MELIHAT SLB SEKAR MERANTI, DESA ANAK SETATAH, KEPULAUAN MERANTI (1)

Menanti Ambruknya Sekolah Khusus

Kepulauan Meranti | Sabtu, 16 November 2019 - 10:41 WIB

Menanti Ambruknya Sekolah Khusus
MENGKHAWATIRKAN: Rudi Hartono menunjukkan SLB Sekar Meranti makin mengkhawatirkan. (WIRA SAPUTRA/RIAU POS)

Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekar Meranti di Desa Anak Setatah, Kepulauan Meranti punya arti penting bagi anak-anak berkebutuhan khusus (disabilitas) di daerah tersebut. Sejak adanya sekolah itu, anak-anak mulai membuka minda dan mengenal beragam kehidupan. Kini sekolah itu terancam ambruk karena lapuk bersama waktu.

 

Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang

SYAFRISAL terlihat sibuk pada Kamis (31/10) itu. Betapa tidak, dia mendapat pemberitahuan mendadak segera berangkat ke Pekanbaru untuk mengikuti temu ramah perwakilah SLB dengan Gubernur Riau (Gubri) H Syamsuar. Pertemuan itu sendiri dilakukan Jumat (1/11).

Sebagai Kepala Sekolah SLB Sekar Meranti, dirinya merasa wajib hadir dalam temu ramah tersebut. Banyak hal yang hendak disampaikannya kepada orang nomor satu di Riau tersebut tentang berbagai hal. Terutama sekali kondisi SLB yang dikelolanya.  "Saya wajib ikut temu ramah ini. Pasalnya, hanya itu kesempatan yang bagus untuk memperjuangkan nasib murid SLB Sekar Meranti," ujarnya saat ditemui Riau Pos menjelang keberangkatannya ke Pekanbaru.

Pemberitahuan yang mendadak itu membuat dirinya terkacah-kacah (sibuk tak menentu). Terutama untuk mencari dana untuk keberangkatannya ke Pekanbaru. Namun, karena temu ramah itu sangat penting bagi sekolahnya dia pun meminjam dana ke sejumlah pihak.

"Ada sedikit uang. Tadi dipinjamkan oleh teman. Untung mereka bisa bantu. Daripada tidak bisa berangkat," tambahnya kepada Riau Pos.

Diakuinya, temu ramah ini menjadi momen yang sangat dia tunggu. Dia harus bertemu dengan Gubri. Ketika itu,  ia juga sempat menunjukkan proposal permohonan pembangunan tempat belajarnya 46 orang anak penyandang disabilitas yang dibinanya.

Kata Safrizal, bangunan sekolah itu  kini miring. Pasalnya pondasi yang menggunakan sisa potongan batang pohon kelapa telah lapuk dimakan rayap. Tidak hanya pondasi, bahkan beberapa keping dinding dan tiangnya juga ikut sama.

"Kondisi ini harus disampaikan langsung kepada Gubri. Jika tidak, maka tidak akan ada kesempatan serupa untuk kami menerangkan kepada beliau. Harapan ya untuk mendapatkan ruang belajar yang layak bagi anak-anak," ungkapnya.Mengingat tidak memiliki waktu yang panjang karena kapal akan segera berangkat, Safrizal meminta Riau Pos untuk bertemu dengan abang kandungnya, Rudi Hartono.
 





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook




PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com