Dr. Junaidi

Raja Bagaikan Hati, Rakyat Bagaikan Darah

12 Oktober 2014 - 08.15 WIB > Dibaca 21569 kali | Komentar
 
Keberadaan naskah kuno pada suatu daerah menjadi bukti autentik hadirnya tradisi intelektual dalam suatu masyarakat dan tradisi intelektual ini pula yang menandakan peradaban suatu bangsa. Naskah kuno merupakan sebuah karangan yang dibuat dengan tulisan tangan yang menyimpan gagasan dan pikiran sebagai hasil budaya masa silam (Baroroh, 1994:55). Dalam bangsa Inggris naskah kuno disebut manuscript, yang bermakna things written by hand, not typed or printed. Kata manuscript berasal dari frasa  bahasa Latin codicesmanu scripti, yang bermakna buku-buku yang ditulis dengan menggunakan tangan. Sedangkan kata manu berasal dari kata manus, bermakna tangan, dan scriptusx berasal dari kata scribere, yang bermakna menulis (Mulyadi, 1994: 1-3).

Salah satu naskah Melayu yang ditemukan di Pulau Penyengat adalah Kitab Ikatan Setia. Kitab ini telah ditransliterasi oleh UU. Hamidy (1985) dalam program Toyota Foundation. Pengarang dan tahun penerbitan kitab ini tidak diketahui akibat kerusakan naskah. Namun, bagian awal naskah menunjukkan bahwa kitab ini ditulis di Pulau Penyengat. Kitab ini berisikan tamsil-tamsil yang menggambarkan hubungan kerajaan dan rakyat. Struktur manusia digunakan untuk menjelaskan hubungan saling ketergantungan antara raja/kerajaan dengan rakyat.

Pada bagian kulit Kitab Ikatan Setia dinyatakan Kitab Ikatan Setia pada menyatakan anggota manusia bagi orang yang mulia-mulia maka patutlah diikut dengan sempurna jaya. Kitab ini menggunakan bagian tubuh manusia sebagai tamsil bagi orang-orang mulia sehingga kitab ini patut diikuti agar memperoleh keberhasilan. Judul Ikatan Setia menandakan bahwa kitab ini berisikan janji setia antara pihak kerajaan dan rakyat dalam menjalankan peran mereka. Maknanya, ada kesepakatan antara pihak kerajaan dan rakyat untuk menjalin hubungan yang erat sebab hubungan kedua belah pihak merupakan suatu sistem yang saling berkaitan. Sistem kerajaan yang terdiri dari struktur kerajaan dan struktur rakyat secara berkesan ditamsilkan dengan struktur manusia yang saling berkaitan dan bergantung antara satu dengan yang lainnya.  

Bagian selanjutnya menyatakan sumber utama dari kitab ini: dihimpun daripada setengah perkataan Tuhan khalik al insan (......) hadis nabi sayidil anbiya (di dalam Riau Pulau Penyengat) akan jadi (.....) dan ingatan di dalam tahun (....). Ini menjelaskan bahwa kitab ini bukan khayalan bebas pengarang naskah saja. Tetapi kitab ini ditulis berdasarkan firman Allah SWT dan Hadis yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Artinya, dalam menulis kitab ini, gagasan pengarang tidak berdiri sendiri tetapi gagasan yang ditulisnya bersumber dari kisah dan tamsil dari hukum Islam yang utama, yakni Al Quran dan Hadis. Pernyataan sumber ini memberikan penegasan betapa pentingnya kandungan yang terkandung dalam kitab ini. Kutipan di atas juga menegaskan bahwa kitab ditulis di Pulau Penyengat, sebagai salah satu daerah yang pernah menjadi pusat peradaban Melayu. Namun nama pengarang dan tahun penulisan tidak diketahui lagi akibat kerusakan naskah seperti yang dinyatakan oleh penerjemah naskah ini.

Pada bagian kandungan kitab ini dianyatakan anggota manusia diperbuat umpamanya dengan jalan yang ringkas. Ini bermakna bagian tubuh manusia dijadikan tamsil untuk menjelaskan hubungan kerajaan dengan rakyat secara sederhana. Penggunaan tamsil dari struktur manusia berguna untuk memberikan pemahaman secara sederhana sehingga pembaca lebih mudah memahami bagaimana hubungan kerajaan dengan rakyat. Seseorang sangat mudah mengenali dan merasakan bagian dirinya sehingga dengan mengenali dan merasakan bagian dirinya diharapkan ia dapat pula mengetahui dan merasakan hubungan erat antara kerajaan dan rakyat. 

Kitab ini dibuka dengan tamsil yang menyatakan kerajaan seperti seorang manusia bermula kerajaan itu dapatlah diumpamakan dengan seorang manusia yang akil muda lagi sejahtera daripada penyakit yang memberi mudharat tubuhnya dan tiada bernama dengan nama manusia melainkan mempunyai segala suku-suku.... Ini bermakna kerajaan itu harus kuat seperti kuatnya seorang pemuda. Kekuatan, kehebatan dan kesehatan sangat diperlukan agar keberadaan kerajaan benar-benar memberikan manfaat kepada rakyat. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa jika kerajaan bagaikan seorang manusia, maka manusia terdiri dari struktur yang saling berkaitan. Artinya, suatu kerajaan juga terdiri dari satu sistem yang saling berkaitan.   

Perbandingan struktur manusia dan struktur kerajaan menandakan bahwa ada kesamaan sistem antara struktur manusia dan sistem kerajaan. Dalam kitab ini struktur manusia tidak hanya bersifat fisik tetapi juga non fisik. Ini menegaskan bahwa manusia terdiri dari struktur fisik dan non fisik. Struktur fisik manusia seperti hati, otak, mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, anak jari, ruas jari, tulang, urat, daging, darah, kulit dan bulu roma memiliki fungsi tersendiri dan semuanya saling berkaitan dalam sistem manusia. Gagasan utama yang disampaikan dengan model perbandingan ini adalah hubungan saling ketergantungan antara pihak kerajaan dengan pihak rakyat. Kerajaan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya dukungan dari rakyat.  

Perbandingan ini menandakan pihak yang diberikan kekuasaan untuk menjalankan kerajaan tidak boleh memandang rendah rakyat mereka sendiri sebab rakyat bagian yang tak terpisahkan dari sistem yang ada. Lebih lanjut, hubungan kerajaan dan rakyat dijelaskan dalam kutipan naskah berikut ini:

Adapun hati maka dibandingkan seumpama raja yang memerintah atas segala suku-sukunya dan bersemanyam ia di istana yang ada di dalamnya singgasana kerajaan. Ialah otak kepala. Dan raja itu tiada mengeluarkan titah perintahnya melainkan dengan pertolongan dan kekuatan dua bentaranya yaitu kanan dan kiri ialah ilmu dan akal. Telah tetap perintah itu maka ditanggungkan di atas empat orang wazra yang dahliah (menteri dalam) karena menambah bagi kekuatan mufakat atas kelakuan yang satu ialah mata, telinga, hidung, mulut. dan daripada menteri dalam itu terserah pula titah perintah itu kepada empat wazra yang kharjiyah (menteri luar) ialah tangan kanan dan kiri kaku kanan dan kiri. Pada menjalankan dan menanggungkan titah perintah itu atas dua puluh amra yang menjagai pada segenap anak sungai, teluk tanjung, tokong pulau ialah segala anak-anak jari. Dan dari pada segala amra itu berpecah titah perintah itu di atas segala juru, batin, penghulu, ketua, yang empat puluh enam ialah segala ruas-ruas anak jari. Dan daripadanya terbahagi pula titah perintah itu kepada masing2 anak buah yang di dalam pegangan (rakyat sakai) ialah tulang, urat, daging, darah, kulit, bulu roma dan lainnya.

Ini menggambarkan bahwa hati dibandingkan seperti raja yang memerintah rakyat dan raja itu berada di istana dalam menjalankan tugasnya dan istana itu diibaratkan seperti otak manusia. Dalam menjalankan kekuasaannya, raja dibantu dua pembantu di bagian kanan dan kiri yang diibaratkan dengan ilmu dan akal. Raja selanjutnya dibantu lagi oleh empat menteri dalam yang diibaratkan dengan mata, telinga, hidung dan mulut sedangkan empat menteri luar diibaratkan tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan dan kaki kiri. Untuk menjalankan perintahnya,  raja dibantu oleh dua puluh amir yang bertugas menjaga wilayah-wilayah kerajaan. Para amir ini diibaratkan seperi jari manusia. Selanjutnya di bawah para amir ini dibantu lagi oleh beberapa kepala kampung (juru, batin, penghulu dan ketua) yang diibaratkan dengan ruas-ruas jari manusia. Dalam kampung kemudian terdapat rakyat yang diibaratkan dengan tulang, urat, daging, darah, kulit, bulu roma dan lainnya.

Dalam struktur kekuasaan, seorang raja diberikan kekuasaan yang lebih dalam mengatur kerajaan sehingga dalam kitab ini raja ditamsilkan dengan hati manusia. Dalam struktur manusia, hati memang sangat dominan dalam pengelolaan diri seseorang. Jika kerajaan ibarat manusia, maka yang menjadi rajanya adalah hati. Secara biologis, hati berperan sangat penting dalam mengatur tubuh manusia dan secara spiritual pun hati dipandang sebagai hakekat terdalam diri manusia. Tidak mengherankan bila orang sering mengaitkan nilai kemanusiaan seseorang dengan terminologi hati nurani. Baik secara biologis maupun spiritual hati sama-sama penting sehingga adalah sangat tepat penggunaan tamsil hati untuk menandakan peran penting raja dalam kerajaan.  Segala perbuatan, sikap dan kata-kata seorang raja memberikan pengaruh terhadap struktur lain yang terdapat dalam kerajaan, termasuk rakyat.       

Dalam Kitab Ikatan Setia hati digambarkan bersemayam dalam sebuah istana yang ditamsilkan dengan otak manusia. Ini menunjukkan hubungan hati dan otak sangat erat sebab hati ditempatkan dalam otak. Penggunaan otak manusia sebagai tamsil dari istana memberikan citra bahwa istana berperan penting dalam pelaksanaan tugas-tugas kerajaan. Dalam struktur tubuh manusia otak digunakan untuk berpikir. Kecerdasan intelektual manusia diperankan oleh otak manusia. Bahkan potensi kecerdasan yang terdapat dalam otak manusia membuat manusia menjadi makluk berbudaya yang berbeda dengan makhluk lain.  Makna istana dalam konteks ini tentu saja bukan istana dalam bentuk fisik tetapi istana dalam arti fungsional. Artinya secara fungsional istana dengan segala perangkatnya berperan penting dalam merumuskan kebijakan kerajaan. Istana menjadi tempat utama bagi raja bersama perangkatnya dalam melindungi rakyatnya. Segala peraturan dan kebijakan lahir dari proses pemikiran dari istana.

Secara struktural hubungan antara hati dan otak saling melengkapi. Hati berada pada ranah potensi rohani sedangkan otak pada ranah logika manusia. Perpaduan hati dan otak dalam diri manusia melengkapi hakekat manusia sebagai makluk ciptaan Tuhan. Potensi hati membuat manusia lebih manusiawi dan dekat kepada sang pencipta sedangkan potensi otak membuat manusia lebih cerdas. Dengan demikian, perpaduan raja dan istana seperti perpaduan hati dan otak akan menghasilkan kerajaan yang kuat dan bijaksana sehingga dapat memberikan solusi yang cerdas bagi kehidupan rakyatnya.  

Potensi otak selanjutnya dilengkapi dengan dua struktur lain, yakni ilmu dan akal. Keduanya, ilmu dan akal berada pada ranah pemikiran manusia. Secara fisik, tidak ada bagian tubuh manusia yang disebut ilmu dan akal. Namun secara fungsional, ilmu dan akal tersebut lebih berada dalam ranah otak sehingga dalam kitab ini ilmu dan akal disebut sebagai bentara kanan dan kiri. Bentara bermakna pembantu raja dalam menetapkan peraturan dan kebijakan kerajaan. Ilmu dan akal bertugas mengawal proses pemikiran yang dilakukan dalam istana agar peraturan dan kebijakan kerajaan tetap terjaga kebenarannya. Ilmu dan akal digunakan untuk memberikan pertimbangan agar program kerajaan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Berbagai persoalan kerajaan dan rakyat dapat dicarikan solusinya dengan menggunakan ilmu dan akal. Berbagai strategi dan program kerajaan juga akan disusun oleh raja bersama perangkatnya dan bentara berdasarkan pertimbangan ilmu dan akal.

Selanjutnya dalam tingkat pelaksanaan program-program kerajaan, terdapat pula beberapa pembantu raja. Dalam kitab ini para pembantu raja disebut amra atau amir yang berjumlah dua puluh orang. Para amir ini bertugas menjaga berbagai wilayah-wilayah kerajaan yang disebut dengan anak sungai, teluk tanjung, dan tokong pulau. Para amir ini ditamsilkan dengan jari. Jari berfungsi untuk menggenggam sesuatu. Dalam struktur tubuh manusia, jari merupakan bagian dari tangan dan kaki. Demikian juga para amir, mereka adalah bagian langsung dari para menteri yang bertugas menjalankan perintah raja. Secara struktur organinasi para amir bertanggung jawab langsung kepada para menteri. Penggunaan tamsil jari ini menandakan bahwa para amir berperan langsung dalam melayani rakyat.  

Struktur paling bawah yang bersentuhan langsung dengan rakyat dalam implementasi program-program kerajaan adalah juru, batin, penghulu dan ketua. Mereka bertugas memimpin satu wilayah kecil atau kampung. Tugas mereka juga menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan raja. Secara struktural mereka bertanggung jawab dengan para amir. Dalam kitab ini, para juru, batin, penghulu dan ketua ditamsilkan dengan ruas-ruas jari. Tanpa adanya ruas-ruas jari, jari tidak bisa mengenggam atau memegang sesuatu sehingga ruas-ruas jari ini terus bekerja sama dengan jari dalam melaksanakan tugasnya.  Jika diperhatikan hubungan antara tangan, jari dan ruas jari sangat erat dan kompak. Begitu juga hubungan antara menteri, amir dan penghulu dalam menjalankan kebijakan kerajaan. Mereka harus bergerak sejalan agar pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik.

Struktur terakhir dalam kerajaan dalam kitab ini adalah rakyat yang ditamsilkan dengan  tulang, urat, daging, darah, kulit, bulu roma dan lainnya. Tamsil ini menandakan bahwa rakyat itu bukan bagian yang terpisah dari raja. Rakyat adalah salah satu struktur dalam sistem kerajaan. Pada hakekatnya, raja dan semua perangkatnya adalah rakyat itu sendiri. Hubungan rakyat dan raja diibaratkan seperti tulang, urat, daging, darah, kulit dan bulu roma yang tidak bisa terpisah dari tubuh manusia. Struktur tulang, urat, daging, darah, kulit dan bulu roma tersebut menyatu secara langsung dengan struktur tubuh manusia lainnya seperti menyatunya rakyat dengan raja. Oleh karena itu, pihak kerajaan tidak boleh melupakan rakyat sebab struktur rakyat dan struktur kerajaan adalah suatu sistem yang saling bergantung. Struktur kerajaan dan struktur rakyat sama-sama penting. Meskipun manusia mempunyai hati, otak, tangan, kaki, jari dan ruas jari, manusia tidak bisa bergerak tanpa adanya tulang, urat, daging dan darah. Bahkan dalam kitab ini bulu roma pun bagian penting dalam struktur tubuh manusia. Dengan demikian, tulang, urat, daging dan darah secara fitrah berada dalam seluruh tubuh manusia. Ini menandakan bahwa rakyat selalu berada dalam segala struktur kerajaan dan rakyat pula yang menjadi nafasnya kerajaan.

Saat ini kita mengklaim bahwa Indonesia melaksanakan sistem demokrasi yang berasaskan pada kepentingan rakyat. Bahkan dalam sistem demokrasi saat ini rakyat diberikan hak secara langsung memilih pemimpinnya. Jika demikian, pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat merupakan representasi dari rakyat itu sendiri. Apakah para pemimpin di Indonesia saat ini benar-benar mendasarkan tugasnya atas nama rakyat yang telah memilih mereka? Apakah rakyat yang ditamsilkan dengan tulang, urat, daging, darah, kulit dan bulu roma dalam Kitab Ikatan Setia benar-benar hadir dalam tubuh para pemimpin masa kini? Jangan-jangan pemimpin masa kini hanya memerlukan suara rakyat pada saat pemilihan umum dan setelah itu mereka melupakan rakyat sebagai bagian dari tulang, urat, daging, darah, kulit dan bulu roma mereka.

Sistem pemerintah Indonesia hari ini tidak seperti sistem kerajaan yang terdapat dalam Kitab Ikatan Setia.  Namun gagasan dasarnya sama saja, yakni bagaimana hubungan antara pemerintah dan rakyat. Struktur kerajaan dalam Kitab Ikatan Setia sama dengan struktur pemerintaan masa kini seperti presiden, gubernur, bupati/walikota, camat, dan lurah/kepala desa. Signifikansi dari tanda-tanda yang terdapat dalam Kitab Ikatan Setia menghasilkan gagasan mulia tentang hubungan rakyat dengan pemerintah. Rakyat tidak ditempatkan sebagai bagian yang terpisah dari pemerintah dan rakyat bukan objek dari pemerintah. Namun rakyat itu sendiri hadir dalam diri pemerintah. Kehadiran rakyat dalam struktur pemerintah melekat secara otomatis. Secara substantif, Kitab Ikatan Setia mengandung gagasan kerakyatan yang sangat mulia, yakni dalam diri pemerintah itu mengalir darah rakyat. Maknanya, rakyat itu selalu hadir dalam diri setiap pemimpin yang dipilih oleh rakyat. Pilihan untuk menentukan pemimpin bukan untuk kepentingan pribadi tetapi kepentingan untuk membela kepentingan rakyat. Oleh karena itu, ruh rakyat yang menggerakan para pemimpin dalam menjalankan tugasnya.***      


Dr. Junaidi
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 21:07 wib

Gerindra Masih Penjajakan Siapa Calon Capres dan Wapres

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:38 wib

Podomoro City Deli Medan Hibur Tamu Hadirkan Rossa

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:03 wib

Libatkan Perempuan dan Anak-anak pada Aksi Terorisme Perbuatan Keji

Minggu, 20 Mei 2018 - 19:30 wib

Korban Aksi Teroris Akan Dapat Kompensasi

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:25 wib

Bank Riau Kepri Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:08 wib

DPRD Siak Dapat Kunjungan dari DPRD Kampar

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:03 wib

Anggota DPRD Siak Ikuti Bimtek dan Peningkatan Kapasitas

Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Follow Us