Eksodus Pendatang Pengaruhi Pemulihan Wamena

Nasional | Rabu, 02 Oktober 2019 - 11:19 WIB

WAMENA (RIAUPOS.CO) - Di antara gelombang besar eksodus masyarakat, perlu kerja keras memulihkan Wamena seperti semula. Meski geliat ekonomi mulai tampak, belum sepenuhnya aktivitas berjalan normal.

Sampai kemarin (1/10) masyarakat lebih banyak beraktivitas di sekitar markas TNI dan Polri saja. Di luar itu, belum banyak yang berani. Pasar tradisional masih sepi, pertokoan tutup, sekolah libur, perkantoran juga tidak semua buka.

Apalagi daerah yang di sasar massa kerusuhan Senin lalu (23/9). Hanya sedikit masyarakat beraktivitas di sana. Pantauan JPG, gedung maupun bangunan yang hangus dibakar belum satu pun dibenahi. Pada beberapa titik masih tampak bangkai kendaraan roda dua maupun roda empat berserakan. Bahkan, kantor bupati yang tidak lepas dari amuk massa juga belum mulai dibenahi.

Daerah Hom-Hom misalnya, walau tidak terlalu jauh dari kota, namun masih sepi. Aroma bekas bangunan terbakar sedikit banyak masih tercium. Lantaran jadi salah satu lokasi sasaran massa, aparat keamanan di sana tidak sekadar berjaga di perempatan jalan. Mereka membangun benteng dari tumpukan ban bekas. Terus siaga dengan senjata terisi amunisi. Yang berpatroli pun demikian.

Komandan Kodim 1702/Jayawawijaya Letkol Infanteri Candra Dianto tidak menapik ketika ditanya perihal kondisi tersebut. Walau perlahan kondusif, jalanan di Wamena masih sepi. ”Belum ada aktivitas baik itu para pekerja pemerintahan maupun pekerja perkantoran lainnya,” ungkap dia ketika diwawancarai JPG. Sekolah yang sudah diimbau untuk membuka kembali kelas belum juga beraktivitas.

Sebabnya banyak tenaga pengajar mengungsi. Tidak sedikit di antara mereka juga memilih keluar dari Wamena. ”Kemudian anak-anak yang mau berangkat sekolah juga pasti orang tuanya ada rasa risau atau khawatir,” kata Candra. Karena itu, pihaknya berusaha sebaik mungkin mengoptimalkan pasukan untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat. ”Hampir seluruh Kota Wamena kami jaga,” tegas dia.

Khususnya daerah yang menjadi pusat perekonomian masyarakat. Jalan Irian adalah salah satu contoh. Walau belum semua, namun ruko-ruko sudah mulai buka. Pedagang dari pasar tradisional juga banyak yang memilih menggelar dagangan di sana. Mereka menjual sayur, buah, dan bahan makanan lain. Selain pusat perekonomian, jalan itu juga dekat dengan Mapolres Jayawijaya. Geliat itu diharapkan terus menular. Sehingga pelan-pelan Wamena pulih.

Apabila tidak demikian, pemulihan Wamena bisa berjalan lambat. ”Tapi, mudah-mudahan ini kami harapkan segera berangsur pulih dan aktivitas di Wamena bisa kembali normal,” ucap perwira menengah TNI AD dengan dua kembang di pundak itu. Di samping gelombang besar eksodus masyarakat, masalah lain adalah peredaran hoaks. Untuk itu, TNI menekankan kembali supaya masyarakat percaya kepada aparat keamanan.

Candra menyatakan bahwa pihaknya bersama Polri berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keamanan. ”Sehingga saya berharap juga kepada masyarakat untuk tenang saja, jangan khawatir. Janga mudah terhasut,” ungkap dia. Jangan pula semua masyarakat eksodus. ”Kalau masyarakat eksodus (semua) mengungsi, maka kota ini akan jadi kota mati. Lumpuh ekonomi, lumpuh semuanya,” terang dia.

Namun demikian, gelombang eksodus itu sulit dibendung. Aparat juga tidak bisa memaksa masyarakat tetap bertahan di Wamena. Karena itu, layanan Hercules gratis menuju Jayapura dan kota lain di luar Pegunungan Tengah masih ada.(syn/idr/wan/deb/mia/jpg)





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU




PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com