Setelah 4 Tahun, Warga Riau Kembali Surati PBB Terkait Asap

Riau | Kamis, 12 September 2019 - 14:42 WIB

Setelah 4 Tahun, Warga Riau Kembali Surati PBB Terkait Asap
RIAUPOS

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Udara di Riau terus memburuk. Bahkan pada Kamis (12/9/2019) kualitas udara di bumi lancang kuning merata pada level berbahaya. Kondisi serupa pernah terjadi pada 2015 silam. Empat tahun berlalu, kini warga Riau kembali bakal mengadukan nasib kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Setelah 2015 silam, seorang warga negara Indonesia asal Pekanbaru, Riau menyurati langsung Sekjen PBB ketika itu karena pembakaran hutan dan lahan secara masiv. Kini, perempuan bernama Dr Hj Sri Mulyani Kadir Abbas tersebut kembali bakal mengirim surat serupa.

"Surat tersebut (2015 lalu, red), akan saya kirim ulang," ungkapnya kepada Riau Pos kamis siang.

Surat terbuka yang dibuat dosen UIR tersebut sebagai bentuk pengaduan atas nasibnya secara pribadi dan jutaan masyarakat Riau. Serta jutaan lainnya warga kalimantan yang juga terdampak kabut asap pekat akibat karhutla.

"Ini mau direvisi sedikit, dalam pekan ini akan saya kirim lagi," tegasnya.

Empat tahun lalu, Sri Mulyani mengirimkan surat terbuka kepada Sekretaris Jendral PBB tentang Keprihatinan Kabut Asap. Intinya Ia berharap pemimpin dunia dapat menyelamatkan jutaan masyarakat Riau atas bencana kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi. Surat terbuka ini juga diteruskan kepada Presiden Joko Widodo dan Pemda Provinsi Riau.

Berikut kutipan surat terbuka yang disampaikannya dalam bahasa Indonesia ketika itu.

Yang Terhormat Sekretaris Jendral PBB, Perkenalkan, nama saya Dr Sri Wahyuni  Kadir Abbas, seorang dosen di fakultas Hukum Universitas Islam Riau. Universitas swasta yang letaknya di Pulau Sumatra, provinsi Riau, usia saya 46 tahun, seorang ibu dengan 4 anak, tinggal di Pekanbaru, provinsi Riau, Indonesia.

Saya menulis surat ini, tentang suara hati rakyat yang terkena kabut asap, penduduk Pekanbaru, seorang warganegara Indonesia dan warga dunia. Sebenarnya, tentulah masalah peperangan dan kelaparan dunia menjadi pusat perhatian Badan UN saat ini, akan tetapi, kami juga warga dunia yang membutuhkan udara bersih dimana udara adalah sumber kehidupan itu sendiri, sedangkan itu tidak kami dapatkan selama saat ini.

Usaha teman-teman warga masyarakat Riau dan daerah yang terkena asap di segala lapis seperti demonstrasi sudah dilakukan walau belum menampakkan hasil. Dan saya juga tidak menutup mata akan usaha pemerintah dan pemimpin kami untuk menyelesaikan kabut asap ini walau tertatih tatih dan lambat sekali. Memang tidak segampang yang bisa kami bayangkan, dan sampai saat ini, kami masih berharap, pemerintah akan berusaha membantu kami mendapatkan udara bersih sesuai dengan amanat rakyat yang dituangkan dalam Undang Undang Dasar kami.

Akan tetapi, sampai saat ini, kabut asap semakin pekat dan sangat membahayakan. Saya secara pribadi, memikirkan lama sekali untuk menulis dan melayangkan surat ini ke anda.

Saya coba untuk membaca ulang, dan berusaha menuliskan sesuai dengan data berita internasional yang saya baca dan pahami. (Sri melampirkan kiriman berita-berita internasional di intenet. Mulai dari situs aljazeera, straitstime dan lainnya).

Dan akhirnya, bila surat ini terlayangkan dengan 3 bahasa yang saya kuasai itu, itu adalah selemah lemahnya usaha saya yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Maafkan surat saya ini.

Kabut asap yang terjadi saat ini melanda di wilayah Indonesia terutama di Riau dimana saya tinggal dan 4 juta warga Riau yang tinggal dan hidup. Serta di sebagian besar Pulau Sumatra seperti Jambi, Palembang dan sebagian besar pulau Kalimantan. Yang kalau di jumlahkan maka jumlah penduduk yang terkena dampak kabut asap adalah hampir sepertiga dari penduduk Indonesia yang 250 juta jiwa.

Kami mulai apatis menunggu, kapan kami bisa terbebas dari kabut asap ini, dan sikap apatis itu juga melanda rakyat negeri ini khususnya di wilayah yang terkena kabut asap, apatis akan nasib udara yang kami hirup, dimana udara adalah sumber utama kehidupan, akan nasib anak anak kami yang tidak sekolah, akan nasib kesehatan anak anak kami untuk 20 tahun yang akan datang.





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook