Makin Sesak Bernapas, Jeritan Warga karena Terus Hirup Asap

Pekanbaru | Kamis, 19 September 2019 - 16:15 WIB

Makin Sesak Bernapas, Jeritan Warga karena Terus Hirup Asap
Rentina, warga Pekanbaru yang harus mendapatkan perawatan di rumah singgah yang disediakan Pemko Pekanbaru. (ALI NURMAN/RIAUPOS.CO)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap di Kota Pekanbaru, Kamis (19/8), terasa lebih pekat dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Bahkan pantauan di situs BMKG, PM 10 sudah menyentuh kualitas berbahaya. Warga mengeluhkan sudah tak tahan dan tak lagi bisa menolerir udara kotor akibat asap kebakaran hutan dan lahan yang dihirup.

Riau Pos menjumpai salah atau warga yang sedang mendapatkan pengobatan di Rumah Singgah yang ada di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pekanbaru, Kamis (19/8). Rentina, nama pasien perempuan itu tampak tersandar di sofa yang ada di sana. Selang oksigen terpasang dihidungnya.

Dia terlihat lemas, kepada Riau Pos, dia mengaku sedang membawa sepeda motor sendiri siang tadi. Tiba-tiba dia merasakan badannya limbung dan hampir pingsan. ’’Jalan bawa motor sendiri tiba-tiba lemas, sama petugas bagian depan disuruh ke sini (rumah singgah, red) langsung. Sekarang sudah mendingan,’’ kata warga Jalan Satria itu dengan selang yang masih terpasang di hidung.

Lebih lanjut diungkapkannya, kualitas udara Kamis ini dirasakannya buruk, lebih pekat ketimbang kemarin. ’’Hari ini udara sangat-sangat parah. Hari ini lebih parah, sudah tak bisa ditahan lagi,’’ keluhnya.

Rumah singgah yang ada di MPP Pekanbaru, satu dari 22 rumah singgah yang disiapkan Pemko Pekanbaru bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pengobatan segera atau sekadar beristirahat. Kamis tadi ada sekitar 23 orang yang datang dengan berbagai keluhan. ’’Hari ini lebih banyak pasiennya, dari hari kemarin. Sekitar 23 orang hari ini,’’ kata dr Ismayati Maharani.

Dokter Ismayati, dokter yang ditugaskan dari RS Ibnu Sina mengatakan, mereka tiap dua hari sekali berganti tempat. ’’Per dua hari di-rolling. Ini hari kedua. Keluhan masyarakat yang datang itu sesak napas, badan lemas, kepala pusing, tapi tidak ada yang pingsan dan rawat inap. Masyarakat yang datang itu mengeluh udara sudah mulai tidak bisa ditolerir lagi,’’ tutupnya.

Laporan Ali Nurman
Editor: Deslina
 




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook