Bagan Batu

Minggu, 05 Feb 2012 - 07:00 WIB > Dibaca 3956 kali | Komentar

Di sebuah kota yang tak pernah memberi kenangan. Segala kenangan dilipat atau malah digulung. Kenangan hanyalah peristiwa sepintas. Sebab tanah ini memang bertolak dari ketiadaan hingga menyenggau menjadi hal ihwal. Dia tak melewati fase ‘sesuatu’,sebagai syarat untuk menjadi hal ihwal. Dulu dan dulu lagi, dia tak diperkatakan dalam bingkai sesuatu. Dia hanya menjalani fase ‘mengada’ dan lalu ‘diada’kan menjadi hal ihwal. Ketika menjalani fase ‘mengada’,  dia didatangi dengan semangat serba sempadan. Bagi mereka yang singkat hujah akan mengangkat dalil tua; tanah ini memang tanah bertuah.  Bahwa mereka lupa, setiap jengkal tanah di permukaan bumi ini, tiada yang memikul tugas sebagai tanah sial. Dia menjadi bertuah atau sial, karena didatangi dan dipetukangi oleh sejumlah ide yang ada dalam benak manusia. Ide lah yang menjatuhkan dia menjadi tuah dan sial. Dan tuah dan sial itu, semacam buah dadu yang dipermainkan secara bolak balik dan zig zag dalam ide manusia.

Di kota yang gemeretap, segala kenangan ialah cerita pendek dan secuil kisah yang tak dilaung oleh siulan panjang. Dia bak puisi mungil yang digores di telapak tangan. Segala sesuatu berderap menjadi sudah. Dan seterusnya menjalani kini dan akan yang tak pernah usai. Di sini orang seakan tersesat, ketika hendak mengurai sudah dan menyelidik kini. Antara sudah dan kini, tak terhidang kenangan. Dia bak batu yang melesat yang hanya meninggalkan bekas bernama angin. Kota ini berada di antara dua semangat angin; selat dan benua. Tapi lebih lasak menjadi kota benua. Dia berada di titik terhebat dalam ihwal kepergian dan kedatangan yang berjangka jauh. Sebuah titik untuk menghela penat serba tunai dalam perjalanan yang panjang nan meletih.

Cerita menjadi lain, ketika kedatangan rumpun utara yang menyemburkan ‘semangat kota’ perdana di tanah ini. Dan orang hanya mengebat kenangan lalu memborgolkannya di tiang-tiang kayu tua, yang berganti palma dalam ukuran mayor. Kota pun hidup merecup dalam kerimbunan palma. Sulingan hutan nan ragam berubah sontak menjadi keseragaman palma dengan gaya tua orang utara. Di sini kita menjadi serba muda. Dan kita-kita yang berstatus muda dalam tradisi kebun palma inilah yang menjahit kenangan demi kenangan lalu memborgolnya di dahan kayu kering dan ranting-ranting, dan mudah terbakar. Sebelumnya, kita menjalani kesaksian dalam jenis ‘muda’ yang lain, ketika bangsa putih datang mengorek perut bumi dengan jarum besi raksasa; sebuah kesaksian mengenai penggalian minyak di kerimbunan hutan Sinembah.

Cerita pun membelok ke persimpagan baru, ketika di celah rimbun palma, mengapung logo salib seakan berenang di atas gelombang daun. Kita pun menjadi ‘muda’ yang lain dalam perlombaan putik-putik langit. Tanah ini, dulu kala disimbah basah oleh dalil-dalil Naqsyabandi ketika susuran jazirah basah pelayaran Tuan Guru Abdul Wahab Rokan menyeberang parit besar bernama Melaka dan bolak-balik ke Sumatera Timur [kesultanan Langkat] yang ranggi. Semaian ini menuai muai sepanjang Rokan dan Kubu. Orang-orang berdendang dalam lagu dan lantun putik langit yang hanif. Orang-orang Melayu sepanjang batang Rokan dan Kubu, membelah langit dan memetik putik-putik langit meranum di atas keriangan benua dan keriangan maritim. Bahwa Naqsyabandi itu dilayari, bukan hanya peristiwa caravan kuda untuk menyapa kaum Melayu sepanjang batang sungai dan pesisir.

Haji Khaldun, ya sebuah nama yang saya kenal susur galur dan ketinggian kisahnya . Dia membungkus tapak-tapak tua yang kalau dibiarkan akan muda kembali. Ini persoalan profetik, menjinjing putik langit, tak cukup membungkus kepala hanya dengan sorban pendek. Namun harus bergumal dan bergulat dengan kenyataan-kenyataan kekinian, yang jika salah gulat, kita hanya menyisa nilai-nilai serba muda lagi. Padahal kita, pernah menjadi tua, menjadi panutan, sosok teraju nilai. Dan tetak tetau tanah-tanah baru pun, menjadi syarat perdana kaum Naqsyabandi yang dipaku oleh Tuan Guru [Musrsyid] Abdul Wahab Rokan.  Ini yang dilakukan oleh Haji Khaldun berpuluh tahun silam. Dia memungut kembali kenangan-kenangan pendek dan mengumpulnya menjadi ‘batangan emas’. Untuk menyiar nilai, sejatinya orang harus menguasai dan memiliki lahan. Nonsense memikul sesuatu yang besar, apalagi nilai, tidak ditampung dalam satu wadah. Wadah itu bisa bernama kota, wadi, taman, kebun, dusun atau kampung, paling kecil ialah tapak surau. Dari sini, tetak tetau itu berfungsi untuk mengumpul sejumlah orang dan menanam kesadaran.

Sebab, jika hanya ada tanpa sadar, kita adalah mayat yang berjalan. Sebaliknya, jika sadar tanpa ada, maka kita pun digolongkan sebagai kaum al jinni [yang tersembunyi, sejenis jin dan makhluk halus lainnya]. Kota agropolitan ini diisi oleh manusia yang menyandang kesadaran, tentang masa lalu, bukan kenangan dalam lipatan pendek dan segulung. Kota ini harus diurus juga sebagai kota yang melayani kenangan dan ingatan bersama. Dia bukan penjumlah kekinian dan keakanan yang dirakit dalam bangun ruko yang kaku sepanjang jalan berdebu. Jalan utama ini juga harus diberi nafas bagi kehidupan lewat taman-taman pekarangan, rumah kediaman yang sejuk rimbun, bukan sejumlah bangunan ala papan catur:  Datar, petak, hitam putih, wajah sejati medan perang antara kita dan mereka, aku dan dia. Papan catur, kisah tentang persaingan, penaklukan, strategi, siasat nuju menang, jelang gering.

Mengadakan kota, adalah persoalan bagaimana kita menghidangkan watak. Setiap kota menjinjing watak. Bagan Batu telah hadir dengan watak agropolitan yang kaya, gemeretap, bising dan bergemuruh; tempat segala sesuatu dan ihwal bersua dalam perjumpaan-perjumpaan serba muda. Perjumpaan muda itu hanya melayani kehendak-kehendak segulung. Dan Riau, harus menangkap isyarat itu. Dia harus berdiri di atas otonomi dirnya sendiri. Bukan tak mungkin kota sempadan yang rancak ini, berdiri dalam kemasan lantun diri yang lebih modis dan fashionate. Dia dimekarkan menjadi sebuah kota yang memiliki anggaran yang bertaji. Tidak diurus oleh sejumlah penghulu. Ketika itulah kenangan, tidak dimaknakan dalam nada yang segulung…***

KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 39 Klik

Follow Us