Shinta Temukan Obat Senyawa Baru dari Jamur

Pekanbaru | Kamis, 18 Juli 2019 - 12:10 WIB

Shinta Temukan Obat Senyawa Baru dari Jamur
FOTO BERSAMA: Dosen STIKES Perintis Padang Dewi Yudiana Shinta foto bersama dengan dosen penguji usai ujian promosi Doktor mahasiswa S3 Prodi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Riau (PPs Unri), Selasa (16/7/2019). (SYAHRUL MUKHLIS/RIAU POS)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Program Pascasarjana Universitas Riau (PPs Unri) melaksanakan ujian promosi Doktor Mahasiswa S3 Prodi Ilmu Lingkungan atas nama Dewi Yudiana Shinta yang akrab dipanggil Shinta di Gedung Serbaguna PPs Unri, Selasa (16/7).

Dalam ujian promosi doktor yang dipimpin Direktur PPs Unri Prof Dr Ir Thamrin MSc ini, Shinta mempresentasikan disertasi dengan judul Optimalisasi Produksi Penentuan Struktur dan Uji Bioaktifitas Senyawa Metabolit Sekunder Jamur Endofit Sporothrix sp Strain Lokal.

Disertasi Dosen STIKes Perintis Padang ini diuji oleh Prof Saryono MSi, Dr Yusmarini MP, Dr Hilwan Yuda Taruna MSi Apt, Dr dr Dedi Afandi DFM SpF DBE, Prof Dr Ir Feliatra DEA, Prof Dr Ir Thamrin MSc dan penguji eksternal Dr Ardinis Arbain MS yang berasal dari Universitas Andalas Padang.  

Shinta memaparkan hasil dari penelitian disertasinya yaitu menemukan senyawa obat baru yang diproduksi dari jamur endofit Sporothrix sp yang diisolasi dari Umbi Dahlia (Dahlia variabilis).

‘’Penelitian ini bertujuan untuk menemukan sumber bahan baku obat anti mikroba baru yang alami, efektif dan tidak resisten dengan menganalisis aspek ekologi, ekonomi dan sosial lingkungan,’’ ujar Shinta. Hasil disertasi ini melahirkan 1 paten sederhana, 2 publikasi di jurnal internasional terindek scopus dan 1 artikel di prosiding internasional terindek.

Shinta  dosen tetap STIKES Perintis Padang ini juga mengatakan, infeksi jamur dapat disebabkan dari faktor lingkungan dan higiene buruk seperti Candida Albicans yang menyebabkan beberapa penyakit yaitu penyakit infeksi mulut dan keputihan pada wanita. Banyak pengobatan penyakit yang disebabkan oleh jamur C. Albicans tidak berhasil karena terjadinya resisten dan bersifat hepatotoksik. Pemakaian antimikroba yang tidak mengikuti aturan menyebabkan terjadi resistensi.

‘’Resistensi antimikroba ini memerlukan adanya penemuan obat baru yang lebih efektif dengan toksisitas rendah. Salah satu upaya dalam memenuhi keperluan obat dan mengatasi resistensi obat tersebut dengan mencari dan memproduksi obat baru dari berbagai sumber baik tumbuhan maupun mikroba yang menjadi latar belakang dari penelitian disertasi ini,’’ kata Shinta.(rul/c)

Editor: Eko Faizin
 




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook