BPN Provinsi Riau Ekspos Hasil Integrasi Penyiapan Data LP2B

Pekanbaru | Jumat, 18 Oktober 2019 - 10:28 WIB

BPN Provinsi Riau Ekspos Hasil Integrasi Penyiapan Data LP2B
Pukul Gong : Kepala Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan Provinsi Riau, Ir M Amin MEng (kanan) didampingi Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau M Syahrir, A Ptnh SH MM (dua kanan) memukul gong saat acara Ekspos Hasil Integrasi Penyiapan Data LP2B, Kamis (17/10/2019). (prapti dwi lestari/ riau pos)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Riau, mengadakan Ekspos Hasil Integrasi Penyiapan Data Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) tahun 2019, di Ballroom Siak Prime Park Hotel Pekanbaru, Kamis (17/10).

 

Acara tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau M Syahrir A Ptnh SH MM, dan Gubernur Riau Drs H Syamsuar MSi yang diwakili oleh Kepala Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan Provinsi Riau Ir M Amin MEng.

Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau M Syahrir mengatakan, ekspos hasil integrasi penyiapan data lahan pertanian pangan berkelanjutan ini merupakan pertemuan penting guna memanfaatkan hasil luas lahan baku sawah sehingga dapat menentukan arahan dan strategi pelaksanaan lahan pertanian pangan berkelanjutan.

Tujuan kegiatan ini adalah penyampaian data LP2B untuk memperoleh data areal potensi lahan pertanian pangan berkelanjutan P-LP2B dan data areal potensi lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan P-LCP2B, dan dari hasil integrasi data sawah lahan baku sawah untuk Provinsi Riau disepakati seluas 64.076.217 hektare.

Kegiatan ini juga berupaya dalam mewujudkan kesejahteraan petani berkelanjutan, apalagi saat ini Riau tengah menghadapi tantangan berupa ketimpangan penguasaan pemilikan penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). Dan diketahui juga, beberapa dari masyarakat yang mengupayakan kegiatan bercocok tanam sawah merupakan petani yang menyewa lahan bukan petani yang memiliki tanah penyusutan luas penggunaan tanah sawah terutama sawah irigasi teknis menyebabkan terjadinya kerugian materi atau investasi yang cukup besar, terutama tidak berfungsinya sarana prasarana yang dibangun masa lalu dan menyebabkan terjadinya instabilitas di bidang pangan.

Penyusutan luas tanah pertanian sawah terjadi akibat perubahan penggunaan tanah pertanian menjadi non pertanian seperti hunian permukiman industri jasa dan lain-lain karena itu tuntutan perekonomian masyarakat menjual tanahnya kemudian masyarakat juga menyewa di atas tanah yang telah dijual untuk bercocok tanam demi mencukupi keperluan sehari-hari.

"Itu sebabnya kami berharap dengan adanya ekspos hasil integrasi penyiapan data lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) dapat menghasilkan kesimpulan yang dapat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat di Provinsi Riau," harapnya.

Kepala Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan Provinsi Riau Ir M Amin MEng mewakili Gubernur Riau Drs H Syamsuar M Si mengatakan, dalam rangka pelaksanaan Kegiatan LP2B, terdapat dua tantangan utama di bidang pertanian yang dihadapi di Indonesia saat ini, yaitu maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian, serta permasalahan kesejahteraan petani, di mana 55,5 persen rumah tangga petani di Indonesia merupakan petani gurem, yang mempunyai lahan kurang dari 0,25 Ha.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan petani berkelanjutan menghadapi tantangan berupa ketimpangan P4T.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah saling bersinergi, menyatukan persepsi dan berkomitmen dalam dalam penyiapan data LP2B 2019 tingkat provinsi," tegasnya.(ayi/c)





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook