Bom Waktu Itu Bernama HIV/AIDS

6 Desember 2013 - 09.03 WIB > Dibaca 23004 kali | Komentar
 

Tanggal 1 Desemberi lalu dunia memperingati hari AIDS se-dunia. Apa sebenarnya makna peringatan itu? Ternyata gaya hidup manusia saat ini rentan tertular virus HIV/AIDS.

Seks bebas, narkoba dengan jarum suntik serta perilaku seksual menyimpang sangat tinggi angka kasusnya di era ini.

Lewat peringatan hari AIDS itulah aktivis anti AIDS berharap ada langkah konkrit semua pihak terutama pemerintah untuk menekan lajunya korban yang terinveksi virus mematikan ini.

Kasus demi kasus HIV/AIDS terus terdeteksi di semua daerah di Indonesia. Ini mengacu ke fenomena gunung es pada epidemi HIV/AIDS yaitu kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, dan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut.  

Di Riau dari data Statistik AIDS (3/7-2013) - Ditjen PP & PL, Kemenkes, melaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS pada priode 1 April 1987 sd 31 Maret 2013 tertanggal 17 Mei 2013 tercatat jumlah korban yang terinfeksi virus HIV mencapai 1.549 orang. Sedangkan yang sudah terjangkit AIDS mencapai 859 orang.

Lima provinsi yang paling banyak melaporkan kasus AIDS adalah Jawa Tengah (175), Sulawesi Tengah (59), Banten (34), Jawa Barat (33) dan Riau (32).

Faktor risiko atau penularan hubungan seksual tidak aman (tidak memakai kondom) pada heteroseksual (81,1 persen), penggunaan jarum suntik berganti-ganti pada penyalahguna narkoba (7,8 persen), dari ibu positif HIV ke anak (5 persen) dan LSL atau lelaki seks lelaki (2,8 persen). Ini artinya bagi semua daerah di Indonesia termasuk Riau, HIV/AIDS adalah bom waktu.

Istri yang baik berpotensi tertulari HIV/AIDS dari suami yang suka ‘jajan’ di luar dengan PSK. Ibu hamil dari suami yang terinveksi akan terinfeksi juga dan menular ke anak.

Ini jelas berbahaya sekali. Kita amat sangat prihatin dengan fakta ini. Ketika moral, agama dan semua seruan kebaikan tak lagi masuk ke telinga dan hati orang-orang yang mengaku modern saat ini yang terus saja menurutkan hawa nafsu syahwatnya di lokalisasi, maka harus ada program konkret mengatasi hal ini.

Maka untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru perlu dilakukan program yang konkret dan sistematis serta terukur di hulu yaitu pertama, mencegah dan menghentikan aktivitas pelacuran di manapun.

Kedua, Melakukan survailans tes HIV rutin terhadap perempuan hamil. Ketiga, menjalankan program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Itulah tiga langkah konkret di hulu yang bisa menurunkan insiden infeksi HIV baru.

Soalnya biar pun pemerintah sudah memberlakukan tes HIV gratis akan mendeteksi penduduk yang sudah tertular HIV, tapi fenomena gunung es akan terulang kembali karena insiden infeksi HIV baru terus terjadi.

Soalnya, banyak orang, terutama laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung atau PSK tidak langsung, yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka sebelum masa AIDS.

Jika tidak dihentikan maka kelak bom waktu itu akan meledak.***
KOMENTAR
Terbaru
Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 WIB

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 WIB

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 WIB

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 WIB

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 WIB

Follow Us