga bisu
Pantas saja Tanah Sarasin jatuh, pongah sekali ia memeram kau, Meida.

Pada jarak yang enggan merengkuh
Pada kenang yang mendekatkan
Aku memaniskan laut
Seperti mengilang manau

Sevgili, pelesir, rindu atau apapun desisnya tentang gulana di matamu
Aku biru padamu!

Pekanbaru, 2 Oktober 2013-1 Januari 2015.


Pendosa

Kau bilang rindu ini dosa, maka diri ini ialah pendosa yang selalu diampuni Tuhan
Tuhan bilang Ia lebih suka dengan aku yang pendosa.

Pekanbaru-Dumai, 30 Desember 2014-1 Januari 2015.


Maha Entah

Kulihat hatimu memiliki jemari, dulu ia melata di rambutku
Sekarang ia memerah, kadang menguning.
Sudah berinai rupanya, milik siapa? Si Maha Entah?

Dumai, 1 Januari 2015


Kafir

Kau hujam takfiri ke jantungmu sendiri, lalu? Aku juga mati.
Aku tutup pintu yang di dalamnya penghangatan untukku, lalu? Kau mati di luar.

Waktu yang tak inginkan laju, disebutnya kita Kafir dan Neraka walau yang kita cipta serupa surga.

Dumai, 1 Januari 2015.



Sajak Semesta; Kesalahan

Kau ialah ketiadaan, sebuah ruang hampa yang tanpa sesiapa menghinggapimu. Namun Kau ialah apa yang diucapkan dalam kata-kata dan sesuatu yang dengannya kata-kata diucapkan. Apa yang tak bisa dipikirkan oleh akal, namun karenanya akal berfikir. Perihal hati yang meledak.

Sekarang dunia ini ialah ruang hampa yang bukan dirimu, sebuah hukuman. Dunia ini ruang hampa dengan waktu sebagai kesalahannya. Sadar atau tidak, aku sekarat menggapaimu sampai tak sampai. Sadar atau tidak, aku dicekik waktu dengan bandul detiknya.

Kesalahan yang dulu kucintai, ialah yang meregas segala hingga menjadi semula; sebuah ketiadaan.

Dumai, 1 Januari 2015.



Satya Wira Wicaksana
lahir di Pekanbaru, 14 November 1994. Seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Riau. Turut menggiatkan Malam Puisi Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 wib

Ancaman Serius Plastik Mikro

Follow Us