Oleh: Firman Susilo

Logika/Nalar dalam Berbahasa Indonesia

29 Maret 2015 - 09.57 WIB > Dibaca 9590 kali | Komentar
 
Orang yang melakukan kegiatan berpikir akan menggunakan bahasa, baik bahasa yang digunakan dalam pikiran, bahasa yang dituturkan, maupun bahasa tertulis. Oleh karena itu, bahasa dapat dikatakan sebagai alat berpikir, juga sekaligus sebagai tanda.

Bahasa dapat dipandang dari dua sudut, yaitu (1) sebagai suatu bentuk tingkah laku manusia dan (2) sebagai sarana yang dipakai oleh manusia. Bahasa sebagai tingkah laku manusia adalah sebagai satu peristiwa karena manusia melakukan hal-hal tertentu terhadap yang lain dengan menggunakan bahasa yang disebut pemakaian bahasa, sedangkan manusia yang melakukan bentuk tindakan itu disebut pemakai bahasa. Pemakai bahasa adalah penutur dan pendengar atau penulis dan pembaca. Bahasa sebagai sarana adalah bahwa bahasa dipakai oleh manusia untuk saling berkomunikasi. Oleh karena itu, bahasa memiliki sistem tertentu yang sistematik.

Bahasa itu suatu sistem. Selain sebagai sistem, bahasa itu juga suatu lambang. Lambang yang dimiliki bahasa itu berbentuk bunyi. Secara keseluruhan bahasa itu arbitrer atau manasuka. Dengan demikian, bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi antarmasyarakat. Bahasa disebut sistematik berarti mempunyai atau diatur oleh sistem, yaitu aturan atau pola. Pada setiap bahasa aturan ini terlihat dalam dua hal, yaitu (1) sistem bunyi dan (2) sistem makna (Alwasilah, 1983:76). Penutur bahasa Indonesia akan mengerti kalimat Sandal ada di depan pintu. Ujaran ini adalah gabungan dari sistem bunyi yang membawa makna.

Bahasa tidak pernah hadir dalam kekosongan/kenisbian. Bahasa selalu diwarnai dengan perubahan-perubahan sosial karena satu bangun kalimat yang selaras dengan satu situasi tidak berarti harus tepat pada situasi lain. Bahasabenar-tidaknya atau tepat-tidaknyadalam penggunaan satu ungkapan adalah sepenuhnya persoalan lazim/tidak atau diterima/tidak oleh masyarakat bahasa. Dalam hal ini, simak dengan saksama contoh kalimat berikut.

(1) Pencuri itu berhasil ditangkap polisi.

Ataukah

(1a) Polisi berhasil menangkap pencuri itu.

Kedua kalimat di atas perlu dipertimbangkan kehadirannya. Persoalannya apakah kedua kalimat itu benar? Ataukah kalimat pertama yang dinyatakan benar, sedangkan kalimat kedua dinyatakan salah? Ataukah kalimat pertama dinyatakan salah, sedangkan kalimat kedua dinyatakan benar? Atau barangkali kedua kalimat itu salah?

Keterlibatan logika/nalar dalam menganalisis kalimat di atas patut dipertimbangkan, bahkan mutlak perlu. Pertanyaan berikutnya timbul, yaitu apakah kalimat Pencuri itu berhasil ditangkap polisi dapat berterima ataukah kalimat Polisi berhasil menangkap pencuri itu dinyatakan yang berterima? Secara struktural, kedua kalimat itu berterima karena sesuai dengan kaidah yang berlaku. Akan tetapi, bagaimana dengan fakta bahasanya? Jika dilogikakan tentulah kalimat kedua yang berterima. Pernyataan ini didukung oleh logika bahwa yang berhasil itu bukan pencuri itu, melainkan polisi. Jadi, jika pencuri itu berhasil ditangkap tentu tidak benar karena jika berhasil meloloskan diri baru benar. Jika yang berhasil itu adalah polisi berarti masuk akal, logis, atau sesuai dengan logika. Perhatikan juga dengan contoh-contoh berikut.

(2) Koran itu belum sempat saya baca.

Ataukah

(2a) Saya belum sempat membaca koran itu.
(3) Setiap orang yang pernah ke Bukit Kelam akan merasakan suasana yang menyenangkan.

Ataukah

(3a) Setiap orang yang pernah ke Bukit Kelam  merasakan suasana yang menyenangkan.
(4) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksi terjadinya hujan pada hari ini.

Ataukah

(4a) Kepala/staf Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksi terjadi hujan hari ini. (Pontianak Post, Kamis, 9 April 2009)

Hal-hal yang berhubungan dengan bahasa di atas akan bermakna jika bahasa itu diungkapkan atau dikomunikasikan secara logis. Dalam hal ini, logika/nalar berperan penting dalam bahasa. Oleh karena itu, muncul istilah logika berbahasa. Kalimat 2a, 3a, dan 4a adalah kalimat yang berlogika/bernalar, sedangkan kalimat 2, 3, dan 4 adalah kalimat tidak berlogika/bernalar.

Logika/nalar berbahasa berhubungan dengan pelogikaan/penalaran seseorang terhadap bahasa yang diungkapkannya. Selain itu, berhubungan pula dengan pemahaman terhadap bahasa itu sendiri yang diterima dari orang lain sebagai hasil dari proses berpikir atau berlogika.

logika dalam merealisasikan pikiran atau penalaran dilakukan dengan media bahasa. Bahasa dalam logika hanya sebagai media saja, sedangkan bahasa dalam linguistik sebagai objek formal.

Dalam mengkaji bahasa, peran logika tidak dapat dikesampingkan. Hal ini dimungkinkan karena jika logika tidak turut campur dalam linguistik akan banyak penalaran yang keliru. Misalnya, kalimat yang sering kita dengar pada saat seorang pembawa acara jika akan mempersilakan seseorang dengan mengucapkan kalimat waktu dan tempat kami silakan. Pada contoh itu, kedengaran lucu, mengapa? Mungkinkah kita mempersilakan waktu dan tempat? Bukankah yang disilakan itu seseorang, bukan waktu dan tempat? Alangkah baiknya jika kalimat itu berbunyi kami silakan Bapak Anu untuk . Di sinilah peran logika dalam berbahasa menjadi sangat penting.***


Firman Susilo
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 14 Desember 2018 - 17:00 wib

Ashanty Bangga dengan Aurel

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:30 wib

Maia Estianty Hamil Anak Irwan Mussry?

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:00 wib

Diduga Overdosis, Mahasiswi Ditemukan Tewas

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:53 wib

Rapat Kerja dan Terima Gelar Adat

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:35 wib

Bawaslu Akan Menindak APK Melanggar Peraturan

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:30 wib

Lakukan Medical Check u p Pranikah

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:01 wib

Jalur Padang-Solok masih Macet

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:00 wib

6 Kilogram Sabu untuk Tahun Baru Gagal Beredar

Follow Us