Susunan Kabinet Bisa Berubah di Menit Akhir

Nasional | Minggu, 20 Oktober 2019 - 09:56 WIB

Susunan Kabinet Bisa Berubah di Menit Akhir
M Qodari (Direktur Eksekutif Indo Barometer)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Penyusunan kabinet diprediksi belum akan rampung dalam waktu dekat. Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari tidak yakin susunan kabinet Jokowi-Ma’ruf segera akan diumumkan setelah pelantikan hari ini. Meskipun Jokowi dalam akun Instagram-nya menyampaikan pesan susunan kabinet sudah rampung.

"Ada tiga pesan tersirat dalam status di instagram Presiden itu. Yaitu, sabar, sabar dan sabar," kata M Qodari dalam diskusi di D’consulate Resto and Lounge, Jakarta Pusat, Sabtu (19/10).

Disampaikan, penyusunan kabinet masih belum klir. Itu seiring dengan kemungkinan diakomodirnya partai-partai di luar koalisi Indonesia kerja (KIK) dalam kabinet. Yaitu Gerindra, Demokrat dan PAN. Menurutnya, ketiga partai tersebut, khususnya Gerindra, ada kemungkinan akan diberi tempat dalam susunan di kabinet periode lima tahun mendatang.

"Karena Pak Jokowi memang berkepentingan membangun koalisi besar. Negara sebesar Indonesia harus dikerjakan bersama-sama," paparnya.

Itulah salah satu yang menyebabkan komposisi kabinet masih akan alot. Setelah pelantikan Senin dan Selasa (21-22/10), Presiden Jokowi akan memastikan lagi komposisi kabinetnya. Bahkan pada menit-menit terakhir komposisi masih mungkin berubah jelang pengumuman komposisi kabinet.  "Jangankan nama menteri, calon wakil presiden pun bisa berubah di menit terakhir," ujarnya.

Meski begitu, Qodari memprediksi publik akan segera mengetahui susunan kabinet periode 2019-2024.

"Prediksi saya dengan berbagai pertimbangan, maksimal Rabu depan (23 Oktober, red) Presiden baru bisa mengumumkan kabinetnya," ucap M Qodari.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio menambahkan gemuknya koalisi yang dibangun Presiden Jokowi bisa bermakna ganda. Di satu sisi menguntungkan presiden dan wapres dalam mengeksekusi kabijakan-kebijakan. Parlemen pun akan memberi jalan tol bagi sejumlah kebijakan pemerintah.

Namun sisi lain, tantangan muncul dalam menjaga keguyuban koalisi. Menurut Hendri, koalisi akan menemui tantangan berat justru mulai tahun ketiga berjalannya kabinet. Saat itu, kata dia, setiap parpol memiliki agenda sendiri-sendiri untuk menghadapi pemilu 2024. "Saya kira tantangan di situ nanti," katanya.

Di sisi lain, dia juga menduga ada agenda besar di balik besarnya koalisi yang terbangun. Kecurigaan itu, ujar dia, muncul saat pertemuan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh. Saat itu, keduanya sepakat untuk melakukan amandemen menyeluruh atas UUD 1945.

Hal itu akan membawa konsekuensi besar. Sebab amandemen menyeluruh berarti terkait dengan hal krusial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk masa jabatan presiden serta tata cara pemilihan presiden.

"Jadi bukan hanya sekadar mengincar kursi kabinet. Tetapi ada agenda besar soal amandemen UUD 1945," katanya.

Politisi PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira optimistis Presiden Jokowi segera menetapkan kabinet setelah pelantikan. Disampaikan, Jokowi jauh lebih leluasa dalam menyusun komposisi kabinet pada jilid II pemerintahannya. Sebab dia telah memiliki pengalaman dalam menyusun kabinet di periode periode pertamanya.

"Jadi sabar saja. Pak Presiden tentu punya kalkulasi sendiri. Tapi saya optimitis kabinet segera ditetapkan," kata Andreas Hugo Pareira.

Terkait komposisi menteri dari parpol, Andreas memastikan PDIP mendapat kursi menteri terbanyak. Nama-nama calon menteri pun sudah disampaikan Megawati ke Jokowi. Itu sesuai permintaan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang disetujui Jokowi dalam Kongres V PDIP di Bali Agustus lalu. Menurut Andreas, sangat wajar PDIP memperoleh kursi menteri terbanyak.

"Sebagai kader hubungan Jokowi dengan PDIP sudah berjalan lama. Sejak menjadi wali kota Solo sampai presiden selalu diusung PDIP," tegas politisi asal Flores, NTT,  itu.(syn/far/dee/han/mar/jpg)





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook