Oleh: Edwir Sulaiman

Bebal

28 September 2014 - 08.14 WIB > Dibaca 19277 kali | Komentar
 
Bebal
Edwir Sulaiman
Namanya Baito. Lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana di Kampung Besar Seberang Rengat Indragiri Hulu. Tidak kaya, tidak miskin, tidak tinggi, tidak rendah. Warna penutup dagingnya tidak putih, juga tidak hitam. Sekolah tidak tamat. SD dilalui 10 tahun. SMP kelas 2 setelah empat tahun, dia akhirnya menuntaskan karirnya sebagai pelajar.

Baito tidak bodoh. Tidak juga pintar. Namun yang membuat Baito begitu terkenal saat sekolah dulu adalah sikap bingal, (keras kepala), degil, dan bebal. Setiap guru menerangkan mata pelajaran dia selalu telat memahami. Bukan karena dia tak mampu menterjemahkan apa yang disampaikan, namun dia tidak peduli. Sikap tidak peduli inilah yang membuat dirinya selalu tinggal kelas. Sikap tak mau belajar, tak ingin memperbaiki diri, tak kuasa menolak masa depan inilah yang menjadikan Baito harus tertinggal dan menerima kenyataan tentang kemalangan hidup.

Sikap tidak mau mengambil hikmah, mengambil pembelajaran, dan bersikap bebal inilah sepertinya yang mewabah di Bumi Lancang Kuning. Bukan tidak mengerti, bukan tidak paham, bukan pula tidak mengetahui, namun hasrat keakuanlah yang membuat tragedi kebebalan telah mengharuskan kita menyantap malu-malu yang dipajang seantero negeri.

Hari ini kita kembali memahat kisah tentang kenestapaan. Kisah tentang kekalahan, cerita bertema duka yang dibuat, diukir, dibangun di tepi jurang di tanah luas milik kita sendiri. Kedukaan ini tidak datang bermasa-masa, tapi pelan-pelan. Bahkan aromanya belum hilang ditelan angin. Masih terasa hangat ketika kita harus tertegun memandang pilihan kita bersimpuh di kursi-kursi yang rapuh.

Entah dengan cara apa kita harus memahami kemalangan ini.Padahal Air mata sudah tumpah membanjiri Riau, berulang-ulang. Berjejer dari Inhu, Pelalawan, Siak, Rohul, Kampar, hingga menuju negeri bernama Riau. Namun itu tidak jua menyadarkan kita, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam di tinggi hati. Kita seperti duka yang telah terbungkus kebaikkan.

Tiada lagi kebanggaan yang bisa membawa kita untuk mengukir sejarah. Kita hanya mampu menciptakan malu. Memproduksi asap, menggunduli hutan, membuat banjir, laman tempat bermain, kini semakin kotor oleh kita sendiri. Meskipun kita menyadari kenestapaan itu terjadi, tapi kita tak peduli. Kita tetap saja menari ketika yang lain memanen tragedi.

Riau adalah kita. Berbaris, bertautan membentuk bujur sangkar, segi tiga, kubus, balok dan ruang-ruang. Kita yang telah mengisinya. Kita jua telah memberi warna. Meskipun pengalaman sejarah tidak banyak memberi pengajaran. Sehingga kita alpa akan bait-bait arti hidup. Bahwa waktu-waktu harus mampu mendewasakan pikiran kita. Kenyataanya, kita tetap tak mampu menjadi seperti Soekarno, Hatta, Sultan Syarif Kasim II apalagi Sang Muhammad SAW, yang membuat hidup adalah ruang maha luas untuk menjadi semakin baik.

Kita masih saja mementaskan drama sunyi di panggung rumah sendiri. Kita berbalas pantun ketika yang lain memainkan strategi. Kita menjadi lupa bahwa pementasan ini hanya sebuah cerita. Endingnya tetap kita yang terkalahkan. Kita yang terbebalkan. Kita yang tertegun sinis disudut-sudut kampung yang tetap sunyi.

Dimanalah kemampuan kita untuk menterjemahkan kebebalan ini. Apakah kita terlanjur menjadi bodoh?. Kita teramat bangga dengan kebaikan tak bertuan.

Sedih. Air mata apa lagi yang harus kita siapkan. Untuk sekadar memberi pengharapan. Setiap tahun-tahun pergantian, harus ada tumbal keburukan yang menindih kihidupan. Kita seperti menzalimi diri sendiri. Kita memaki-maki dengan kata-kata suci, bahwa hidup tak pernah ada kematian. Padahal, ruang tak berpintu, di Salemba, Cipinang, Suka Miskin, Sialang Bungkuk dan lainnya telah memberi tanda-tanda, Ada kewajiban yang mesti ditebus ketika dosa-dosa menampakkan wujudnya. Kadang entahlah. Kita memang bebal.....***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us