Pembalakan Liar, Eh

Minggu, 12 Feb 2012 - 08:34 WIB > Dibaca 2872 kali | Komentar

UCAPAN terima kasih patutlah disampaikan kepada Riau Andalan Pulp and Paper  (RAPP). Bagaimana tidak, atas fasilitas perusahaan multinasional inilah, sejumlah media massa melaporkan pembalakan liar (illegal loging) di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.  Disebabkan berkaitan penolakan masyarakat terhadap keberadaan RAPP di sanalah, anggota DPR-RI, lebih berkoar-koar berbicara pasal pembalakan liar dibandingkan nasib buruk yang membayangi masyarakat.

Melalui pesan pendek (SMS) yang sampai di telepon genggam saya, Abdul Wahab menyebutkan, ucapan terima kasih itu makin wajar disampaikan kepada RAPP karena ihwal pembalakan liar bukan masalah kecil. Tak saja berkaitan dengan iklim ekonomi, tetapi juga politik dalam maupun luar negeri, terlebih lagi lingkungan hidup. Kasus di Pulau Padang itu tentu satu gejala saja, sebab kemungkinan hal serupa terjadi di tempat-tempat lain, bukanlah hal yang mustahil bin ajaib.

Kawan saya itu mengaku, kini jarang nian kabar semacam ini terdengar dan tak terbaca secara lantang. Oleh karenanya jangan pula berpikir, RAPP seolah-olah menelanjangi pihak berwenang semacam kepolisian dan kehutanan yang semestinya lebih berinisiatif terhadap kasus tersebut. Juga jangan berpikir dengan berbuat demikian, RAPP akan merasa berhak di atas pulau tersebut, konon dapat menghadang pembalakan liar dengan program hutan tanaman idustri (HTI).

Ajakan tersebut dilanjutkan Wahab dengan kalimat ini, “Lebih-lebih berterima kasih lagi kita sekiranya RAPP pun membeberkan bagaimana mereka menebang hutan selama ini. Apakah sudah sesuai dengan RKT (Rencana Kerja Tahunan) sambil memaparkan upaya menolak kayu-kayu yang tak jelas. Bagaimana sepak terjang anak perusahaan RAPP yang mensuplai bahan baku untuk RAPP, setidak-tidaknya perlu juga kita ketahui, hi hi hi…Perlu lembaga independen untuk menelusurinya”. Belum sempat saya berpikir, kawan saya itu kembali mengirimkan SMS. “Cuma, siapa yang mau meminjamkan helikopter ya. Mendatangkan wartawan dan politisi, birokrat, dan penegak hukum, perlu biaya juga kan. Terasa tak beraib namanya meminta fasilitas terhadap pihak terperkara untuk meneroka sesuatu hal yang subyeknya sama dengan sumber perkara. Menerima undangannya pun layak ditolak karena adanya unsur yang patut diduga.” Alkisah, memang bukan main bersemangatnya DPR RI dan sejumlah media massa baik di Riau maupun di Jakarta membeberkan pembalakan liar di Pulau Padang dengan ilustrasi foto yang sama. Ini mungkin semacam ‘bonus’ karena konon tujuan mereka ke sana, semula mau melihat Pulau Padang dengan latar belakang masyarakat versus RAPP. Memang benar, tak lama berselang, digeledahlah delapan tempat penggergajian kayu di sana, selain ditemukan 100-an tual kayu. Konon untuk mengangkat kayu ini saja polisi kewalahan.

Perihal pembalakan dengan embel-embel kekuatan asing ini juga jadi pembicaraan hangat antara Gubernur Riau dengan Komisi IV DPR RI, Bupati Meranti, dan aparat hukum (Riau Pos, 7/2).  Begitu hangatnya, sampai-sampai substansi pembicaraan yang berkaitan dengan penolakan masyarakat terhadap RAPP pun menjadi hampir sejuk. Di kalangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) menyinyalir bahwa pengungkapan pembalakan liar di Pulau Padang hanya mengalihkan isu. Tak mustahil pula sebagaimana dikatakan pepatah, “tuma di seberang tampak, gajah di pelupuk mata tidak”.

Terlepas dari dugaan pengalihan isu dan penolakan terhadap RAPP, patutlah ditegaskan bahwa pembalakan liar di Riau masih begitu marak. Tetapi ini bukan saja terjadi di Pulau Padang, juga di kawasan lain. “Oke, beginilah agaknya. Penemuan pembalakan di Pulau Padang kita sebutlah sebagai satu titik baru untuk menghancurkan pembalakan liar di Riau. Suai?”

Lenggang Kangkung
Saya suai saja. Apalagi catatan yang ada menunjukkan, pada bulan Januari 2012 saja, temuan dugaan pembalakan liar terjadi pada tiga lokasi. Pada awal Januari, polisi kehutanan Riau menemukan ribuan kayu di Desa Kepau Jaya, Kabupaten Kampar. Ini disusul penemuan di Ketam Putih, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Yang paling terkenal memang temuan di Pulau Padang yang ternyata tidak jauh dari pusat aktivitas RAPP di pulau itu yakni di Tanjungpadang.

Mohon dengan amat sangat, untuk tidak menduga macam-macam jika kedekatan jarak tersebut disebutkan dalam kesempatan ini. Tak salah lagi, pembalakan liar menjadi wajah Riau tersendiri dalam perbincangan nasional bahkan internasional, padahal luas hutan di provinsi ini bukanlah besar sangat. Dari sekitar 8,4 juta hektare yang disebut kawasan hutan, lebih 50 persen di antaranya berupa gambut. Dipergunakan untuk berbagai keperluan, hutan alam Riau sekarang paling-paling tersisa 750 ribu hektar. Terletak di lintasan internasional dan adanya dua pabrik bubur kertas terbilang besar di dunia yakni RAPP dan IKPP (Indah Kiat Pulp and Paper), keberadaan kayu Riau menjadi beraneka ‘santapan’ sejak 1990-an.   

Tak kurang dari Presiden SBY yang merisaukan pembalakan liar di Riau, sehingga ia membuat rapat khusus mengenainya tahun 2007. Sepanjang yang dapat diamati, tidak ada hiruk-pikuk yang begitu dahsyat selain pembicaraan pembalakan liar seperti terjadi tahun 2007-2009. Tak tanggung-tanggung, sampai pertengahan 2008, Polda Riau, menggelandang 14 perusahaan dengan dugaan pembalakan liar. Nama RAPP dan IKPP dikait-kaitkan dengan tindakan perusahaan-perusahaan tersebut. Sejumlah bupati juga tak luput dari dugaan sebagai aktor penting dalam peristiwa ini.

Kapolda Riau Sutjiptadi bekerja siang malam. 200-an oknum diperiksa berkaitan langsung dengan ke-14 perusahaan dan dua pabrik bubur kertas itu, juga masyarakat awam. Barang bukti tumpukan kayu sepanjang 7,5 km pun diperlihatkan terang benderang.

Nyatanya, drama ini berakhir ditelan waktu. Sekitar 6 bulan setelah Sutjiptadi dipindah, penyidikan perkara ini dihentikan akhir 2008 karena tak cukup bukti. RAPP dan IKPP bebas dari tuduhan, sementara 14 perusahaan lain pun lenggang kangkung. “Demikianlah realitas hukum, nak cakap ape?” tanya Wahab.

Cuma, kita tak bisa berhenti, sebab nyatanya pembalakan liar terus terjadi seperti yang terlihat di Kampar, Bengkalis, Rohil dan Meranti sebulan terakhir. Seperti biasanya, pihak-pihak yang diduga terlibat masih yang itu-itu juga betapapun kita tidak mengatakannya bersalah dengan semangat praduga tidak bersalah.  Jadi? ‘’Ya, silakan pihak-pihak yang berkait untuk membuktikan ketidakterlibatannya dalam pembalakan liar, he he he. Ya, semacam pembuktian terbalik istilahnya. Sebagai lanjutan pengungkitan pembalakan liar 2011 di Pulau Padang, RAPP bisa mengawalinya kan?’’ ***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 67 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 42 Klik

Follow Us