Oleh: Agus Sri Danardana

Akhiran {-i} dan {-kan}

30 November 2014 - 01.33 WIB > Dibaca 13622 kali | Komentar
 
Akhiran {-i} dan {-kan}
Agus Sri Danardana
Beberapa hari setelah kenaikan harga BBM diumumkan Presiden Jokowi, salah satu media nasional menurunkan berita dengan judul Angkutan Umum tidak Ikuti Tarif DKI akan Dikenakan Sanksi.

Sebagai pembaca/pendengar, kita tentu sudah dapat memahami maksud berita itu dengan baik. Mengapa? Karena kalimat seperti itu sudah sangat sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pun ketika mendengar kabar bahwa pengguna Facebook akan dikenakan biaya keanggotaan sebesar Rp32.890,00 per bulan, kita tidak akan salah menangkap maksudnya. Padahal, jika berita (1) harus ditafsirkan bahwa angkutan umum (yang) tidak (meng)ikuti tarif DKI akan diberi sanksi dan berita (2) harus ditafsirkan bahwa pengguna Facebook akan dikutip biaya keanggotaan sebesar Rp32.890,00 per bulan, sebenarnya pembuat berita itu telah melakukan pemaksaan tafsir kepada pembaca/ pendengarnya.

Sederhana saja alasannya. Penggunaan kata dikenakan pada kedua kalimat berita itu tidak tepat. Imbuhan di-/-kan pada kata kena menyarankan arti bahwa yang dikenakan adalah subjek kalimat: angkutan umum (yang) tidak (meng)ikuti tarif DKI dan pengguna Facebook, bukan objek kalimat: sanksi dan biaya keanggotaan sebesar Rp32.890,00 per bulan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi pemaksaan tafsir, seharusnya dua berita itu tidak menggunakan kata dikenakan, tetapi menggunakan kata dikenai sehingga menjadi

(1)    Angkutan Umum tidak Ikuti Tarif DKI akan Dikenai Sanksi

(2)    Pengguna Facebook akan dikenai biaya keanggotaan sebesar Rp32.890,00 per bulan.

Akhiran i dan kan memang sering membuat orang bingung. Tidak banyak orang yang dapat membedakan kata menugasi dengan menugaskan serta membawahi dengan membawahkan, di samping dikenai dengan dikenakan tadi. Pada umumnya, orang akan mengatakan bahwa dirinya telah menugaskan (bukan menugasi) ketika memberi tugas seseorang. Sebaliknya, orang selalu mengatakan bahwa presiden membawahi (bukan membawahkan)  menteri-menteri.

Perbedaan menugasi dan menugaskan sebenarnya hanya terletak pada siapa memberi tugas siapa (untuk menugasi) dan siapa memberi tugas apa (untuk menugaskan). Sebagai contoh, jika ada seseorang (A) memberi tugas orang lain (B) untuk melakukan pendataan keluarga miskin di Pekanbaru, dapat dikatakan

(3)    A menugasi B untuk melakukan pendataan keluarga miskin di Pekanbaru; atau

(4)    A menugaskan pendataan keluarga miskin di Pekanbaru (ke)pada B.

Dengan demikian, orang yang mendapat tugas (B) harus berani mengatakan bahwa dirinya ditugasi oleh A, bukan ditugaskan oleh A. Sementara itu, orang yang memberi tugas (A) juga harus berani mengatakan bahwa dirinya menugasi B, bukan menugaskan B. Dalam kasus akhiran i dan kan ini, kita pantas memberikan acungan jempol kepada orang yang sudah berani menggunakan memenangi (bukan memenangkan), seperti tampak pada kalimat (5) berikut ini.

(5) Wakil ketua tim advokasi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Ramzan Nasution, yakin kubunya akan memenangi gugatan sengketa hasil pemilu presiden di Mahkamah Konstitusi, Kamis, 21 Agustus 2014. Berbeda dengan akhiran i pada menugasi, yang menyaran pada orang, akhiran -i pada membawahi menyaran pada makna tempat. Hal itu dapat kita analogikan dengan akhiran i pada mengatasi, seperti tampak dalam kalimat (6) berikut ini.

(6) Dengan susah-payah anak itu berhasil mengatasi masalahnya. Kalimat (6) mengasumsikan bahwa posisi anak itu berada di atas masalah sehingga mampu memecahkannya. Melalui penganalogian seperti itu, dengan demikian, kalimat Presiden membawahi menteri-menteri seharusnya juga mengasumsikan bahwa posisi presiden berada di bawah menteri-menteri, bukan sebaliknya seperti yang kita yakini selama ini. Untuk memeroleh makna bahwa posisi menteri-menteri berada di bawah presiden, kita dapat menggunakan kata membawahkan sehingga kalimatnya harus diubah menjadi Presiden membawahkan menteri-menteri.

Memang tidak selamanya i dan kan dapat dibubuhkan pada kata yang sama. Kata-kata yang berakhir dengan huruf/bunyi /i/, seperti saji dan pakai, hingga kini belum mau dibubuhi i (menjadi [di]sajii  dan [di]pakaii), tetapi hanya mau dibubuhi kan (menjadi [di]sajikan dan [di]pakaikan). Anehnya, meskipun tidak memiliki bentuk bersaing ([di]sajii dan [di]pakaii), kata disajikan dan dipakaikan masih digunakan secara tidak benar oleh masyarakat. Simaklah kalimat (6) dan (7) berikut ini.

(7)    Para atlet akan disajikan makanan dan minuman yang tidak mengandung zat perangsang.

(8)    Anak-anak dipakaikan tanda pengenal.

Siapa pun pasti tidak percaya (karena tidak pernah mau memikirkannya) bahwa kalimat (7) dan (8) itu menawarkan tafsir ketragisan yang akan dialami para atlet dan anak-anak. Para atlet akan disantap karena disajikan, sedangkan anak-anak akan mengalami trauma karena dipakaikan. Sungguh mengerikan. Padahal, andai saja di depan kalimat itu ditambah kata kepada atau dibalik susunannya, pasti kengerian itu tidak terjadi. Perhatikan kalimat perbaikan (9) dan (10) serta (11) dan (12) berikut ini.

(9)    Kepada para atlet akan disajikan makanan dan minuman yang tidak mengandung zat perangsang.

(10)    Makanan dan minuman yang tidak mengandung zat perangsang akan disajikan kepada para atlet.

(11)    Kepada anak-anak dipakaikan tanda pengenal.

(12)    Tanda pengenal dipakaikan (ke)pada anak-anak.

Begitulah, ternyata dalam berbahasa tidak hanya dibutuhkan kecermatan, tetapi juga keberanian tampil beda: tidak asal tiru. Senyatanyalah bahwa sesuatu yang sudah biasa belum tentu benar. Oleh karena itu, demi kebenaran, mari kita patuhi aturan agar segala sanksi urung dikenakan.***

Salam.


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 14 Desember 2018 - 17:00 wib

Ashanty Bangga dengan Aurel

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:30 wib

Maia Estianty Hamil Anak Irwan Mussry?

Jumat, 14 Desember 2018 - 16:00 wib

Diduga Overdosis, Mahasiswi Ditemukan Tewas

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:53 wib

Rapat Kerja dan Terima Gelar Adat

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:35 wib

Bawaslu Akan Menindak APK Melanggar Peraturan

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:30 wib

Lakukan Medical Check u p Pranikah

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:01 wib

Jalur Padang-Solok masih Macet

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:00 wib

6 Kilogram Sabu untuk Tahun Baru Gagal Beredar

Follow Us