Nafiri, Alat Musik Penobatan

3 Agustus 2014 - 08.03 WIB > Dibaca 7868 kali | Komentar
 
Nafiri, Alat Musik Penobatan
Pembuat nafiri asal Bengkalis Buchari sedang meniup nafiri atau serunai buatannya sendiri di teras rumahnya. Foto: Fedli Azis/*6/Riau Pos
Nafiri satu dari sekian banyak alat musik tiup, layaknya seruling. Bentuk awalnya terbuat dari perak dan ukurannya kira-kira sepanjang 32 inci atau 33 cm. Bunyinya yang memekik, terdengar sayup-sayup sampai.

Laporan FEDLI AZIS, Bengkalis

MASA dahulu, alat musik tiup yang keberadaannya turut menambah jenis alat musik Melayu di Riau ini dimainkan dan dipergunakan sebagai musik penobatan, dalam majelis dan hiburan kaum kerabat kerajaan. Seperti misalnya, adat-istiadat istana, penabalan, hari keputeraan sultan, perkawinan raja, sambutan raja dan sebagai penobatan raja.

Dalam pertunjukannya, nafiri tidak berdiri sendiri. Ada musik lainnya yang ikut menengkah seperti dua buah gendang panjang dan satu buah gong. Oleh karenanya, di Kabupaten Bengkalis disebutkan dengan musik Gendang Nafiri.

Seiring berkembangan zaman, musik gendang nafiri tidak lagi dimainkan sebagaimana lazimnya di zaman dahulu tetapi saat ini, musik gendang nafiri dipergunakan warga untuk keperluan acara nikah kawin seperti untuk pengantin berinai, berarak silat, tepuk tepung tawar dan acara pengantin mandi yang biasanya disebut mandi taman atau mandi damai.

Alat-alat musik gendang nafiri merupakan alat musik tradisional. Tidak banyak yang dapat kita jumpai orang-orang yang ahli dalam membuat alat musik tradisional tersebut. Hal itu disebabkan tidak mudah untuk membuat alat-alat musik tersebut. di samping itu, tentu saja peminat dari memainkan alat musik tradisonal itu tidaklah ramai. Hanya orang-orang tertentu saja dan kebanyakan adalah orang-orang tua.

Riau Pos berkesempatan bertemu dengan salah seorang pembuat nafiri yang bernama Buchari. Lelaki yang lahir 5 Febuari 1961 itu tinggal di jalan Kelapapati Laut Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis. Kari nama panggilan di kampungnya itu, tidak menyangka kedatangn Riau Pos dan mengaku terkejut ketika disambangi di rumahnya. Masih dengan berkembang kain, dia mempersilakan duduk di teras rumah yang letaknya hanya sekitar 100 meter dari laut.

Membuka cerita, Kari mengatakan secara umum Nafiri termasuk dalam jenis alat musik sunai atau serunai. Namun di kalangan orang Melayu, sering digunakan kata suling atau seruling.

Zaman kerajaan dahulu, suling nafiri ini terbuat dari perak bahkan ada yang dari emas. Sepengatahuan Kari dari cerita-cerita orang tua, alat musik Nafiri, dulunya di sebut Bajang yang memiliki lubang tiga. Bajang ini tidak hanya digunakan untuk alat musik akan tetapi juga digunakan sebagai senjata oleh orang-orang dahulu karena kekuatan Bajang tersebut, apabila di arahkan ke dinding tembok maka dinding tersebut akan pecah. Entah betul atau tidak cerita itu, allahualam. Tetapi itulah cerita yang saya dapatkan dari orang-orang tua, jelas Kari.

Kari juga mengaku bahwa dia bukanlah seorang yang ahli dalam membuat suling nafiri ini. Karena menurut lelaki yang semula mengaku tidak memiliki darah seni itu, kepandaiannya dalam membuat nafiri atas permintaan kawannya yang pandai bermain Nafiri. Desakan kawannya itu pun beralasan karena sehari-hari Kari dikenal sebagai seorang pengrajin. Mantan ABK kapal layar itu selalu mendapat pesanan dari orang untuk membuat kerajinan-kerajinan seperti bakul, keranjang dan lain-lain. Bahkan Kari juga dikenal warga Bengkalis sebagai orang yang paham membuat properti atau alat-alat untuk keperluan tradisi mandi taman.

Tahun 2006, akhirnya Kari mencoba untuk membuat nafiri. Dia memulainya tidak langsung membuat tetapi dengan cara belajar bagaimana memainkan alat musik nafiri terlebih dahulu. Ternyata tidak seperti yang dibayangkan, butuh berbulan-bulan Kari belajar memainkan alat musik nafiri tersebut. Latihan yang pertama itu adalah tarik nafas. Agak lama memang, karena mengatur untuk mengambil atau nyambung nafas itu yang susah agar tidak putus tiupnya. Nyambung nafas itu betullah yang lama. Singat saya, sebulan penuh saya tak ada kerja lain, sudah hampir putus asa, rasa nak dibelah nafiri yang ditangan. Tapi begitu dapat, siang malam ninting, sampai-sampai muntah darah. Pertama keluar darah berkeping-keping macam asam keping, mungkin karena dipaksa itu. Sebab saya ingat betul, saya mulai belajar awal puasa tahun 2006, dapatnya sekitar malam 27 malam puasa, bahkan sempat demam, kenang Kari sembari menambahkan setelah bisa mengatur nafas, barulah belajar lagu yang biasanya digunakan lagu-lagu dalam maulud dan berzanji.

Setelah menguasai bagaimana bermain nafiri, barulah kemudian Kari belajar membuatnya. Seperti halnya belajar memainkan, begitu juga suah membuatnya. Kata Kari kalau ada orang yang mengatakan membuat nafiri itu mudah, itu salah besar. Memang kalau nampak yang sudah siap, seperti senang tapi pengerjaannya susah, kata Kari.

Sejak 2006, Kari sudah menghasilkan karya alat musik nafirinya sekitar 40 lebih. Sebuah angka yang menurut Kari tidak banyak. Karena memang tak banyak yang pesan sebab meniup nafiri itu memang tidak mudah. Di samping itu, daya tahan nafiri ini sangat lama. Bisa mencapai 10 tahun lebih. Yang namanya kayu, selagi tidak dibiarkan basah dan kena panas, pastilah akan tahan. Tergantung cara memakai dan merawatnya saja lagi, terang Kari.

Untuk harga jual satu nafiri, selalunya Kari tidak meletakkan harga pasti. Hanya saja selama ini, selalu saja orang yang memesan membelinya seharga Rp. 1. 000.000, bahkan ada juga yang memberi lebih. Sejauh ini, nafirinya selalu dipesan oleh orang-orang seni dari Dumai, Siak dan Pekanbaru serta Bengkalis. Pernah suatu ketika Kari mendapat orderan cukup banyak, sekitar 9 buah. Seingat Kari yang memesan itu adalah kampus Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Kalau yang pesan sebanyak itu, saya kira agak murahlah. Kalau tak salah, satu nafiri seharga Rp. 900.000. Tetapi yang menggembirakan hati, nafiri itu untuk pembelajaran mahasiswa di kampus seni itu.  Dalam hati saya, ada jugalah yang nantinya mewarisi pemain alat musik nafiri ini, kata Kari lagi. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 11 Desember 2018 - 09:30 wib

Sabu-sabu Disimpan dalam Kotak Rokok

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:25 wib

Curi Sepeda Motor, Pria Pengangguran Dibekuk

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:06 wib

Ruangan Rektor UMRI Disegel IMM

Selasa, 11 Desember 2018 - 09:00 wib

Fisik RSD Madani Hampir 90 Persen

Senin, 10 Desember 2018 - 20:23 wib

Pekerja Berhak Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

Senin, 10 Desember 2018 - 20:20 wib

Telkomsel Gandeng eFishery dan Japfa Hadirkan Kampung Perikanan Digital Di Indramayu

Senin, 10 Desember 2018 - 19:26 wib

Satker PBL Riau Laksanakan Workshop Simulasi SIMBG

Senin, 10 Desember 2018 - 15:02 wib

KTP-el Tercecer Lagi, Langsung Muncul Desakan Audit

Follow Us