Pekanbaru Mak Oi

Minggu, 26 Feb 2012 - 07:00 WIB > Dibaca 3054 kali | Komentar

ABDUL Wahab sedikit pun tak terkejut memperoleh kabar penangkapan sejumlah penari telanjang (striptis) di Pekanbaru awal pekan ini. Begitu saja ia menyebut sejumlah kota seperti telah biasa dengan hal semacam itu, bahkan pada beberapa tempat di Riau sendiri. ‘’Tapi kalau mau disebutkan juga, London dan Pekanbaru lah. Dua kota ini membuat berita yang mirip dengan waktu yang juga begitu hampir,’’ tulis Wahab melalui pesan pendek (SMS).

Rupanya, ketika aparat menggelandang tujuh perempuan yang diduga penari telanjang, lima orang tanpa busana sedikit pun di Pekanbaru, di ibukota Inggeris, London, sedang berlangsung acara berbugil ria. Di bawah judul London Fashion Week, sejumlah model melenggang-lenggok di atas catwalk. Menyandingkan judul acara dengan materinya, penampilan tersebut barangkali menyarankan bahwa model pakaian seharusnya tanpa pakaian, ya semacam hewanlah layaknya, kah kah kah.

Menjadi santapan pers karena salah seorang yang tampil tanpa pakaian, juga dengan lenggang-lenggoknya, adalah model ternama, Sophia Cahill, yang juga dikenal sebagai mantan Miss Wales. Tapi cepatlah membendung sembarang khayal karena Cahill tampil tidak seperti model-model biasa. Ia dalam keadaan bunting delapan bulan. Perut buncitnya jelaslah terlihat. Segala macam yang hendak ditengok pun tak terhalang sedikit pun karena di tubuhnya hanya melekat topi berwarna hijau —itu pun di kepala sebagaimana biasanya topi ditempatkan.

Ketelanjangan menarik perhatian juga diberitakan dari di Slovakia, awal Februari. 17 anggota parlemen di negara ini akhirnya bertelanjang. Tiga di antaranya perempuan, mereka berfoto membanjar. Sehelai sepanduk melintang di tengah tubuh, antara pangkal paha sampai dada. Dengan cara seperti ini mereka berupaya untuk menghapuskan kekebalan hukum anggota parlemen —juga pada status yang mereka sandang sendiri tentunya. Cara lain termasuk debat sejak 2010 tak membuahkan hasil apa-apa.

Setidak-tidaknya bagi Wahab, kabar berkaitan dengan telanjang ini, sebelum di Slovakia, juga menguak dari Riau. Ingat kan, pada awal Desember 2011, aparat bekerja sama dengan masyarakat di Bukit Suligi, Rokan Hulu, membongkar paksa empat kafe yang diduga menyediakan tari telanjang bagi pengunjungnya di tengah kerimbunan sawit dan hutan alam. Beberapa bulan sebelumnya pula, aparat di Padang, Sumbar, menangkap dua perempuan yang berbuat serupa, kemudian dipenjara 1,5 tahun.

‘’Jadi, memang banyak kasus semacam ini meskipun yang terungkap di permukaan masih amat sedikit. Apalagi di negeri yang menghalalkan striptis yang jejak awalnya dapat ditelusuri mulai tahun 1960-an,’’ kata Wahab. Ia tunjukkan sebuah catatan yang memperlihatkan bahwa di AS, terdapat lebih dari 5.000 tempat berstriptis. Peminatnya pun tak terbilang sedikit, melebihi kunjungan orang ke tempat hiburan yang lebih mengedepankan seni seperti konser musik klasik dan opera.  

Di Pekanbaru saja, kabar semacam ini sudah selalu didengar, malahan sejak 1990-an, tapi terkesan seperti angin lalu. Heboh video striptis yang diduga terjadi di sebuah mal ternama di kota  ini beredar luas pertengahan tahun lalu, tapi tak ada tindakan nyata dari pihak berwenang. Sebaliknya, bisa terjadi, penyedia striptis lebih lihai dari petugas dan pengawasan masyarakat. Menyalahgunakan izin pastilah ‘’pilihan utama’’ seperti dilakukan XP Club yang semula hanya mengantongi izin karaoke.

Wajar kalau di kalangan anggota DPRD Pekanbaru, sangat geram melihat kenyataan itu. Sebab dikaitkan dengan berbagai hal, jelaslah striptis merupakan hal yang terlarang. Jika pada gilirannya, lembaga ini membuat panitia khusus (Pansus) untuk ikut mengurusnya, hal itu patutlah didukung. Beberapa tempat hiburan melakukan aktivitas terlarang ini. Dengan Pansus, striptis dapat dipandang secara perspektif, tak hanya menyangkut soal hukum, tapi juga sosio-budaya. Memang harus ada kekuatan politik untuk ini di tengah berbagai kemungkinan penyelewengan berbagai hal menyangkut tempat hiburan. Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pekanbaru, tentulah tak mungkin tinggal diam, malahan seharusnya berada terdepan sebagai upaya untuk melindungi umat. Masyarakat harus pula berperan aktif, minimal memberi informasi.

Sehari-hari
Wahab mengaku tak terkejut, bukan disebabkan percaya begitu saja pada setengah pendapat orang yang menyebutkan bahwa striptis adalah salah satu dampak negatif dari perkembangan Pekanbaru sebagai kota metropolis. Katakan jugalah sebagai dampak perkembangan Riau secara keseluruhan dengan arus migran yang begitu deras. ‘’Bukankah kita sendiri yang mengundang striptis itu hadir di tengah kehidupan kita sehari-hari?’’ tanya Wahab.

Bagaimana tidak. Coba saja perhatikan berbagai tempat umum, bahkan termasuk di jalan raya. Mata kita tak akan dapat dihindari dari bentuk tubuh yang kalau meliuk-liuk di tempat temaram, mustahil tak membayangi eksotisme striptis itu. Berpakaian seadanya, begitu mudah ditemui. Pakaian tidur, bukan hanya berlaku di kamar, tapi juga di mal atau minimal di warung-warung. Celana sekitar sejengkal dengan kelihatan punggung, konon model yang terus diburu.

Lucunya lagi, banyak pula di antaranya memakai tutup kepala —katanya jilbab. Tapi bajunya ketat-metat, dengan celana legging yang memperlihatkan detil bagian tubuh. Tak sampai di sini, dengan pakaian semacam itu pula yang dalam pandangan keislaman sudah tergolong telanjang, si perempuan menyantakkan tubuh dan kedua kakinya ke badan lelaki yang memboncenginya. Mesranya mereka tak terkira, malah tak sekali dua ditemui si perempuan begitu agresif memeluk lelaki sambil cekikan di muka umum. Timbul pikiran, hal semacam ini tentu lebih ‘’dahsyat’’ kalau di tempat yang lebih spesial.

Di rumah, hal lebih kurang serupa telah siap sedia menanti, terutama melalui media televisi. Mengacu pada pernyataan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tahun lalu, sebagian besar layar kaca menayangkan unsur pornografi. Sementara internet dalam berbagai media demikian mewabah, juga mengintai. Tersedia sekitar empat juta situs porno dan belum sampai satu juta di antaranya yang dapat diblokir pemerintah. Jadi, ditambah dengan pengalaman di luar tadi, dapatlah disebutkan bahwa kita memang sudah tenggelam dalam pornografi.

Dampak negatif dari semuanya itu, sudah diketahui secara umum. Tapi dalam kesempatan sekarang, cukuplah disebutkan pendapat sejumlah pakar yang mengatakan, pornografi lebih berbahaya dibanding narkoba, antara lain menurunkan kecerdasan. Selain itu memicu perilaku seks bebas tak terpuaskan, sehingga tak aneh kalau diperoleh keterangan bagaimana hampir 50 persen pasangan menikah tahun lalu di Pekanbaru, ternyata telah hamil lebih dahulu. Survei di kota lain yang dapat menjadi acuan di sini menunjukkan, lebih dari 65 persen remaja melakukan hubungan seks di luar nikah.   

Pada gilirannya Wahab menulis, kondisi semacam ini tak bisa dibiarkan. Selagi terdaya, apapun bentuk ketidakberesan, memang harus dihadang. ‘’Siap Pak, insya Allah,’’ balas saya singkat.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 415 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 60 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 37 Klik

Follow Us