Bom Waktu di Lahan Gambut

Feature | Selasa, 22 Oktober 2019 - 17:00 WIB

Bom Waktu di Lahan Gambut
Seorang relawan berpakaian superhero Spiderman ikut memadamkan api di perbatasan Pekanbaru-Kampar, beberapa waktu lalu. (MHD AKHWAN/RIAU POS)

Catatan Riau Pos, ketika karhutla GSKBB 2015, beberapa perambah dan pembakar lahan di sana  sempat diekspos ke publik. Mereka pun "bernyanyi". Nama-nama cukong pun disebutkan ke publik. Beberapa di antaranya adalah oknum petinggi polisi dan TNI. Tak sekadar prajurit rendahan, tapi juga para perwira menengah bahkan perwira tinggi. Jejak-jejak para oknum jenderal pun ada di GSKBB.

Menengok ke belakang, di wilayah ini, pembalakan liar yang parah mulai terjadi sejak tahun 1995. Seorang cukong asal Tanjung Balai, Sumatera Utara membuat kanal sepanjang 25 km mulai dari Dusun Bukit Kerikil RW 01/RT 010 Desa Bukit Kerikil Kecamatan Bukit Batu menuju kawasan GSKBB. Kanal ini digunakan untuk mengeluarkan kayu dengan menghanyutkannya. Tahun 1999, dibuat lagi kanal oleh cukong lainnya yang masih berkaitan keluarga dengan cukong pertama. Kali ini, kanal yang dibuat dimulai dari Dusun Bagan Benio, Desa Tasik Serai, Kecamatan Pinggir. Dua cukong ini diduga merupakan mafia bawang dan narkoba serta memiliki hubungan yang sangat baik dengan sejumlah oknum petinggi aparat. Makanya hingga kini, keduanya tak pernah tersentuh hukum.

Setelah banyak perusahaan di sekitar GSKBB yang membuka HTI baru serta kebun sawit baru, kanal-kanal lain pun dibuka. Kayu-kayu dari GSKBB itu biasanya dibawa keluar dengan leluasa karena tidak ada aparat yang benar-benar menghalangi mereka. Setelah kayu dibawa dengan truk-truk, atau dihanyutkan lewat kanal-kanal yang sudah dibuat, sisa kayu dan tunggul-tunggulnya dibakar. Inilah yang menyebabkan timbulnya asap yang luar biasa. Kayu itu dijual ke cukong-cukong. Lahan yang telah terbakar kemudian siap dikapling-kapling dan dijual. Harganya bervariasi antara Rp15 juta hingga Rp16 juta per pancang (dua hektare).

Dari sini, kepala desa pun ikut bermain, mulai dari S yang sudah wafat, hingga U, mantan Kades Tasik Serai yang sudah menjalani proses hukum. Para kepala desa inilah yang mengeluarkan surat keterangan tanah (SKT) di lahan baru usai pembakaran itu. Yang menandatangani surat pun lengkap. Ada Ketua RT, Ketua RW hingga kepala dusunnya, dan terakhir kades. Ada yang kemudian punya lahan hanya empat hingga enam hektare. Kebanyakan mereka adalah bekas pekerja yang didatangkan atau buruh. Tapi ada juga yang punya lahan 100, 200, hingga 250 hektare. Bahkan ada yang punya lahan hingga 600 hektare dan 1.500 hektare.

Dari pengakuan beberapa pemilik lahan yang ditangkap Satgas Penanggulangan Bencana Asap ketika itu terungkaplah beberapa nama pemilik lahan. S, seorang tersangka pembakar dan pemilik lahan  menyebut, di GSKBB itu ada lahan Gir seluas 250 hektare, Gul 220 hektare, Nyo 250 hektare, dan Tob 300 hektare. Beberapa di antaranya tinggal di Duri, Pekanbaru, dan ada juga yang di Jakarta. S sendiri mengaku hanya punya lahan 16 hektare saja.


TAK LAGI HUTAN: Sebuah plang bertuliskan kawasan hutan negara Suaka Margasatwa Giam Siak
Kecil (GSK) terpampang di lahan yang tak lagi ada hutannya.



S-lah yang membuka nama Sudigdo. Kegusaran pemerintah ketika itu akibat karhutla yang sudah mengganggu Negeri Jiran membuatnya diburu. Dia pun masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Entah kenapa hanya Sudigdo yang diburu. Sempat melarikan diri, akhirnya dia ditangkap Satgas di Medan. Dia kemudian dibawa ke Pekanbaru untuk diperiksa Denpom TNI AD.

Di hadapan penyidik, Sudigdo pun bernyanyi. Dari pengakuannya diketahui, ada mantan oknum kapolres di Riau yang juga punya lahan luas di lahan konservasi ini. Hal itu tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Serka Sudigdo saat diperiksa Denpom TNI AD. Tak hanya satu, tapi ada dua oknum mantan kapolres yang ikut bermain yang kemudian sudah menjadi jenderal di Jakarta. Tapi sampai sekarang, pengakuan Sudigdo ini tidak pernah diusut. Para oknum jenderal pun aman-aman saja.

Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Made Ali menyebutkan bahwa memang keterlibatan aparat dan bahkan para jenderal sangat kuat pada lahan-lahan yang terbakar. Bahkan hal itu terjadi hingga saat ini.

"Kalau 2015 itu bintang satu, sekarang 2019 ini bintang dua yang main di sana," ujar Made serius.

Apakah GSKBB sepenuhnya aman dari karhutla dan perambahan setelah kejadian 2015? Ternyata tidak. Satelit Terra-Aqua Modis memantau, sepanjang 2019 tercatat, di bentang GSKBB ada 425 titik panas dengan tingkat kepercayaan di bawah 70 persen dan 153 titik lebih 70 persen. Sebagian titik tersebar di konsesi HTI. Ada juga 163 titik kurang 70 persen dan 14 titik lebih 70 persen. Level lebih 70 persen biasanya terindikasi terjadi kebakaran. Artinya, tetap ada kawasan-kawasan yang terbakar di sana. Diduga, para pemain di GSKBB sudah lihai dalam membuka lahan-lahan baru di sana sehingga kebakaran tidak separah empat tahun lalu.

GSKBB merupakan salah satu kawasan gambut terbaik di Riau. Bahkan ada kubah gambut di sini, dengan kedalaman mencapai empat hingga 14 meter. Kubah gambut itu berisi air yang melimpah. Biasanya, kubah gambut itu dikeringkan dahulu dengan membuat kanal-kanal dan dialirkan ke sungai. Setelah kering, gambut akan mudah dibakar. Dalam kondisi normal, musim kering ekstrem pun tak akan mempengaruhi lahan gambut untuk terbakar.

Lalu apakah lahan-lahan yang sudah ditanami sawit itu benar-benar dimusnahkan seperti perintah pengadilan? Hasil penelusuran di lapangan beberapa waktu lalu, masih ada kebun sawit di sana. Ada juga para penjaga yang mengamankan perkebunan di bekas lahan terbakar itu. Termasuk milik Sudigdo. Mereka bahkan memiliki pondokan dan bertahan di sana dengan digaji Rp2 juta per bulan.

Secara terpisah, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono ketika dikonfirmasi mengakui GSKBB terbakar. Namun pihaknya sudah melakukan upaya pemadaman terpadu. BBKSDA Riau melibatkan pemilik konsesi yakni PT Arara Abadi, pemerintah daerah, TNI, dan polri. Luas kebakaran sampai saat ini kurang lebih 90 hektare. Kejadian persisnya berada di Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, dan Desa Bukit Kerikil, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis.

Pihaknya pun sudah melakukan tindakan pada kebun-kebun sawit yang mulai tumbuh dan berkembang di GSK, khususnya. Diakui, di sana masih banyak pondok penjaga sawit milik Sudigdo. BBKSDA Riau, setelah mendapatkan informasi dan menelusuri, akhirnya melakukan perobohan dan pemusnahan pondok perambahan. Sebanyak 20 pondok pun dihancurkan. Dilakukan juga pemusnahan sawit dengan penumbangan dan peracunan.

"Luasnya kurang lebih 50 hektare," jelas Suharyono.

Eksekusi atas lahan yang masuk GSK--walaupun dibantah pihak pengacara Sudigdo, bahwa lahannya di luar GSK-- seluas 300 haktare pun mulai dilakukan. Ada 10 hektare lahan yang sudah ditanami sawit. Kebun sawit itu pun sudah dimusnahkan. Pada areal yang sudah ditanami dan telah dimusnahkan tersebut akan dilakukan kegiatan revegetasi bersama Badan Restorasi Gambut (BRG).  Saat ini telah disusun rancangan teknisnya.

"Adapun penanamannya dianggarkan BRG tahun 2020 seluas 30 hektare," sebut Suharyono.





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com