Kurang Pemain, Juara Bertahan Malah Mundur dari IBL 2019/2020

Olahraga | Sabtu, 17 Agustus 2019 - 22:05 WIB

Kurang Pemain, Juara Bertahan Malah Mundur dari IBL 2019/2020
KENANGAN INDAH: Stapac Jakarta saat menjadi juara IBL 2018/2019. Mereka menundukkan Satria Muda Pertamina pada game kedua, Sabtu (23/3). (dok JawaPos.com )

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Stapac Jakarta membuat keputusan mengejutkan. Juara IBL 2018/2019 itu mengajukan pengunduran diri dari kompetisi musim depan. Tim yang dulu bernama Aspac tersebut mengirimkan surat pengunduran diri kepada IBL Indonesia kemarin (16/8).

Dalam suratnya, manajemen Stapac menyatakan tidak siap terjun di IBL 2019/2020. Penyebabnya, para pemain kunci mereka direkrut PP Perbasi untuk mengikuti pelatnas. Mereka diperkirakan bakal berada di pelatnas antara dua sampai empat tahun. Sementara itu, manajemen belum berhasil mencari ganti mereka.

“Sebetulnya bukan menyatakan mengundurkan diri tapi ingin tanya kejelasannya,” jelas manajer Stapac Jugianto Kuntardjo ketika dihubungi kemarin. ”Saat meeting bulan lalu kami sudah tanya kapan (pemain timnas) ditetapkan. Tetapi nggak di-follow up sama mereka,” lanjut dia.

Meeting yang dimaksud Jugianto adalah pertemuan antara PP Perbasi, IBL, dan para pemilik klub pada 17 Juli lalu. Saat itu, mereka membahas program panjang timnas putra menuju FIBA World Cup 2023. Banyak event yang harus diikuti, sehingga pemain timnas tidak bisa leluasa membela klub mereka di kompetisi domestik.

”Kami sudah minta waktu sampai 15 Agustus. Tapi belum ada kabar. Tim kan perlu persiapan untuk pelatih, pemain, dan sebagainya,” papar Jugianto.

Saat ini ada enam pemain Stapac yang masuk seleksi timnas. Mereka adalah Widyantaputra Teja, Mei Joni, Abraham Damar Grahita, Kaleb Ramot Gemilang, Agassi Yeshe Goantara, dan Vincent Rivaldi Kosasih. Mereka masuk dalam deretan pemain kunci Stapac saat merebut gelar musim lalu.

Komisaris Utama IBL Hasan Gozali membenarkan bahwa Stapac menyerahkan surat pengunduran diri. “Jadi mereka merasa percuma. Sudah bayar pelatih mahal-mahal, tapi pemainnya nggak ada,” kata Hasan. Dia menambahkan, keputusan itu belum final. Dia optimistis, bisa membuat tim milik Irawan Haryono itu berubah pikiran. ”Semua ini belum fixed kok,” jelas Hasan.

Di sisi lain, manajer timnas Maulana Fareza Tamrella menganggap bahwa permasalahan ini hanya disebabkan oleh komunikasi yang belum jelas. Dia berharap, klub tidak mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Sebab, timnas juga masih menyeleksi pemain. Awal Agustus lalu, pelatih Rajko Toroman masih mengadakan seleknas. Lalu, dia juga masih memantau performa para pemain dalam sebuah kejuaraan di Medan pekan lalu.

“Menurut informasi yang diterima, liga dan klub akan meeting akhir bulan ini. Mungkin di situ akan dijabarkan lebih lanjut,” kata Mocha, sapaan akrabnya. “Kalau saya berharap, klub tetap sama, tidak ada yang mundur. Kami hanya menyampaikan agenda yang belum disampaikan. Ini bisa dibicarakan lagi,” imbuhnya.

Jika Stapac benar-benar mundur dari IBL, ini adalah sejarah. Setahun sejak didirikan pada 1986, klub tersebut tidak pernah absen dari kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Bersama Satria Muda, rivalitas klasik mereka selalu ditunggu fans basket nasional. Mereka sudah mengumpulkan tiga gelar Kobatama, dua gelar IBL, dan back-to-back juara NBL pada 2012 dan 2013.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Erizal 

 





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU