Cuaca Kering Ekstrem

Advertorial | Minggu, 08 September 2019 - 09:49 WIB

Cuaca Kering Ekstrem
KABUT ASAP TEBAL: Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan, Sabtu (7/9/2019). Foto diambil dari atas ketinggian apartemen The Peak.MHD AKHWAN/RIAUPOS

BAGIKAN


BACA JUGA

(RIAUPOS.CO) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta kepada masyarakat untuk terus mewaspadai sebaran asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di wilayah Indonesia, khususnya Sumatera dan Kalimantan.

Kepala BPBD Riau Edwar Sanger pun mengakui cuaca kering ekstrem membuat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan sulit dilakukan. Bahkan, membuat hujan buatan pun sulit . “Untuk teknologi modifikasi cuaca saat ini belum bisa dilakukan karena tidak ada awan potensial. Cadangan NaCl (garam) sebanyak 7.200 kg,” katanya.

Berdasarkan hasil pemantauan citra Satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, NOAA-20, dan Satelit Himawari-8 (JMA) selama 10 hari terakhir (27 Agustus-5 September 2019) BMKG telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 3.649 titik panas dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Kepala Bagian Humas BMKG Taufan Maulana mengungkapkan, hasil monitoring BMKG, terdapat juga jumlah titik panas di berbagai wilayah ASEAN dengan tren naik. Terpantau mulai tanggal 27 Agustus 2019 sebanyak 95 titik naik menjadi 266 titik pada tanggal 30 Agustus 2019. Kemudian meningkat lagi menjadi 381 titik pada 1 September 2019 dan kembali naik menjadi 787 titik pada 4 September 2019.

“Lokasi dari titik panas tersebut di antaranya berada di wilayah Indonesia (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan), juga terdeteksi di Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, dan Timor Leste,” jelas Taufan kemarin (7/9).

Taufan mengatakan, berdasarkan pantauan kondisi atmosfer terkini, kondisi massa udara di atas wilayah Indonesia masih relatif kering sehingga menyebabkan berkurangnya potensi hujan di wilayah yang dilewati.

Meningkatnya hot spot secara mendadak juga jadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pasalnya, sejumlah daerah harusnya sudah memasuki masa penghujan pada awal September. Artinya, hot spot bisa ditekan.

”September harusnya turun (hot spot, red). Ini imbas perubahan iklim. Jadi tak bisa ditebak,” tutur Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung KLHK Hudoyo ditemui usai diskusi Kentongan Tanggap Bencana, di Jakarta, kemarin (7/9).

Menghadapi situasi ini, tim Manggala Agni sudah diturunkan untuk bertarung memadamkan api. Meski diakuinya banyak kendala yang ditemukan di lapangan. Selain persoalan jenis tanah, cuaca kering ekstrem turut berkontribusi membuat tanaman lebih mudah terbakar. ”Apalagi lahan gambut ini kan susah sekali dipadamkan,” paparnya.

Moratorium penggunaan lahan gambut dipilih menjadi salah satu upaya menekan kebakaran hutan yang menahun di Indonesia. Tercatat, 5 juta hektare lahan yang kini sedang direstorasi. Hudoto mengklaim, cara tersebut sukses mengurangi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan dibanding tahun 2015 lalu. Meski, fakta di lapangan tak demikian. Dampaknya kebakaran hutan masih menyiksa masyarakat setempat. ”Pasti terjadi, karena sedang kemarau panjang. Tapi tidak semasif 2015,” elaknya.

Upaya preventif lainnya juga terus digalakkan. Edukasi dan sosialisasi pada masyarakat untuk tidak membakar lahan semakin digenjot. Mengingat, kata dia, sebagian besar kasus kebakaran hutan dan lahan berawal dari ulah manusia, salah satunya upaya buka lahan dengan cara membakar. Pihaknya pun berupaya menggandeng Kementerian Pertanian untuk bisa mengedukasi warga terkait hal tersebut.

Kebakaran di Batin Solapan Berlanjut


Kebakaran lahan (Karla) gambut semak belukar milik masyarakat dan milik PT Chevron, Kecamatan Batin Solapan hingga kini terus terjadi.  Untuk kebakaran di pinggir jalan PT Chevron 8k24z/ Area 10 RT 03/RW 05 Desa Bumbung, sudah memasuki hari keempat kejadian kebakaran. “Kebakaran lahan tujuh hektare ini sudah memasuki hari keempat. Kebakaran terjadi sejak, Rabu kemarin. Sekarang tim terus berjibaku memadamkan api,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bengkalis H Tajul Mudarris.

Dikatakan dia, upaya pemadaman api telah diturunkan satu unit mobil dalmas damkar, satu unit mobil dalmas polisi, dua unit mobil double cabin dari sekuriti PT Chevron. “Saat ini petugas masih berupaya melakukan pamadaman dan pendinginan agar api tidak membesar dan meluas,” jelasnya, Sabtu (7/9).


Di Kecamatan Bengkalis juga terjadi kebakaran lahan masyarakat seluas 60 meter persegi. Kebakaran  lahan masyarakat atau tanah gambut ini terjadi di Jalan Antara Gang Abdul Somad RT 03 RW 05 Desa Wonosari Barat.

 





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU