MENELUSURI PENINGGALAN PERANG DUNIA II DI KUANTAN SINGINGI

Jalur Kereta Api Maut Zaman Jepang Tinggalkan Duka

Feature | Sabtu, 19 Oktober 2019 - 10:27 WIB

Jalur Kereta Api Maut Zaman Jepang Tinggalkan Duka
TEROWONGAN: Peneliti Selandia Baru Jammie Vincent Farrel (dua kiri) bersama Ketua Genpi Riau Osvian Putra (kiri) dan Kasubag Destinasi Pariwisata Disparbud Kuansing Nasjuneri Putra (kanan) saat berada di terowongan kedua rel kereta api yang dibangun pada zaman Jepang di pinggiran Sungai Ngawan, Desa Koto Kombu, Hulu Kuantan, Kuansing, Sabtu (12/10/2019).(JUPRISON/RIAU POS)

Peneliti kereta api dari Selandia Baru, Jammie Vincent Farrel menemukan pertemuan rel kereta api tujuan Pekanbaru-Muaro (Sijunjung) yang panjangnya berkisar 220 kilometer. Apa kisah di balik pertemuan rel kereta api terpanjang di Sumatera itu?

 

Laporan JUPRISON, Telukkuantan

TERNYATA dari literasi Jammie Vincent Farrel, pertemuan rel kereta api itu ada di sekitaran kawasan Pintu Batu, pinggiran Sungai Ngawan (anak Sungai Kuantan), Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Singingi (Kuansing). Rel kereta api itu salah satu peninggalan perang dunia kedua yang dibangun dua rute berlawanan. Dibangun dari Muaro Sijunjung menuju Koto Kombu. Dan dari Pekanbaru menuju Koto Kombu.

Kalau dimulai dari Muaro Sijunjung rutenya melewati banyak kampong. Dari Muaro Sijunjung-Koto Kombu-Sungai Ala-Sungai Pinang-Serosa-Logas Singingi-Muara Lembu-Kebun Lado-Petai-Koto Baru Singingi Hilir-Sungai Paku-Tanjung Pauh-Kebun Durian-Lipat Kain dan lanjut menuju Pekanbaru. Rel kereta api ini dimulai pembangunannya sekitar 1942. Di masa perang dunia kedua. Yakni saat Jepang menduduki Indonesia. Jepang memaksa penduduk pribumi dari berbagai suku, termasuk tawanan perang dari sekutu Belanda untuk kerja paksa membangun rel kereta api tersebut.

Saat pembangunan rel kereta ada dua camp para pekerja. Ada di Koto Kombu Hulu Kuantan dan di Petai Singingi Hilir. Jadi, kurun waktu 1942 hingga 1945,  Jammie mencatat ada 80 ribu jiwa yang menjadi korban kerja paksa atau romusha itu. Mereka diduga mati karena kelaparan dan terkena penyakit.

Sehingga sepanjang sungai di kawasan Koto Kombu itu disebut Jammie kawasan maut. Kawasan kerja keras. Karena Jepang ingin menggesa percepatan pembangunan rel kereta api itu guna mengangkut hasil alam, seperti batu bara dan hasil alam lainnya.

Fakta sejarah itu mulai terungkap. Teranyar, ditemukannya dua terowongan serta pertemuan rel kereta api yang dibangun selama pendudukan Jepang. Ada terowongan yang panjangnya lebih dari 100 meter. Dan ada terowongan yang panjangnya sekitar 20 meter.

"Terowongan itu membelah bukit. Dulunya dilalui rel kereta api. Kini hanya terlihat lubang-lubang saja lagi," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kuansing Dr Indra Suandi ST MSi melalui Kasubag Destinasi Pariwisata Disparbud Kuansing, Nasjuneri Putra ST kepada Riau Pos usai meninjau peninggalan perang dunia kedua tersebut, Senin lalu (14/10).

Nasjuneri turut mendampingi Jammie dan pegiat wisata sejarah Riau, Osvian Putra meninjau dari dekat rute rel kereta api tersebut, Sabtu (12/10) lalu. Sebelumnya, rombongan Jammie dan Osvian juga telah melakukan survei tiga bulan. Saat itu, rombongan berangkat dari Serosa ke Koto Kombu. Berangkat dari Desa Lubuk Ambacang dengan perahu. Menelusuri Sungai Kuantan arah ke Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan. Nasjuneri mengakui, kalau masih terlihat badan jalan rel.





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook